Pages

Hasil Riset Filter Rokok diduga mengandung darah Babi?

Seorang peneliti di Australia melansir penelitian mengenai rokok yang diduga mengandung darah babi. Kandungan babi yang diharamkan umat Islam ini ditemukan di filter rokok. Profesor di bidang Kesehatan Publik, Universitas Sydney, Simon Chapman, menunjuk pada riset terbaru yang mengidentifikasi 185 penggunaan bagian dari babi, termasuk dalam pembuatan filter rokok. Penemuan ini, kata Chapman kepada News.com.au, bisa berdampak pada kelompok Islam dan Yahudi.
“Komunitas Yahudi jelas akan menilai masalah ini sangat serius dan komunitas Islam akan menilainya sangat mengganggu,” kata Chapman, Rabu 31 Maret 2010.
Penemuan ini, kata Chapman, membuka bobrok industri rokok yang tidak diwajibkan mencantumkan komposisi dalam rokok. “Mereka mengatakan, “ini bisnis kami dan sebuah rahasia dagang”.”
Darah babi ini, kata Chapman, setidaknya ditemukan di satu mereka rokok dijual di Yunani. Darah babi dipastikan dipakai dalam pembuatan rokoknya.
Hasil Riset di Belanda

Sebuah Riset Belanda menemukan darah babi ini dipakai untuk membuat filter lebih efektif menangkap kimia berbahaya sebelum asap masuk ke tenggorokan. Artinya, temuan ini jelas tak berlaku untuk rokok yang tidak menggunakan filter.
Penemuan penggunaan darah babi dalam pembuatan filter rokok ditemukan peneliti Belanda, Christien Meindertsma, secara tak sengaja. Perempuan ini sebenarnya sedang meneliti seekor babi berkode “Pig 05049″ di sebuah peternakan di Belanda.
Di laman pribadinya, Meindertsma menyatakan telah meriset selama tiga tahun semua produk yang dihasilkan dari seekor babi tersebut. Hasil riset itu kemudian dibukukan, lengkap dengan grafik dan gambar produk, kemudian dipamerkan dalam sebuah pameran.
Tujuannya sederhana, menunjukkan pada orang bagaimana sebuah produk dibuat dan “dibungkus” dan dari mana dia berasal, sehingga orang bisa tahu. Untuk menunjukkan itu, Meindertsma mendekati subjek ke skala satu ekor binatang yang dalam hal ini seekor babi bernama “Pig 05049.”
Setelah kematian babi tersebut, jasadnya dikapalkan dalam beberapa bagian ke penjuru dunia. Beberapa bagiannya tetap dalam bentuk dan fungsi aslinya (sebagai daging), sebagian lagi berubah secara dramatis.
Meindertsma mengikuti produk itu, mulai dari perusahaan yang menangani hewan mati sampai ke perusahaan kecil yang memproduksi sesuatu menggunakan bagian dari jasad itu. Perempuan itu mencatat jasad itu menjadi 185 produk berbeda! Mulai dari bubuk mesiu, sabun, obat, kertas foto, katup jantung, cat mobil, permen karet, porselen, yogurt, marshmellow, kosmetik, rokok, kondisioner, sampai biodiesel. Tak lupa Meindertsma menampilkan foto-foto produk itu.
Apa pelajaran yang diperoleh perempuan asal Rotterdam ini? “Banyak tahapan antara bahan mentah dan produk akhir di produksi komersil modern. Karena banyak tahapan, pengetahuan menghilang. Sebagai contoh, peternak babi tak tahu semua produk akhir yang terbuat dari babi mereka karena mereka tak tahu babi itu dibawa ke mana,” kata perempuan 29 tahun lulusan Akademi Desain Eindhoven itu.
Meindertsma pun sekarang memilih produk yang diproduksi secara lokal. Baju hangatnya sekarang buatan Belanda, bukan lagi Selandia Baru.
Dan ketekunan Meindertsma membuahkan sebuah penghargaan: Index Award 2009. Dan risetnya juga menggelinding menjadi soal sensitif: terungkapnya 185 produk mengandung babi yang diharamkan Islam dan Yahudi.[Vivanews]

87% Remaja Tidur Bersama Ponsel

INILAH.COM, Jakarta- Penelitian terbaru mendapati berkirim SMS menjadi sistem komunikasi remaja paling populer, dan sepertiga dilaporkan mengirim lebih dari 100 pesan setiap hari.
Penelitian dari Pew Internet dan American Life Project yang memberikan kilasan budaya dan komunikasi remaja AS menemukan bahwa pengiriman SMS meningkat secara dramatis sejak 2008 lalu, termasuk panggilan via ponsel, jejaring sosial dan pembicaraan tatap muka.
Pew Research Center mengatakan tiga hingga empat remaja umur 12 hingga 17 saat ini telah memiliki ponsel dan memanfaatkan apapun yang ditawarkan. Perempuan kebanyakan mengirim atau menerima 80 pesan SMS tiap hari dan laki-laki 30 setiap hari.
“Berkirim pesan saat ini telah menjadi pusat komunikasi di kehidupan remaja dan ini seperti terus meroket ke langit dalam masa 18 bulan terakhir,” ujar peneliti dari Pew, Amanda Lenhart, sambil menambahkan adanya peningkatan biaya langganan memungkinkan berkirim pesan tanpa batas.
Penelitian ini juga mengungkapkan, tidak seperti panggilan telepon, berkirim SMS tidak bisa di bawah pengawasan orangtua, guru atau figur berwenang lain. Dan tidak seperti komputer, pengiriman pesan dapat dilakukan di manapun.
“Kita sedang berada di titik balik di mana remaja mengharapkan remaja lain untuk membalas pesan mereka dan terus tersedia,” ujar Lenhart. “Ini jelas SMS begitu mencolok dalam kehidupan mereka.”
SMS telah menjadi bagian yang sangat penting di kehidupan remaja di mana 87% dari mereka mengatakan tidur dengan atau berada di sebelah ponsel mereka.

SIRGEMIDL

Oleh : NN (santri mayak)

