Pages

LORONG MENUJU SURGA

Oleh : NN (santri mayak)

Ronasari memanglah hanya sebuah desa yang berselimutkan ketenangan dan kedamaian jika ada orang asing yang belum menginjakkan kaki di Ronasari melainkan hanya membayangkan dan melihat sekilas dari kejauhan pasti mereka akan berfikir seribu kali jika akan menetap di Ronasari, namun tatkala mereka akan tertambat juga  oleh keramahan warga dan jiwa pedesaan yang menyamaikan akhlak dan budi pekerti yang luhur.
Sama halnya dengan Alifia Candra Mukti, butuh waktu bagi Alif untuk beradaptasi dengan dunia barunya, pekerjaan sang ayah menuntutnya untuk meninggalkan kota Metropolitan yang sangat dicintainya, belajar memulai hidup baru dengan suasana baru bukanlah hal yang mudah. Seorang Alif harus meninggalkan kebiasaan dugem dan hura-hura lantaran memang tidak ada fasilitas seperti itu untuk daerah terpencil seperti Ronasari, malam-malam Alif kini hamya dilalui dengan nonton tivi dan berdiam diri di kamar.
“Hallo Sin!”, Alif mengisi kesepiannya dengan menelfon teman-temannya yang ada di Jakarta.
”Iya ada apa Lif?”, Suara sahutan dari seberang tidak begitu jelas, karena tertanggu oleh suara music disco.
”Gue lagi sebel nih! Gue kangen sama loe semua”
”Iya ada apa Luf, berisik banget nih! Gue keluar dulu ya!”
”Loe lagi dugem ya?!”
”Ya nih bareng anak-anak, loe lagi ngapain Lif?”
“Alah………. biasa garing! Ya udah loe puas-puasin, sorry ganggu!”
“Tut………tut……….tut……”
Loch………loch...........kok ditutup? Lif! Alif?!
Alifia semakin benci dengan keadannya sekarang, hidupnya benar-benar hampa tanpa hura-hura. Ia ingin segera kembali ke habitatnya, tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan. Ayah Alif sudah ditetapkan bertugas di Ronasari, bahkan ada kemungkinan untuk selamanya.
“Tok…tok…tok…”, terdengar suara ketukan dari arah pintu Alif.
“Iya, sebentar……….!”
“Kok cemberut? Ada apa sayang?!”
“Ma, Alif nggak tahan lama-lama di sini Alif pengen balik ke Jakarta, Alif  pengen bareng sama teman-teman Alif.” Alifmengajukan protes ke mamanya.
”Alif kamu sabar ya, disini orngnya ramah-ramah, kamu harus belajar mengenal teman-teman barumu di luar sana,” Nasehat mama Alif.
”Nggak mau, tetep aja mereka orang-orang kampung yang nggak asyik sama sekali.”
”Alif, kamu harus merubah cara pandang kamu terhadap mereka.”
”Bodo.”
”Ya sudah, ini sudah malam cepat tidur. Mimpi indah ya sayang.” Ucap nyonya Mukti lembut. Namun Alif sudah tidak mau menggubrisperkataan mamanya. Malam semakin larut, Alif akhirnya teridur dengan perasaan jengkelnya. Alif melalui hari-harinya selalu dengan marah-marah karena ia merasa kesepian. Semua orng dianggap egois hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiritanpa peduli kepentingan Alif.
Pagi ini Alif mencoba keluar rumah belajar akrab dengan orang-orang desa Ronasari. Alif menyusuri pematang sawah, hingga akhirnya ia sampai di pinggir hutan. Tiba-tiba..............
”Hai ngapain kamu disini?” Seorang pemuda mengagetkannya
”Heh kalau ngomong nggak bisa pelan ya?”
”Suka suka aku dong!”
”Gue kaget tau! Gue kesini Cuma pengen liat-liat desa yang menurut gue nyebelin banget, loe sendiri ngapain disini?” Alif tak kalah ketus dengan logat metropoloiannya, dia merasa jengkel dengan pemuda yang dirasa sama sekali nggak punya sopan santun.
”Kelihatannya kamu bukan orang sini?”
”Emang!!!” dengan jengkel Alif meninggalkan pemuda itu dan pulang.
”Dasar orang kampung, tetep aja orang kampug nggak punya sopan santun  uh! Kesan pertama aja udah kayak ginipokoknya Alif pengen balik ke Jakarta ma..............!”
”Ada apa sayang?” tanya nyonya Mukti lembut. Alif hanya pasang muka cemberut.
“Sayang…….. kamu belum tau gimana gimananya mereka” Alif marah kemudian mengurung diri di kamar.
            “ Pa, lama-lama mama kasihan sama Alif, dia selalu merasa kesepian.” Nyonya Mukti melaporkan perihal Alif kepada suaminya.
            ”Sudahlah ma, jangan menuruti Alif terus-terusan, dia sudah besar pasinya dia akan mengerti keadaan.” Kalau sudah begitu nyonya Mukti tidak bisa berbuat banyak untuk Alif.
            Tak terasa 6 bulan sudah Alif tinggal di Ronasari. Namun, tetap sajaAlif belum bisa menyesuaikan. Ia masih kesepian lantaran ia belum punya teman.Tiap hari Alif hanya bersay hello dengan teman-temannya yang ada di Jakarta. Nmun, lambat laun dia merasa bosan juga dengan keadaan begini-begini saja. Hari ini ia memutuskan untk jalan-jalan sore.
            ”Assalamu’alaikkum” sorang gadis berjilbab menyapanya.
            ”Wa.......wa......’alaikumsalam” Alif gugup karena sangat jarang mengucapkan salam.
            ”Mbak baru ya disini? Kok tidak pernah liat?” tanya gadis itu raah, Alif menanggapi hanya dengan mengangguk.
            ”Perkenalkan mbak saya Zahra Pundi Wiranti, terserah mbak mau panggil saya gimana, kalau boleh saya tau, nama mbak siapa?” gadis itu memperkenalkan dirinya sembari mengulurkan tangan.
            ”Gue Alifia Candra Mukti, loe bisa panggil gue Alif.”
            “Nama mbak bagus, kalau boleh saya tau mbak asalnya darimana?”
            “Gue dari Jakarta, loe pasti orang sini ya?”
            ”Iya mbak, dari kecil saya hidup di desa terpencil ini, tidak pernah ke mana-mana.
            Sepanjang perjalanan sore itu Alif dan Zahra banyak bercerita tentang diri mereka, keluara, daerah asal, dll. Alif merasa sangat cocok dengan Zahra,kini ia telah menemukan seseorang yang bisa dijadikan teman. Semenjak perkenalan itu Alif sudah tidak pernah merasa kesepian. Setiap sore