    SIRGEMIDL… serapan Bahasa Arab dengan bebagai gubahan dan campuran logat Jawa yang berarti MISTERI. Memang bukan hal yang aneh, tapi akan terdengar memilukan jika orang tahu itu adalah nama pemberian Mbahku yang telah tertulis di akte kelahiranku sejak 20 tahun yang lalu.
    Aku tak pernah menyalahkan orang tuaku yang telah melahirkan aku sebagai keturunan dukun santet. Ya… semua penduduk Desa Kayu Lambung ini kenal betul Mbah Projo, dukun santet paling ampuh dan dituakan yang kebetulan aku adalah cucu semata wayangnya.
    Emi, begitulah kebanyakan orang memanggilku, dan tentu saja aku adalah cucu kesayangan dan kepercayaan Mbah Projo. Aku ingat betul, 13 Februari 1996, tepat hari ulang tahunku yang ketujuh. Di ruangan yang aromanya sangat akrab di hidungku, bau menyan dan asap dupa menyelusup di setiap sudut ruangan. Tubuh kecilku bersila tepat di depan sebuah meja sajen, berhadapan dengan Mbahku yang saat itu sangat aku cintai. Tak jelas kalimat apa yang berkali-kali diucapkannya tanpa henti, seirama dengan kedua tangan dan jemarinya yang digerak-gerakkan seakan mengikuti asap dupa.
    Aku hanya memperhatikan setiap gerakan Mbah dengan polosku. Setelah sabar aku menunggu Mbahku selesai membaca mantra, dia memberiku semangkuk kecil air kembang.
    “Minumlah Nduk… ini adalah kado ulang taun dari Mbah… dan setelah ini kamu tidak seperti teman-temanmu yang lain, tapi kamu adalah cucu Mbah Projo!!!”
    Walaupun tak kumengerti maksud kata-kata berbelit-belit itu, kuikuti saja perintah Mbahku untuk meminum air pemberiannya. Seketika itu tubuhku menggigil kedinginan, jiwaku terasa melayang, samar kulihat Mbahku memeluk tubuhku yang limbung.
    Keesokan harinya kudengar percakapan Mbah dan Ibuku.
    “Kelak, Emi akan menggantikan aku… jika aku telah tiada!”
    “ Tapi Bopo, Emi itu kan anak perempuan… apa tidak sebaiknya Bopo hentikan saja ilmu hitam ini? Saya takut akan terjadi apa-apa…” sanggah Ibu.
    “Hussh!!! Ngomong apa kamu ini?! Bopo tidak akan membuang ilmu yang sudah lama Bopo tekuni!! Tidak ada salahnya perempuan menjadi dukun santet. Lagi pula Bopo lihat jiwa Emi itu sangat kuat. Sudah… kamu tidak perlu khawatir!!!”
    Tak kudengar lagi sahutan Ibu, dan akupun hanya terdiam tak banyak mengerti.
    Menjadi cucu seorang dukun santet membuat hidupku sangat tertekan. Sejak kecil tak ada seorangpun yang mau berteman denganku, mungkin mereka takut, risih, atau bahkan jijik padaku. Jangankan untuk bermain atau belajar bersama, keberadaanku di antara mereka saja sangat tidak diinginkan. Setiap kali aku ingin bergabung bersama mereka, selalu saja mereka menjauhiku. Bahkan tak jarang mereka menyerapahiku.
    “ Hei… Emi keturunan hitam!! Kamu itu pantasnya bermain dengan arwah-arwah di kali Dohong sana!!”
    Bahkan yang lebih menyakitkan, “ Jangan sekali-kali kamu dekati kami! Karena kami tidak mau jadi tumbal sia-sia gara-gara ilmu hitam kamu!”.
    Tak pernah kukeluhkan semua itu kepada Ibu maupun Mbah, dan tentu saja aku tak bisa merasakan indahnya masa kecilku, tak pernah aku mencicipi indahnya bermain gatheng, betengan, dakon, dan banyak lagi yang aku tak tau namanya. Acap kali aku hanya bisa menahan keinginanku untuk ikut bermain dengan melihat teman-teman dari kejauhan, tentunya dengan bersembunyi, atau mereka akan melempariku dengan bebatuan dan sumpah serapah yang menyakitkan.
    Kesedihanku semakin memuncak ketika aku menginjak kelas dua SMP, 20 September 2002 Mbah meninggal. Apa yang aku takutkan selama inipun terjadi, aku mulai bisa menafsirkan perkataan Mbah kepadaku dan kepada Ibu yang Mbah anggap sebagai kado ulang tahunku yang ke-tujuh dulu.
    Kini semua orang meyakini bahwa aku mewarisi ilmu santet Mbahku. Aku dianggap membahayakan sehingga aku di keluarkan dari sekolah denga iringan sorak sorai murid-murid dan lemparan beberapa bundelan kertas beserta barang-barang keras lainnya.
    Tuhan…. Apa salahku? Air mataku tak kusembunyikan dari mereka, tapi tak pula satupun dari mereka yang merasa iba.
    Ibu hanya terdiam melihat kepulanganku dengan wajah sembab, mungkin sudah tau apa yang terjadi.
    “Emi… mulai sekarang kamu harus belajar menerima kenyataan.” Kata Ibu kemudian, menahan langkahku untuk masuk ke dalam kamar, kutatap Ibu lekat.
    “Ibu tidak perlu mengatakannya! Apa Ibu pikir selama ini Emi menyalahkan kenyataan? Emi juga tidak pernah menyalahkan Ibu, tapi Emi benci menjadi bagian dari keluarga Ibu! Emi benci menjadi keturunan dukun santet”
    “Emi! Jaga mulut kamu! Kamu tau Mbahmu sangat menyayangimu, begitu juga kamu Nak…”
    “Aku menyayanginya? Ibu bilang aku menyayangi seorang dukun santet? Ya… itu dulu boleh Ibu ucapkan. Tapi sekarang jangan pernah lagi Bu! Dulu aku memang sangat menyayanginya karena kepolosanku, dan Ibu tau…? Sekarang aku sangat menyesal!!” suaraku meninggi.
    “Emi!!” Ibu membentakku.
    “Sudah cukup aku memendam semuanya Bu! Sekarang Ibu harus tau, aku muak dengan semuanya Bu! Aku muak dengan rasa sakit. Muak… muak… muak… dan asal Ibu tau! Aku tidak akan pernah menjalankan titah Mbah Projo! Jangan pernah sekalipun Ibu mengharapkan itu!!!”  suaraku semakin meninggi dan air mataku semakin mengarus.
    Kugedor tembok rumahku yang terbuat dari triplek. Ibu terisak memegangi dadanya yang mungkin terasa sesak. Rasa bersalah sedikit merasukiku, kuhirup nafasku dalam, berharap kutemukan sebuah rasa lega, tapi gagal.
    “Akh… “ teriakku, aku berlari meninggalkan Ibu yang masih terus menangis.
    “Emi….” Tak kuhiraukan panggilan Ibu yang tersendat.
    Setelah perdebatan itu, dua hari aku tidak kembali ke rumah, aku muak dengan semua kenyataan hidup yang begitu pahit dan menyakitkan, seakan tak pernah kurasakan manisnya madu barang sedikit saja.
    Di dalam gubug di tepi sungai ini aku sendiri, leluasa melepas penat yang tak kunjung hilang. Ternyata dua hari meninggalkan Ibu membuatku semakin merasa tidak nyaman, kuputuskan untuk kembali ke rumah dengan ragu.
    Betapa terkejutnya aku ketika kudapati beberapa orang berkerumun di depan rumahku, tentu saja ini adalah hal yang sangat langka karena penduduk desa ini mengucilkan keluarga kami. Ku beranikan diri bertanya kepada Bu Asri apa yang sedang terjadi, tapi tak ada jawaban darinya, dia menyuruhku langsung masuk ke dalam rumah.
    Kurasakan degupan jantungku semakin mengencang, nafasku sesak, mataku terasa panas dan akhirnya meneteskan air hangat. Kubuka kain jarik yang menutupi sesosok tubuh kaku di atas dipan.
    Wajah yang sangat aku kenal… Ibu…. Tidak… kini aku sebatangkara, ibu telah menyusul ayahku yang lebih dulu meninggalkan kami sejak sebelum aku terlahir…
    Kukemas semua baju dan bukuku ke dalam koper, akan kutinggalkan semua perjalanan pahitku di rumah ini. Aku berhaparap menemukan kehidupan yang lebih layak setelah ini.
    Kubaca berulang kali kertas pesan yang ditinggalkan Ibu, di dalamnya tertera alamat sebuah pesantren di pelosok kota Jogjakarta milik seorang Kyai bernama Abdul Hannan. Ibu juga berdoa agar aku berhasil menemukan jalan hidupku. Air mataku meleleh untuk kesekian kalinya. Ibu…
    Aku baru ingat, di dalam kartu keluargaku tertera bahwa aku beragama Islam, tapi aku tak begitu mengenalnya. Aku tau, Ibu menyuruhku pergi ke pesantren ini agar aku bisa mengenal agamaku, islam….
    Aku masih terlalu ingat kali pertama kedatanganku di pesantren, 18 Nopember 2002, setelah susah payah kucari alamat pesantren yang seperti tertera di pesan Ibu, akhirnya aku berhasil menemukannya. Sebuah pesantren di desa Segoro Kabupaten Jogjakarta yang ternyata bernama “Mambaun Najaa”.
    Aku yang lemas tak berdaya oleh permainan kehidupan, tak banyak berharap dengan apa yang harus terjadi kemudian setelah kutinggalkan kampung halamanku.
    Saat itu kukenakan jaket jeans panjang dan celana jeans sewarna tiga perempatan, kubiarkan rambut panjangku terurai ditiup angin. Kutarik koperku memasuki gerbang pesantren, kulangkahkan kakiku pasti, tak kuhiraukan tatapan asing setiap orang yang melihatku, yang kebanyakan mereka adalah laki-laki. Kuhentikan langkahku tepat di depan sebuah bangunan cukup besar yang kukenal bangunan itu adalah masjid, di tembok depannya terukir sebuah tulisan “Masjid Mambaul Hikmah”.
    Suasana ini sangat asing bagiku, dari dalam masjid menggema alunan merdu, walaupun aku tak begitu mengerti, tapi aku yakin itu adalah alunan ayat Al-Qur’an, kitab suciku.
    Aku bingung harus menuju ke mana. Di samping kiri masjid terdapat sebuah bangunan besar, banyak laki-laki bersarung hilir mudik di depannya. Dan di samping kanan
masjid terdapat tanah yang lumayan lapang, banyak kulit kambing dijemur di sana, sebagian banyak berupa bulatan putih yang kini kukenal benda itu bernama kompang atau rebana, di samping kanan tanah lapang itu ada sebuah rumah sederhana bercat hijau,  
    Belum puas aku mengamati tempat ini, seseorang menepuk bahuku dari belakang, sedikit kaget, ternyata seorang perempuan manis berjilbab abu-abu.
    “Assalamu’alaikum….” Sapanya.
    “Eh… iya… saya mencari rumah Kyai Abdul Hannan, bisa Bantu saya?” Perempuan yang kini akrab kupanggil Neng Sarah itu tersenyum arif padaku.
    “Oh… mari saya antar. kebetulan beliau adalah Abah saya.”
   Neng Sarah memegang tanganku menuju rumah Kyai. Tiba-tiba jiwaku merasa nyaman, ini adalah pertama kalinya tanganku digenggam seseorang sejak aku mengenal dunia, ini pula kali pertamaku bersanding dengan seseorang yang begitu ikhlas tersenyum padaku.
    Di ruang tamu yang sangat sederhana, aku duduk di samping Neng Sarah, Kyai Hannan yang akrab dipanggil Abah duduk di depanku, dan di sampingnya Umi Hasanah, istri beliau. Panjang lebar kuutarakan maksud kedatanganku dan kuceritakan semua yang terjadi padaku, masa laluku, pesan Ibuku, dan tentu saja Mbahku.
    Rasa nyaman semakin merasuk kalbuku, keluarga Abah yang hanya ada tiga orang menyambutku dengan hangat. Abah mendengar penuturanku dengan bijaksananya, bahkan Umi Hasanah dan Neng Sarah tak kuasa menahan air matanya, Neng Sarah memelukku dan berkata,
    “Emi… tak ada suatu hal apapun yang membuatku menolak untuk menjadi saudaramu.”
    “Walaupun Neng tau… Neng adalah orang pertama yang mengatakan itu…”. Aku tidak tau perkataanku merupakan pertanyaan ataukah pernyataan, yang jelas Neng Sarah mengangguk pasti. Air mataku meleleh, tak tau karena bahagia atau apa. Kulihat Abah dan Umi Hasanah tersenyum iba.
    Waktu terasa sangat cepat berlalu, bagai ilalang terbang bebas di langit lepas. Tetes demi tetes ilmu agama kuserap, mulai makna Syahadat, tata cara sholat, keutamaan puasa Senin Kamis, dan dari Abahlah aku tau makna nama pemberian Mbahku.
    Sirgemidl, berasal dari Bahasa Arab “Sirrun Ghoomidlun” yang bisa diartikan “suatu perkara yang samar” atau singkatnya “misteri”.
Aku tak pernah berfikir sekalipun selalu berharap jalan hidupku berubah secerah itu. Harapan selalu sirna tatkala bayangan hitam seringkali menghampiriku, aku tau bayangan itu adalah sosok Mbah yang memaksaku menjalankan titahnya atau kutukan akan ditimpakan padaku, dengan sedikit ilmu agama yang aku miliki aku sadar bahwa aku tidak boleh mempercayai kutukan, tapi walau begitu tetap saja rasa takut selalu menghantuiku.
    Rasa percayaku pada kutukan semakin kuat ketika sebuah peristiwa tragis terjadi di depan mataku, sekitar satu setengah tahun setelah keberadaanku di pesantren. Tepatnya 3 April 2004, sejak tiga hari sebelum tanggal itu bayangan Mbah tak hentu-hentinya menghantui setiap mimpiku. Dan yang membuatku tak mengerti, dengan keras dan sadisnya Mbah nenabrak tubuh satu-satunya orang yang sangat dekat denganku, tak salah lagi, pemilik tubuh itu adalah Neng Sarah. Aku tak bisa menafsirkan mimpi-mimpi menakutkan itu.
    Hingga peristiwa itupun terjadi, pagi hari saat kuhidangkan sepiring gorengan dan secangkir teh di meja Abah, tiba-tiba bayangan dalam mimpiku terulang kembali, bahkan tampak semakin nyata, jiwaku terasa berpindah ke dunia lain, melayang dan sangat memusingkan, aku kenal betul tempat di mana jiwaku berpindah, ya… di depan rumah Abah… Neng Sarah… dan tumpukan benda putih….
    Aku tersentak seakan jiwaku telah kembali, denga degupan jantung yang sangat tidak setabil aku berlari ke depan rumah Abah, tapi nihil… tak seorangpun kudapati disana. Kuedarkan pandanganku, tapi yang ada hanyalah jejeran rebana yang tertata rapi.
    “Ada apa Emi?” Tanya Abah tiba-tiba sedikit mengagetkanku, aku hanya menunduk takut.
  “Tidak Abah.” Jawabku pelan, kulangkahkan kembali kakiku ke dalam rumah dengan lesu. dan tiba-tiba….
    “AKH….!!” Suara jeritan seorang wanita bersamaan dengan gubrakan keras barang-barang yang tampaknya berat mengagetkan kami. Aku kembali berlari keluar rumah mengikuti Abah… dan… betapa hancurnya hati kami…
     Sesosok tubuh telah tergeletak tak berdaya berlumuran darah di tengah-tengah bulatan kompang yang berserakan.
     “Astaghfirulloh…!” jerit Abah sambil menghampiri sosok tak berdaya itu. Entah bagaimana kejadian itu bisa terjadi, tumpukan kompang yang tersusun meninggi di depan rumah Abah menimpa tubuh Neng Sarah. Dan bisa ditebak apa yang terjadi setelah itu.
    “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un…” derai air mata tak bisa terbendung dari setiap mata. Hatiku terasa kian sakit dan hancur, berulang kali kuucap istighfar tetap tak bisa membuatku berhenti mengutuk diri, ini semua salahku… aku membunuh orang yang begitu
baik padaku… aku membunuh saudaraku… Tidak!!! Bukan aku yang membunuhnya, tapi… kutukan itu…
    Setelah peristiwa itu, kuputuskan untuk meninggalkan pesantren, alasannya cukup kuat bagiku, walaupun memang tidak logis bagi kebanyakan orang. Aku tidak mau lagi membuat orang lain terkena imbas yang tetap aku anggap sebagai kutukan ini. Dan aku tidak mau lagi melihat perkara yang membuatku semakin merasa sakit.
    Akhirnya aku kembali lagi ke kampung halamanku di Banyu Wangi, tentu saja tanpa sepengetahuan warga dan tidak pula ke rumah peninggalan Ibu. Tapi di sini, di gubuk kecil kesayanganku di tepi sungai.
    Alhamdulillah… walaupun tak banyak yang kudapat dari pesantren, setidaknya aku tetap bisa istiqomah puasa Senin Kamis dan tidak pernah bolong sholat lima waktu, seperti yang diamanatkan oleh Abah dan… Neng Sarah.
    Hingga hari ini, 13 Februari 2009 usiaku genap 20 tahun, bayangan hitam Mbah masih selalu tak henti-hentinya menghantuiku, dan tak pernah pula kutemukan cara untuk menepisnya dari hidupku. Air sungai di hadapanku mengalir dengan derasnya, sederas air mata yang kesekian kalinya mengalir dari mataku.
    Allah… setidaknya aku bisa bersyukur telah mengenal-Mu, dan bisa tetap bertahan untuk tidak mengikuti jejak Mbahku.
    Aku lelah dengan semua ini, aku ingin segera berakhir, kupejamkan mataku perlahan.
    “BYUR….!” Sesaat kemudian kurasakan arus deras sungai yang dingin  menghantamkan tubuhku ke bebatuan. Perlahan semakin aku merasa redup… kemudian gelap….
    Dan aku tidak bisa menarik kesimpulan, ini awal ataukah akhir perjalananku………

SELAKSA CINTA KASIH DI PESANTREN

Oleh : NN (santri mayak)

Cinta…
Jika memang kau dicipta untuk kehidupan
Maka izinkan aku merengkuhmu
Biarka aku memilikimu
Namun jika tidak…
Maka luruhlah aku bersamamu
Agar aku menjadi sepertimu
Cinta…

                Darul Huda heboh…..! Bukan karena gebyar Peti Ceri yang baru-baru ini diselenggarakan, juga bukan sebab akan adanya alat canggih yang sebentar lagi akan didatangkan dari Surabaya… pasalnya, Pon Pes Darul Huda kedatangan Ustadz baru, Ustadz Jamal namanya, ustadz baru itu masih muda, lajang pula. Apalagi kharismatik kesempurnaan yang ia bawa. Pintar, berwibawa, gaul cool abiz, trus… ini dia elemen utama kehebohan itu. Parasnya adalah kolaborasi sempurna Roger Danuarta, David Beckham, serta Hrithik Roshan. Bayangin aja, gimana nggak “brekele” santri putrid yang ngeliatnya.
                Tapi kehebohan itulah yang akhirnya membawa masalah bagi Maya, salah satu santri putrid yang nge-fans banget sama Ustadz Jamal. Sore ini, sebelum berangkat Diniyah, dia harus berhadapan dengan teman-temannya yang mengira bahwa Maya telah berubah sejak kedatangan Ustadz Jamal.
                “Jadi intinya, kalian nggak suka aku pedekate sama tuch ustadz???” Tanya Maya garang pada ketiga sahabat karibnya, Rara, Salsa, dan Zahra.
                “Pedekate? Jadi sudah sejauh itu?? Masya Allah May, seharusnya kamu sadar apa yang sudah kamu perbuat itu salah!” desah Rara.
                “Salah??!! Kata siapa??!!” berang Maya.
                “Bukan… bukan begitu maksud kami.” Potong Salsa cepat.
                “Kesalahanmu hanya terletak pada waktu. Kau tak sadar itu.”
                “Sehabis Diniyah, kamu biasanya yang paling tak sabar menunggu kami untuk belajar bareng. Kamu juga yang paling nggak suka jika saat pelajaran kami membicarakan hal lain selain pelajaran. Tapi akhir-akhir ini, tipa kali kita  belajar bersama, kamu pasti nyeleneh dengan membicarakan setiap detail tentang Ustadz Jamal. Bahkan sekarang, kamu sudah mulai jarang kumpul dengan kami, kemana???” suara Salsa meninggi. Maya mengepalkan tinjunya.
                “Aku paling nggak suka ada orang menyelidiki urusanku!!!” geram Maya.
                “Bukan menyelidiki May, tapi menjaga. Ustadz itu masih muda, sendirian lagi. Jika kamu terlalu dekat dengan beliau, bisa timbul fitnah dari  orang lain. Salah-salah kamu nanti dikira punya hubungan khusus dengan beliau. Seharusnya kan, bias ghodul bashor, apalagi beliau ustadz kita sendiri.” Sela Zahra.
                “Alah… nggak usah sok dech… aku kayak nggak tau aja kalau kalian sebenarnya juga suka sama ustadz itu. Ceritanya iri nich… karena keduluan? Jangan gitu lah… tapi barangkali memang kalian harus hati-hati agar tidak dibilang kurang sopan. Apalagi kamu Zahra, kamu kan sudah punya tunangan…” cibir Maya.
                Rara, Zahra, dan Salsa hanya bias diam, mereka piker, susah ngomong sama orang keras kepala seperti Maya. Beberapa menit kemudian Maya dengan santai melenggang pergi meninggalkan ketiga sahabatnya. Maya tak menyadari tatapan sendu Zahra.
                “Akh Maya…. Kau tak tau yang sebenarnya,….”  Desis Zahra lirih hamper tak terdengar.
                Dan Maya memendam amarah pada ketiga sahabatnya, bagi Maya mereka terlalu sentiment hingga menganggap apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Meskipun begitu, iapun mengakui kalau sekarang mereka renggang, jarang diskusi kayak dulu lagi, atau belajar bersama, atau yang lainnya yang sering meraka lakukan bersama. Dan itu berawal sejak kedekatannya dengan Ustadz Jamal.
                Pandangan Maya tentang kehidupan yang tak pernah adil padanya atau mengenai cinta yang tak sekalipun ia kenal, berubah semenjak ia selalu mengahabiskan waktunya untuk berdiskusi dengan Ustadz Jamal sehabis mengaji Diniyah. Namun Maya ragu sekarang, ragu pada hatinya sendiri, benarkah ia dekat dengan Ustadz Jamal karena ingin merubah pendiriannya? Apakah kedekatannya itu bukanlah hanya sebagai kedok belaka? Bahwa sedikit demi sedikit dan mau tak mau ia harus mengakui jika ia memang menyimpan perasaan khusus pada Ustadz Jamal. Dan perasaan itu hanya dia yang tau.
                “Maya…” panggil seseorang saat Maya tengah duduk melamun di sudut mushola saasehabis jam belajar di pondok. Maya menoleh, wajahnya berubah keruh ketika melihat siapa yang memanggilnya tadi.
                “Aku mencarimu kemana-mana, rupanya kamu ada di sini.” Kata Zahra seraya duduk di samping Maya.
                “Buat apa? Menceramahiku lagi?” cibir Maya. Zahra terdiam sesaat, suasana menjadi kaku sejenak.
                “Kamu kenapa May?” Zahra berusaha mencairkan suasana.
                “Eh… denger ya… aku kan udah pernah bilang ke kalian, aku paling nggak suka urusanku dicampuri. Jadi lebih baik kamu pergi saja.” Maya berkata sinis. Dia merasakan amarah seakan akan meledak.
                “May… kami sahabatmu. Kami siap membantumu kapanpun kamu mau. Tapi bukan dalam kemarahan seperti ini.” Suara Zahra labil.
                “Sekarang kalian malah menyalahkanku. Itu yang kamu bilang sahabat???!!!” Maya berkata tak sabar , emosinya memuncak. Zahra menghela napas panjang.
                “Kamu menyukai Ustadz Jamal?” Tanya Zahra tiba-tiba. Giliran Maya terdiam.
                “Katakan sejujurnya padaku May, aku tak akan menyalahkanmu.” Ujar Zahra, Maya tetap bungkam. Dia hanya mempermainkan ujung slayernya pelan.
                “May….” Ujar Zahra lagi.
                “Aku… aku… ah!!! Entahlah aku juga tak mengerti. Yang jelas, sejak dekat dengan Ustadz Jamal aku merasa terlindungi, damai, dan….. semua berubah.” Lirih suara Maya.
                “Kamu menyukai beliau?” Tanya Zahra lagi.
                “Zahra, sudah kubilang aku nggak tau. Jangan paksa aku!!” elak Maya.
                “Jangan bohongi perasaanmu sendiri. Cinta itu milik siapa saja. Tanpa adanya syarat ataupun perjanjian siapapun boleh memilikinya. Kamu berhak memiliki cinta itu untuk Ustadz Jamal. Karena kamu punya hak. Tuhan menganugrahkannya untukmu. Benar kamu menyukai beliau?” Tanya Zahra memandangi wajah Maya yang tertunduk. Maya diam lama sekali, dan Zahra tetap menunggu di sampingnya. Kemudian Maya mengangguk pelan, Zahra tersenyum.
                “Sebab apa? Karena beliau tampan, begitu? Atau karena masih sendiri?” Tanya Zahra. Maya menggeleng cepat, pandangannya menerawang.
                “Tidak karena apapun. Aku bahkan tak menyukai wajah beliau, namun Ustadz Jamal benar-benar berarti buatku. Benar-benar bias membuatku membuka mata bahwa ada kehidupan lainyang telah aku lupakan selama ini. Kamu tau kan? Jalan hidupku kelam, sejak kedua orang tuaku bercerai, aku bahkan tak merasakan hidup lagi. Aku menganggap bahwa Tuhan tidak adil, dan sejak saat itu aku tak mau lagi mempercayai cinta. Cinta yang menurutku hanya permainan belaka. Namun Ustadz Jamal bias merubah semuanya, aku berubah sejak dekat dengan beliau.” Mata Maya berkaca-kaca.
                “Mengapa kamu memilih Ustadz Jamal, menurutku beliau biasa-biasa saja.” Ujar Zahra.
                “Kau masih ingat ketika beliau menerangkan tentang hakekat hidup? Juga tentang cinta atas nama Allah? Waktu iti kan kamu menanyakan itu. Nah, sejak saat itulah aku sadar bahwa Ustadz Jamal memiliki aura berbeda di mataku. Karenanya kusempatkan waktu untuk berdiskusi dengan beliau setiap habis Diniyah.” Jawab Maya.
                “Dimana kalian biasanya berdiskusi?” Tanya Zahra.
                “Di… Madrasah lantai tiga.” Jawab Maya.
                “Kamu tau May? Kamu telah melupakan kami. Bahkan kamu tak sadar bahwa apa yang kamu lakukan itu mengundang fitnah. Berdua di tempat sepi denga lawan jenis, apa kamu tidak takut itu?” Tanya Zahra denga suara ditekan.
                “Ustadz Jamal tidak pernah mempermasalahkannya kok.” Sangkal Maya.
                “Itu karena beliau tidak mau mengecewakan kamu. Apa kamu pernah kerumahnya?”
                “Belum”
                “kenapa?”
                “Beliau tidak pernah mau memberitahukannya setiap kali aku bertanya.” Jawab Maya. Zahra terdiam, lalu bertanya pada Maya.
                “May…. Seandainya kamu disuruh memilih, kamu lebih memilih siapa, kami sahabatmu, atau…….. Ustadz Jamal?”
                Maya menunduk lalu dengan segera dia menggeleng.
                “Aku memilih keduanya, kalian semua memiliki arti tersendiri untukku.” Jawabnya.
                “jika Ustadz Jamal sudah memiliki… emm… tunangan misalnya, bagaimana?” Zahra bertanya hati-hati. Wajah Maya tiba-tiba sendu.
                “entah… namun yang pasti, Ustadz Jamal selalu menjadi harapanku. Aku akan selalu menenti harapan itu nyata.”
                Zahra menghela nafas panjang, dipandanginya wajah Maya.
“Apakah kamu mau berjanji padaku?” Tanya Zahra.
Maya memandang Zahra tak mengerti. Seakan mengerti hal itu, Zahra segera melanjutkan kalimatnya.
“Seandainya nanti harapanmu itu nyata, kamu akan melandasi cintamu itu karena Allah.” Ujar Zahra.
“Kenapa…kenapa kamu berkata seperti itu?”
“jawab pertanyaanku, jangan berbalik menanyaiku!” Maya bungkam.
“tentu saja, yah… tentu saja, sebab aku ingin semua yang ku lakukan ini hanya karena Allah, bukan siapapun,” jawab Maya akhirnya. Zahra bangkit hendak berlalu.
“Zahra…” panggil Maya, Zahrapun menoleh.
“Mengapa kamu bertanya seperti itu?” Tanya Maya padanya. Zahra tersenyum.
“Sebab aku menyayangimu. Kami semua menyayangimu. Dan aku ingin melihatmu bahagia dengan cinta yang pertama kali kamu terima.” Jawab Zahra.
Maya memandangi kepergian Zahra dengan tatapan penuh heran. Namun detik berikutnya dia segera kembali ke kamarnya. Mereka berempat memeng sahabat karib, tapi tidak tinggal satu kamar. Dan persahabatan mereka dimulai di mushola itu. Karenanya Maya bertekat akan meminta maaf kepada Rara, Salsa, dan Zahra besok. Kini dia menyadari bahwa mereka memang menyayanginya dan merekalah sahabat-sahabat terbaik yang dia miliki.
“Zahra pulang??!! Kapan?? Kok aku nggak tau??” Maya terkejut mendengar laporan Rara dan Salsa barusan, sementara keduanya hanya memandanginya tajam. Maya merasa nggak enak sendiri dipandang seperti itu. Ia yang bermaksud meminta maaf urung melakukannya.
“Kamu tau kenapa dia pulang?” Tanya Salsa sinis. Maya menggeleng.
“Nich… baca suratnya! Dan kamu berhak tertawa senang sekarang!” Setelah menyerahkan surat itu ke tangan Maya, Salsa berlalu diiringi Rara, tinggalkan Maya sendiri memandangi lipatan surat itu. Perlahan-lahan Maya membukanya dan membacanya.

Assalamu’alaikum, May….
Maaf aku tak member tahumu kalau aku pulang, soalnya aku buru-buru. May… sejak kamu mengatakan kejujuranmudi hadapanku tadi malam, baru aku tahu bahwa kamu memang berhak atas cinta itu… dan aku kalah darimu.
Aku menganggap bahwa semuanya adalah perjalanan kehidupan yang aku terima Dari Tuhan, hingga aku melupakan sesuatu yang sebenarnya adalah bagian utama kehidupan itu. Cinta… yah…  dan aku belajar darimu untuk memilikinya.
May, maafkan aku karena tak memberitahumu sebelumnya, bahkan Rara dan Salsapun baru mengetahuinya tadi malam, bahwa sebenarnya aku adalah tunangan Ustadz Jamal. Aku tahu, ini memang sulit dipercaya. Pertalian itu sudah dimulai sejak sebelum beliau memutuskan mengajar di pondok Darul Huda ini, setahun yang lalu. Tapi kamu tak perlu hawatir, aku akan berusaha menjadikan harapanmu itu nyata. Hari ini aku pulang bersama Ustadz Jamal untuk menjelaskan semuanya pada orang tua kami.
May, aku ingin kamu tetap menjaga janjimu seperti yang kamu ucapkan tadi malam. Dan aku yakin Insya Allah Ustadz Jamal akan mengerti.
Percayalah May… kami semua menyayangimu….
Wassalamu’alaikum…
Zahra

                Maya menangis mengutuki dirinya, dia merasa menjadi orang paling bodoh dan paling egois sekarang. Dia telah melupakan sesuatu yang sebenarnya sangat berarti untuknya, betapa kebaikan dan persahabatan mereka memang lebih indah dari apapun.
“dan Zahra… janji itu pasti akan selalu ku jaga, karena kalian adalah sahabat terbaikku, dan aku juga sangat menyayangi kalian…” ikrar Maya pelan.

Air mata adalah syair yang terindah
Dan cinta yang paling hangat
Cinta terasa berarti jika kita memahaminya
Cinta semakin terasa berarti manakala dia
Telah pergi meninggalkanmu seorang diri

SECERCAH CAHAYA SURGA

Oleh : NN (santri mayak)

Panas matahari membakar bumi, angin sepoi menggoyangkan pohon-pohon di sepanjang jalan raya yang ramai oleh kendaraan yang lalu lalang.Seorang gadis berkerudung putih dengan masih mengenakan seragam SMA berjalan di tepi jalan dalam keadaan menangis
“Ya…Alloh kuatkanlah hati hamba untuk menerima semua kenyataan ini ,bahwa hamba bukan bagian dari keluarga hamba. Hamba tidak tahu apa yang harusa hamba lakukan ya Alloh…”
Gadis itu terus menyelusuri jalan tanpa arah  dan tujuan, setelah merasa hatinya tenang dia memutuskan untuk pulang, ia tidak ingin membuat  kedua orang tua yang telah membesarkannya  khawatir memikirkannya.
“Assalamu’alaikum…”Gadis itu mengucapkan salam dengan sedikit ragu.
“Wa’alaikumsalam…ya Alloh Nina,kamu dari mana nak? Umi sangat khawatir sama kamu, maafkan kami nak,”Seorang wanita setengah baya yang juga memakai kerudung seperti gadis itu memeluknya.Ia memeluk gadis yang bernama Nina dengan penuh kasih sayang.Seperti ia tidak mau terjadi apa-apa dengan gadis itu.
            “Maafkan Nina umi, karena Nina telah membuat umi dan abi khawatir dengan Nina.” Nina berlutut di kaki uminya dia menyesal atas perbuatan yang dilakukan.
            “Sudahlah Nina berdirilah! Kamu tidak salah sayang, umi tahu kamu pasti kecewa dengan umi dan abi.”Membantu Nina untuk berdiri.
            “Iya Nak, Abi merasa bersalah sama kamu, karena kami tidak jujur sama kamu sebelumnya.” Meneluk Nina dengan rasa penyesalan.
            “Abi dan umi tidak salah dalam hal ini, Nina tidak tahu kalau Abi dan Umi sangat menyayangi Nina”dengan tegas dan penuh keyakinan Nina.
            “Kamu memang anak yang baik, Abi bangga bisa membesarkan kamu hingga menjadi gadis sholihah seperti sekarang.”mengelus kepala Nina dengan rasa bangga.
            “Terimakasih Abi, ini semua berkat didikan  Abi dan Umi sehingga Nina bisa seperti sekarang ini.”Mereka pun berpelukan dengan diiringi tangisan. Nina merasa bahagia sekali dibesarkan oleh orang yang sangat sayang kepadanya,tetapi ia sedih karena sebentar lagi dia tidak bisa merasakan kebahagiaan itu  bersama mereka karena bukan anak kandung umi dan abinya.Hari ini orang tua kandungnya datang untuk menjemputnya. Mereka ingin mengajak Nina tinggal bersama mareka. Tapi karena Nina belum siap pergi,mereka akan menjemput Nina besok pagi.
            Malam semakin larut,tetapi mata nina enggan di pejamkan .ia masih memikirkan kejadian yang dialaminya tadi siang.ia tidak  tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya setelah ia tinggal bersama orang tua kandungnya.
            “ya ,Allah hamba  bingung apa yang harus hamba lakukan .hamba sangat sayang sama umi dan abi .hamba tidak ingin berpisah dengan mereka Ya Allah .Nina berdoa di tengah malam yang sunyi .Walau sudah lewat tengah malam tetapi nina tetap tidak bisa memejamkan matanya .
            Keesokan harinya, tiba waktunya nina untuk Nina ikut kedua orang tua kandungnya Walau berat meninggalkan Abi dan Uminya tetapi Nina harus merelakannya.Dia harus menjalani hidup barunya bersama orang tua kandungnya.
            “Umi ,Abi Nina pamit dulu ,jaga kesehatan kalian kalau ada waktu Nina pasti akan kesini lagi,Nina sayang sama Abi dan Umi .Terima kasih atas semua yang kalian berikan pada Nina.
Nina pamitan dengan abi dan uminya dengan perasaan sedih dan berat untuk meninggalkan keluarga yang telah merawatnya dari kecil.
“Nina jaga diri baik-baik ya ,Hormatilah kedua  orang tuamu ,jangan kecewakan mereka,karena mereka lebih berhak atas kamu nak..,”umi memeluknya Nina diiringi tangi keduanya.
“Ia nak,do’a umi dan abi menyertaimu ,pesan abi tetaprajinlah sholat dan do’akan kami dan kedua orang tuamu,karena itu adalah kewajibanmu sebagai seorang anak “abi berpesan .
“ya abi Nina mengerti ,Nina akan selalu ingat pesan abi “kemudian Nina mencium tangan umi dan abinya dan berpamitan dengan mereka.perpisahan itu dipenuhi dengan tangis ,Nina sangat dekat dengan uminya walau berat untuk berpisah tapi Nina berusaha tabah.Ketika diperjalanan mrnuju rumah keluarga kandungnya Nina hanya diam ,Dia bingung apa yang harus ia lakukan.
“Nina …..Ayah dan ibu sangat bahagia karna bisa bersamamu lagi dan kamu bahagiakan bertemu dengan kami ..?”.ayahnya mengawali pembicaraan ,karna sejak tadi mereka hanya diam sememtara Nina hanya mengangghukkan kepalanya ,Dia masih belum terbiasa dengan keluarga barunya.
Sampai di rumah keluarganya ,Dia disambut anak yang lebuh muda “Ayah ,Ibu ..Ini Kak Nina Ya..?”tanya anak itu.”Iya Sayang ,Ayo ajak kakak kamu masuk..!”suruh ibunya .”Selamat Datang kak Nina krnalkan namaku Andreas.”Anak itu mengenalkan dan tersenyum ramah pada Nina,Ninapun membalasnya .
Kamu sekarang kelas berapa ?”tanya Nina mulai akrab.
“Aku sekarang sudah kelas 4 kak, dan kakak tahu nggak pelajarannya sulit-sulit sekali, aku jadi malas belajar” keluh Andreas.
“Kamu nggak boleh gitu, kasihankan ayah sama ibu sudah membiayai kamu sekolah tapi kamu malas-malasan” nasehat Nina pada adiknya yang ramah padanya walaupun baru kenal.
Sementara itu di ruang tengah ayah dan ibu Nina sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting. Mereka terlihat serius sekali.
“Bagaimana yah, ibu bingung apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan masalah ini, karena hal ini menyangkut kepercayaan” kata ayahnya sedikit meninggi.
“Kita bisa membicarakan dulu dengan Nina yah”
Tanpa sngaja Nina mendengar percakapan itu, Nina kaget ternyata kepercayaannya dan keluarganya berbeda, ayahnya adalah penganut Kristen yang taat dan disegani oleh orang-orang. Nina bingung apa yang harus dilakukannya, tidak mungkin dia akan mengikuti keyakinan keluarganya karena dia sangat mencintai islam. Menyadari Nina mendengar percakapan mereka, ayahnya memanggilnya.
“Nina, sejak kapan kamu berada di situ?” tanya ayahnya.
“Maaf, tadi saya mau ke belakang, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian,” kata Nina sedikit bergetar.
“Nina, ada yang ayah ingin bicarakan denganmu.” Merekapun membicarakan masalah itu dengan Nina, Nina hanya bisa diam, masalah yang dihadapinya saat ini lebih berat. Nina tidak bisa memutuskannya segera, dia butuh waktu untuk berfikir. Setelah kedatangan Nina di keluarganya, tetangga-tetangga membicarakan keluarga mereka. Mereka mayoritas adalah orang Kristen, mereka tidak suka dengan kehadiran Nina. Keluarga mendengar hal itu shock, mereka takut tetangga-tetangga akan mengucilkan mereka. Ayahnya sudah tidak tahan lagi. Ia meminta Nina untuk mengikuti keyakinan mereka.
“Tapi Ayah, Nina tidak bisa karena islam itu agama yang benar dan Nina takut dengan siksaan Alloh.” Nina memberi penjelasan pada Ayahnya,. Tapi, ayhnya tidak mau tahu, sepertinya hatinya sudah tertutup.
“Kalau kamu masih kukuh dengan pendirian kamu lebih baik kamu tidak usah panggil saya ayah lagi, saya tidak mau punya anak pembangkang seperti kamu. Saya menyesal membawamu ke sini,” Ayahnya murka dan berubah membencinya.
“Maafkan Nina ayah, jangan usir Nina, Nina tidak mau membantah ayah, Nina ingin jadi anak yang berbakti,tapi kalau harus mengikuti keyakinan ayah, Nina tidak bisa yah.” Nina menangis sambil memeluk kaki ayahnya.
“Lepaskan kaki saya! Baiklah saya beri waktu kamu berfikir, saya harap kamu memberikan jawaban yang kami harapkan jika kamu tidak ingin melihat keluarga ni dicemooh oleh orang-orang.” Ayahnya meninggalkannya menangis melihat perdebatan itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Suaminya adalah orang yang keras kepala. Dia memeluk Nina dan menghiburnya.
“Ibu, apakah ibu juga akan membenci Nina? Nina sayang dengan keluarga ini, tapi Nina tidak bisa mengikuti kemauan ayah.” Nina menangis di pelukab ibunya, dia merasa damai di pelukan ibunya, dia merasa damai di pelukannya.
“Sayang kamu sabar ya, Ayahmu memang keras tapi dia sayang dengan keluarganya, nanti ibu coba bicara dengan ayahmu.” Mengelus kepala Nina denagn penuh kasih sayang. Setelah tenang, Nina beranjak dan mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat. Jika dia sedang ada masalah dia akan merasa tenang setelah dia sholat. Setelah sholat dia melantunkan ayat al-qur’an dengan sangat khidmat dengan suara merdu dan indah.Membuat adiknya berhenti bermain karena mendangar suara indahnya. Adiknya duduk di dekatnya dan menikmati indahnya lantunan ayat Al Qur‘an yangb dilafadkan Nina dengan fasih dan menggetarkan jiwa. Sampai Nina selesai. Adiknya sangat tertarik dengan ayat Al Qur’an yang dibaca Nina. Dalam hatinya dia ingin sekali mempelajarinya “Kak, suara kakak bagus sekali dan bacaan kakak sangat menyenangkan hati, aku saja merinding mendengarnya.” Kata Andreas kagum. “Terima kasih Ndre, tapi masih kok orang yang lebih bagus dari kakak, kamu tahu gak kakak tuh merasa tentram setelah  membaca ayat-ayat sucia Al-Qur’an dan masalah kakak serasa hilang dan kakak seperti merasa mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa.”Tapi kak, aku gak pernah diajari uang seperti itu, kakak belajar sama siapa, aku juga pengen seperti kakak.” Ucap adiknya polos,sementara Nina tersenyum mendengarnya, tiba-tiba dia teringat ayahnya, dia takut jika Andreas belajar mengaji ayahnya nanti marah dan pasti mengusirnya dan mungkin juga akan memarahi Andreas. Walaupun hatinya sangat senang karena adiknya menyukai Al- Qur’an tapi Nina tidak bisa mengajarinya , Nina tidak mau membuat ayahnya murka.
“Dik, maaf ya kakak tidak bisa mengajari kamu karena agama kita berbeda.”Ucap Nina dengan terpaksa.
“Emang kalau beda agama gak boleh belajar Al-Qur’an ?Apa salah orang yang beragama Kristen membaca Al-Qur’an.” Tanya Andreas penasaran. Tiba-tiba ayahnya muncul dan terlihat sangat marah.
“Itu semua salah, orang Kristen tidak boleh membaca Al-Qur’an karena Kitab kita adalah Injil dan kita harus mengamalkannya.” Ayahnya berbicara dengan nada tinggi  dan sangat marah.
“Tapi ayah, Al-Qur’an itu beda . Aku merasa tenang jika kak Nina membacanya, aku ingin mempelajarinya.” Kata Andreas menentang kata-kata ayahnya. Membuat ayahnya semakin marah. “Jadi kamu yang membujuk Andreas untuk mengikuti ajaran islam sehingga dia berpaling dari agama Kristen, ayah sangat kecewa sama kamu.” Ayahnya sangat marah pada Nina.
“Andreas kamu sekarang belajar dan ayah minta kamu tidak bergaul dengan kakak kamu yang pembangkang ini.” Kata ayahnya dengan nada sengit. Andreas tidak bisa apa-apa, dia sangat takut jika melihat ayahnya marah. Sementara Nina hanya bisa menangis, begitu sulitnya masalah yang dihadapinya. Hanya ibu yang mengerti perasaannya, dia selalu menyemangati Nina. Dengan segala cara akhirnya ibunya bisa meluluhkan hati ayahnya. Ayahnya masih mau menerima Nina tetapi dengan syarat Nina tidak bilang sama tetangga bahwa dia bagian keluarganya.. Nina terpaksa menerima syarat itu walaupun tidak sesuai dengan harapannya, Nina menerima dengan senang hati, dia yakin ini adalah jalan yang ditunjukkan Alloh untuk menyelesaikan masalahnya dan dia berharap suatu saat Alloh membukakan hati ayahnya bahwa Islam adalah agama yang benar. Untuk menutupi identitasnya, Nina mengaku sebagai pembantu agar orang-orang tidak membenci keluarganya. Ibunya sangat sedih melihat penderitaan Nina, hati kecilnya sangat bangga memiliki putri sebaik Nina.
“Nina maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menolongmu.” Ibunya merasa bersalah pada Nina.
“Inu, dengan menjadi pembantu di rumah ini Nina sudah senang sekali karena Nina bisa dekat dengan keluarga ini, sudahlah bu, ibu jangan sedih, ibu sudah melakukan hal yang terbaik buat Nina.” Nina mencoba menenangkan ibunya. “Kamu anak yang baik Nina, ibu bangga sama kamu.” Tiba-tiba terdengar suara ayahnya mengerang kesakitan, merekapun segera lari menghampirinya. Ayahnya terpeleset di kamar mandi dan mengalami pendarahan yang cukup banyak. Nina dan ibunya panik kemudian mereka membawa ayahnya ke rumah sakit. Ayahnya harus dirawat di rumah sakit karena lukanya cukup parah. Nina dan keluarganya sangat sedih. Nina selalu menunggu ayahnya di rumah sakit. Dia selalu mendo’akan kesembuhan ayahnya setiap selesai sholat. Dia rajin membaca al-qur’an ketika menunggu ayahnya. Ayahnya merasakan hal yang luar biasa saat mendengarkan Nina mengaji, sehingga dia meneteskan air mata. Sekarang dia mulai sadar akan keistimewaan ayat al-Qur’an yang dibaca Nina. “Nina maafkan ayah nak…” Kata ayahnya dengan suara lemah. “Ayah! Ayah sudah bangun? Nina ambilkan minum ya?”, “Tidak usah Nina, kamu memang berhati baik, kamu memang malaikat yang diutus Tuhan untuk ayah, maafkan ayah nak.” Ayahnya menangis dan meminta maaf pada Nina. “Ayah tidak salah, Nina mengerti keadaan ayah, lebih baik ayah sekarang istirahat ya?” Nina membantu ayahnya istirahat.
Dia senang akhirnya ayahnya sudah boleh pulang. Nina dengan sabar mengurus ayahnya sehingga sembuh total.
“Nina kamu istirahatlah, biar ibu yang merawat ayahmu. Sejak di rumah sakit kamu terus yang mengurus ayah, sekarang biar ibu saja.” Ibunya meminta Nina untuk beristiahat.
“Nggak papa bu, Nina ikhlas kok…, Nina tidak bisa diam saja melihat keadaan ayah seperti ini.” Nina tersenyum pada ibunya. “Iya Nina istirahatlah biar ibu yang menjaga ayah. Ayahnya ikut menasehatinya agar dia istirahat. Akhirnya Nina menaati perintah ayah dan ibunya. Saat Nina hendak tidur dia mendengar suara ayahnya berteriak dan menangis ketakutan, diapun pergi ke kamar ayahnya. Ternyata ayahnya sedang mengigau.
“Ayah! Bangun Yah! Ayah kenapa?” Nina membangunkan ayahnya. “Nina ayah takut, tadi ayah mimpidi kejar ular yang sangat besar, ular itu akan memakan ayah. Tapi ada orang yang memakai pakaian serba putih menolong ayah, dia menunjukkan ayah pada sebuah cahaya putih dan ketika ayah mengikutinya, ayah berada pada tempat yang damai dan ayah merasa tentram di sana”. Ucap ayahnya kemudian menangis.
“Ayah tenanglah mungkin itu petunjuk Allah”, Nina menenangkan ayahnya. “Mungkin kamu benar Nina, sekarang ayah sadar bahwa ayah telah memaksa kamu untuk masuk agama kristen. Kamu adalah orang yang dikirim Allah untuk menunjukkan ayah pada kebenaran, maafkan ayah nak,” ayahnya memeluk Nina.
“Alhamdulillah, Nina senang sekali ayah, karena sekarang ayah sudah mau menerima Nina lagi di keluarga ini”. Nina tersenyum pada ayahnya. “Bukan Cuma itu Nina, ayah juga memutuskan untuk masuk islam. Ayah tidak peduli apa kata orang tentang ayah”. Ayahnya memberikan kabar gembira bagi Nina.
“Ayah, Nina sayang sama ayah, Nina senang mendengar hal itu ayah’, Nina memeluk ayahnya. Ibu dan adik Nina juga Nina juga gembira mendengnar pernyataan ayahnya. Ibu dan adik Nina juga gembira mendengar pernyataan ayahnya, mereka juga masuk islam. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat yang disakasikan oleh Pak Kyai dan warga lain mereka mengadakan syukuran. Acara itu juga dihadiri oleh kedua orang tua angkat Nina. Mereka ikut bahagia. Nina dan keluarganya memulai hidup baru, mereka menjadi muslim yang taat dan membangun keluarga yang sangat bahagia. Itu semua bisa terwujud karena kebaikan dan ketulusan hati Nina yang mampu menghidupkan bunga-bunga surga.

QURROTUL A’YUN

Oleh : NN (santri mayak)

Malam yang semakin dingin, langit hitam telah mengguyurkan derasnya hujan dengan kilatan petir seperti potretan alam. Gemuruh guntur bersahutan memecah keheningan malam. Terlihat rumah sederhana tak jauh dari jalan tak beraspal, dua pohon mangga dan berbagai bunga yang menghiasi rumah sederhana itu, terlihat asri dan menyejukkan. Hujan semakin reda, malam yang dingin menyelimuti kesedihan keluarga Pak Habib untuk melepas kepergian putrinya tholabul ‘ilmi di pesantren.
            Gadis berusia 18 tahun anak bungsu dari dua bersaudara sedang membereskan keperluan yang akan dibawa ke pesantren.
            “Nduk… kalau nyampek di pondok hati-hati, jaga diri baik-baik. Kan sudah jauh dari keluarga. Ibu dan Abah Cuma bisa ngantar kamu denagn doa”, ucap Ibu (terlihat sudutmata ibuku berair).
            “Iya bu… Abah dan Ibu juga hati-hati ya….Jadi BESOK Maria diantar Mas Yusuf dong Bu!”
            “Sekalipun Yusuf juga berangkat ke Malaysia, katanya banyak sekali tugas yang harus dikerjakan menjelang semester akhir.” Ibu membantuku menjinjing tasku ke samping almariku.
            “Maria…” panggil Abah ikut berbicara.
            “Nggih Bah…”
            “Berarti kamu masuk pesantren di akhir tahun? Bener kamu nggak ingin seperti mas kamu yang kuliah? ”
            “Mboten Bah… kalau Maria kuliah ntar Mas Yusuf kerepotan, Abah kan tahu sendiri kalau Maria itu pengen banget nyantri dari kecil, Alhamdul;illah Allah mendengar do’a Maria, Bah…kalau Maria kuliah mau jadiapa lho? Maria kan nggak bisa kalau langsung terjun bersama mahasiswa.”
            “Yo wis nek tekadmu nyantri tenanan, ntar kalau dah di pondok jo nglirik putrane yai ne lo…, nggak pareng…”canda Abah diiringi senyuman ibu menggodaku.
            “Nopo to Bah…Maria niku sinten? Pinter nggih dereng, ayu nggih mboten!”
            Memang Maria selalu merendahkan diri. Sifat pemalunya memperlihatkan kelembutan dan kelemahan hatinya. Gadis jelita yang berhidung mbangir dan selalu rapat oleh busana muslimnya membuat para tetangga dan teman-temannya ingin sellu mendekatinya untuk menjadikan kekasih hidupnya.
Tapi inilah Maria, dia gadis yang bijaksana, ingin selalu mencari kesempurnaan ilmunya. Dari kecil abah dan ibunya selalu mendidiknya dengan agama yang benar. Rumah sederhana ini terpenuhi dengan cahaya dari kitab suci Al-Quran yang menghiasi hati pemiliknya.
Pagi yang berembun…..
Ibu dan abah mengantarkanku sampai depan pagar bambu rumah. Tak lupa kucium tanan krdua orangb tuaku penuh kasih sayang. Mas Yusuf juga melakukan hal yang sama, dialah anak lelaki yang bertanggung jawab, menjadi teladan untuk adiknya.
Di perjalanan menuju pesanyren, mas Yusuf selalu memberi motivasi semangat untukku. Ilmu adalah segalanya.
“Kua gadis cantik adikku, cantikkanlah juga ilmumu dan sempurnakan hidupmu dengan seorang yang di cintai Allah. Mengabdilah pada pangeran berhati emas untuk meraih surganya”. Mas Yusuf tersenyum memendangku, dia memang sayang padaku apapun permintaanku akan di wujudkannya bila ia mampu. Dia selalu menghormati kaum hawa, karena perempuan penyempurna hidupnya. “ Adikku do`akan mas berhasil meniti kehidupan ini “. Ucapnya tersenyum.
“ mas Yusuf…..do`aku selalu menyertaimu Allah selalu bersama orang yang mulia “.
Hidup baru….. kulangkahkan kakiku menuju masa depan yang membahagiakan. Pesantren yang terletak di tengah desa ini membuat ketenangan hidupku. Santrinya banyak , sehingga ada pembatas antara putra dan putri.
Untuk kelas VI tempat belajarnya di aula samping gedung putri, dengan santri putra putri terhalang kelambu hijau. Dengan ketekatanku, kecerdasanku serta do`a yang tak lalai ku panjatkan, usahaku mmbuahkan hasil maksimal. Aku……. Maria masuk ke kelas IV . Dan Cuma dua santri yang di terima masuk k kelas IV. Yaitu aku dan Syifa. Walaupun baru prtama kali belajar kitab gundul (kitab kuning) nggak sesulit yang ku bayangkan, untung teman sekamarkupun sekelas mau membantu kesulitan yang aku alami. Akhirnya aku dan Syifa bersahabat.
“Maria” panggil ukhti Sila. Dia memdekatiku.
“ya ukhti? Ada apa? “. Tanyaku pada kakak kelasku Sila.
 “ kamu ngga` pulang liburan ini? Jarang –jarang banget lho pondok libur, mungkin setahun Cuma 3 kali!” Dia mengajakku duduk di bangku teras asrama. “ah……….mba` Sila syukur-syukur ada liburannya dari pada ga` ada sama sekali ha….ha…..”. tawaku pelan memecah kecanggungan. Ukhti Sila adalah senior yang membibimbingku pertama kali kulangkahkan kaki di pesantren ini.
 “ya dah dech kamu temenin mba` di pesantren ya…!, so`alnya kelas VI disuruh jagain pondok, ntar kamu tidur aja di kamr mba`!. Eh………Syifa pulang ya? Tanya mba` Sila.
“iya... katanya dia sudah kangen sama keluarganya, mungkin keluarganya pada ngumpul, so`alnya kakak dari Jakarta dan Sulawesi datang”.
“ Kamu sendiri ngga` kangen?’’
“ Mba Sila ada-ada aja!, ya kangen lah……. Tapi mba` tau ndiri kan Maria disini baru setengah bulan?, rumah Maria juga ngga` dekat< mMas Maria mungkai juga ngga` pulang,  mungkin Ibu dan Abah yang menjenguk Maria”. ceritaku,mba` Sila mendengarkan denga saksama.
“Maria punya Mas? Dimana sekolahnya?”
“ dia kakak kelas mba` Sila, sekarang kuliah sambil bekerja di Malaysia namanya Mas Yusif”.
“wah……. Pasti tampan seperti namanya?”
“ mba` Sila ngada dech!”.
Liburan akhir tahu ini kunikmati hidup di pondok untuk pertama kali, dan kegiatanu mulai berbeda, setiap habis dhuha, asar dan isya`, aku belajar tajwid dan mulai melancarkan bacaan Al-Qur`anku pada Bu Nyai istri pendiri pesantren ini. Aku ingn seperti mereka!. Ulama` yang selalu mengabarkan islam yang damai. Mmeraka yang hafal kitab suci dengan lantunan yang merdu dan indah.
Sepulang dari ndalem Bu Nyai, aku brpapasan dengan seorang lelaki. Cepat-cepat kutundukkan kepalaku utuk menghindari tatapan itu,aku takut!!. Dosakah itu?, YaAllah jangan beri aku cobaan dari tatapan itu. Tatapan yang teduh tenang dan damai. Kenapa perasaanku tiba-tiba memikirkannya? Memikirkan postur tinggi, berkulit manis, berkemeja coklat muda. Tatapan itu……. akh…… membuat konsentrasiku goyah. Tuhan…..jagalah hatiku ini…… biar tak masuk nerakamu.
“Maria ayo makan!” ajak mba` Sila.
“ngga` mba`!” jawabku takut mba` Sila curiga.
“Maria jangan bohomg sama mba` lho… Maria dah tahu ndir,” .
“iya mba`!, mba` makan aja Maria mau tidur.
“lho…lho…lho… nga` biasanya kamu habis dhuha tidur?, ada apa sicsh…?
( mba` Sila tolong aku! Tolong mba` pergi dulu jangan membuat Maria semakin bingung!... ) batinku menjerit.
Kulangkahkan kaki menuju lorong kamar mandi putri. Kuambil air dan kubasuh ke muka berkali-kali berharap Allah menghilangkan perasaan aneh di fikiran yang menghantuiku.
Kuambil air wudhu untuk mensucikan hati dan fikiranku. Pesantren saat siang hari terasa sepi, kakak senior lebih memilih tidur untuk memanjakan dirinya. Kubuka pintu kamarku. Sepi, masih bersih dan rapi. Siang ini aku akan menghabiskan waktu di kamarku sendiri, dan pasti mba` Sila bingung mencaruku. Yach… biarlah , Maafkan Maria ukhti…
Aku duduk di atas sajadah dengan mukenaku untuk menanti adzan dzuhur. Akupun mulai nderes Al-Qur`an yang sudah kusetorkan.  Kata mba` Sila suaraku sat mengaji  indah  dengan tartil yang fasih. Sampai di surat Mariam juz 12 akhir, tiba-tiba sosok itu di depanku. Tatapan yang tak sengaja , tak ada 7 detik, tapi semua itu bisa menggangu konsentrasiku. Tiba-tiba hati ini ikut berargumen…..
“ Subhanallah…Allah telah melukis wajahnya yang teduh dengan luar biasa, siapakah gerangan itu? Dapatkah aku mengenalnya?, hatiku menjerit.
 “ Astaghfirullah hal `adzim…..” Ku hentikan nderes Al-Qur`an ku “ YaAllah hilangkan cobaan ini dariku”.
Selesai bermunajat, tak kulepaskan mukenau, tapi kuraih Al-Qur`an di atas meja, kulanjutkan hafalanku. Kukeraskan lantunan bacaanku, dengan tartil, aku tak ingin tatapan itu muncul menghantuiku, sampai di surat Al-Furqon juz 18, kurasakan sentuhan di lenganku, dan kuakhiri hafalanku.
“ shdaqollohul`dzim….Al Fatikhah”. Kudapati mba` Sila duduk di depanku dengan mata berair.
“ sungguh indah bacaanmu Maria! Apa penyebab kau menyendiri di kamar? Kau marah padaku?, katakanlah!” ucapnya sedih.
“Mba` Sila Maria ngga` marah, Maria menyendiri karena Maria ingin tenang, percayalah!.
“benarkah?” mba` Sila memelukku.
Sehabis makan siang di kamarku, mba` Sila bercerita tentang pelajarannya, katanya kelas VI itu asyik apa lagi seatap dengan santri putra. Hanya di satir kelambu hijau tua. Mba` Sila bercerita tentang seseorang yang mengagumi dirinya.
“dia anak semester VI jurusan Ushuluddin, dia pendiamdan cuek!. Mba` pernah bertemu dia tanpa sengaja saat aku dan teman-teman mba` keluar membeli kebutuhan kopeasi. Saat itu dia tersenyum ke mba`. Dan mulai sekarang kata temen deket mb`, dia mencari mba`. Tapi itu semua mba` simpan di hati. Dan mba` baru pertama kali cerita ke kamu Maria,”. Ceritanya.
“Waah… tapi mba` tidak ….”
Nggg, mba` tahu Maria, jika dia sungguh-sungguh, dia akakn langsung izin ke orang tuaku, oya,!. Dia juga punya adik baru aja dia lulus dari sini, kata kakaknya dia itu mau ngelanjutin ke AL-AZHAR , mungkin dia sowan ke Yai”.
 Aku diam terpaku entah dari mana tib-tiba tatapan itu masuk menghantuuku. YaAllah …… kasih kesempatan untuk bertaubat kepadamu.
   “hei… Maria, kok nglamun,? Mba` Sila menyikutku.
“oh…. Iya mba`, dari tadi mba` menyebutmya dia aja! Ngga` punya nama ya mba` he…”
“o… kamu pengen tahu? Namanya Wafa, cukup panggilan aja ya! Mba` mohon Maia diem tentang apa yang mba` ceritakan. Pintanya.
Musim semi ini membuat malam emakin dingin. Gadis berjilbab wrna biru itu berjalan menunduk dari ndalem Bu Nyai. Bertaberan bintang dilangit dengan cahaya bulan sabit, memperindh lukisan langit malam. Pesantre sepi… terlihat tiga santri putri berjaga di depan gerbang deoan sambil mendengarkan kerasnya volume radio di sampingny, denan setumpuk makanan ringan dan sebotol besar minuman , membuat posisi asyik banget untuk bercerita bertema bebas.
“Maria…” panggil mba` Sila berjaga di pos. kuamati orang yang berada di samping mba` Sila. Wajah yang tak asing di pelupuk mataku. Aku ngga` percaya masih berfungsikah pelupuk mataku?, wajah yang selama ini u rindu, yang hadir dalam hatiku. Aku yakin semua organ tubuhku masih berfungsi. Semakin dekat, semakin cepat kaki ini untuk melangkah.
“ibu… Abah… kupeluk tubuh mereka. Kedua orang tuaku menjengukku di pesantren. Tubuhhu kak terlihat karena aku dalam dekapan mereka. Mba` Sila menitihkan air mata melihat kebahagiaanku malam ini.
Abah langsung ke ndalem Yai, Ibu dan mba` Sila kuajak ke kamarku. Malam ini orang tuaku menginap. Takterasa jam dinding kamarku menunjukkan angka 24.30 akupun bergegas berdiri meninggalkan meraka, kuambil air wudlu. Kembali kakamar tak kudapati Ibu dan mba` Sila. Ku pakai mukena dan ku mulai dengan niat sholat sepertiga malam.
Setelah salam tatapan itu….. ya Allah….. Mulai saat itu setiap aku mengingatnya ku hadiah Fatikhah untuk menghapus cobaan itu.
Kutatap wajah Ibu yang teduh oleh basuhan air wudlu dibalut mukena putihhnya.
Haridemi hari telah terlewati bulan telah berganti, tahunpun telah berlalu. Bumi dan langit bertasbih padaMu, ribuan Malaikat berdo`a padaMu ya Allah.
Maha suci engkau ya Allah yang selalu menepati janji. Cukuplah ku percaya dengan satu janjiMu. Maka kehidupan di dunia ini akan terasa jauh lebih indah. …. Semua akan terasa jauh lebih indah. Sungguh kami tidak pernah memiliki. Kami tidak pernah mempunyai. Engkaulah yang maha memiliki dan mempunyai. YaAllah… bahkan diri kami sendiri bukan kami yang mempunyai.
Hatiini berdesie hebat saat kaki ini melangkah ke ndalem, karena di panggil pengasuuh yacch… terasa cepat memang tak terasa 4 tahun, hati ini menimba ilmu di pesantren, kedatnganku di sambut hangat oleh istri yai ku. Ku duduk menunduk di depan beliau, Yai mulai bertanya.
“Maria…” Yai menggantung prtanyaan membuat hati ini terasa bergetar
“Maria… ini adalah pesan yang mengejutkan mungkin, semua tinggal persetujuanmu.kemarin malam datang seorang alumni sini yang melanjtkan bea siswanya di CAIRO dia bercerita banyak opadaku ternyata hatinya menaruh rasa kagum darimu muai tatapan itu yang tak sengaja, Allah telah mearuh  seberkas cahaya di hatinya. Cahaya iti kamu Maria, Alhamdulillah hafalanmu telah tersetorkan 6 bul;an yang lalu”.
Aku diam samakin tunduk gemetar hati ini bercampur aduk aku mengingat kejadin waktu lalu tatapan itu aku nyaris lupa seetika.
“nduk…” panggil bu nyai.
“maria… sejak kejadian itu dai sulit melupakannmu seorang itu menyayangimu karena Alah mahluk ciptaan Allah dia melamarmu, menyutingmu, tadi malam Abahmu sudah dihubungi, dan sekarang senmua hanya tinggal kamu yang menentukan.” Yai diam.
Aku diam seribu bahasa ingatanku kembal sempurna. Ya tatapan itu, pemuda berkemeja coklat muda Ya Tuhan…. Apa ini yang dinamakan anugerah dariMu… ? aku diam dan semakin menundud itu tandanya aku menerima lamaran ini.
    Ya Allah… anugerahmu sungguh diluar dugaan. Lelaki yang menatapku tak leih dari 7 detik ini tak sengaja pula dia akakn menjadi teman hidupka. Ya Tuhan… sisa hidupku telah ku badikan padanya untk merimtis kehidupan menuju ridho Mu.
Kemeriahan ini…… terdengar sholawat nabi yang di dendangkan oleh hadroh apesnren yang membahana keseluruh desaku.
Ya Allah tak henti-hentinya hati ini memujamu. YaAllah lantunan surat Arrohaman yang menggetarkag jwa merobohakan tulangku melemahkan hatiku.
 Hanya Engkau yang memberi anugerah di luar dogaan kami. Ya Allah sungguh kami tak pernah memiliki tak prerna mempunyai dan Engkaulah yang maha memiliki dan
mepunyai eisi langit dan bumi. Malam ini penduduk langit mencatat ama,l  yang bersejarah ini.

Kak Faris telah mengisi seluruh ruang hatihu wajahnya yang teduh, tenang, semakin membuat katampanannya membuncah beretar di gelora jiwaku. Dia seorang yang sabar menerima apa adanya  dan apa kekuranganku.
Malam ini aku talah di bawa ke rumah baru untuk merintis cemerlangnya masa depan, Ibu dan abah tak henti-henti memberi do`a brokah untuk kami. Dia imam yang adil dan bijaksana, bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan
“ Dinda Maria sungguh cantik namamu secantik perilaku dan ahlakmu, sungguh bahagianya hati ini memiliki peri jewlit selembu hatimu “ ucapnya aku tersipu malu . angin malam dan pepohonan berdzikir padamu Ya Allah. Sinar bulan malu mengintip indahnya malam. Penduduk langit berdo`a pada Mu untuk hamba-hanmba yang patuh pada Mu.
Sore hari…..
Aku berjalan bergandengan dengan pujaan hatiku, tak beralas kaki , ujung jilbabku menari nari tertiup angin pantai di sore hari. Duduk  dengan kaki terbenam pasir menghadap matahari, ombak berdeburan memeah kesejukan sore itu.
Matahari bergerak menghujam bumi semakin rendah. Jingga memenuhi langit, indah. Angi bertiup lebih lembut. Menatap bentang cakrawala yang elok nian. Burung camar ber kekikan  kembali ke sarang. Ombak semakin kencang, pantai terlihat menyejukkan.
“ya Allah sungguh menakjubkan kuasamu ku memiliki yang tulus mancintaiku. Berlayar menuju RidhoMu. Perasaan ini datang karena Mu “. Batin ini berteriak.
Kak Faris menggenggam jemariu dengan hangt dan lembut ketenangan itu sungguh terasa.melangkah pelan melewati lembutnya pasir.
“dinda… jangan kau sakiti hati ini dengan kepergian tanpaku. Kaulah
peri yang mewarnai hidupku, jika kau tau semenjak tak sengajaanku menatapmu, mulailah ku mengadu pada Robb tentang parasanku. Aku mencintaimu dinda, dinda Maria yang sholikhah, yang berhati mulia. Mentapku dan tersenyum memperlihatkan lesung pipnya.  Janan kau lepas genggaman ni dinda… ku mohon! “ . pintanya tulus.
“ tak pernah ku lepas genggaman tulas ini dariku, karena sentuhan lembutmu menjaga jiwa ragaku kanda! Andalah yang menguasai ruang hatiku”. Ku sandarkan bahuku di pundak suamiku, dengan melangkah bergandengan beriringan.
Segerombolan burung camar melayang di atas kepala dengan riangnya menari-nari dengan sayapnya.
 “kaulah penyejuk hatiku penenang jiwaku, pengantar tidurku, sentuhan yang tak menyakiti asmamu telah terukir di langit hatiku”.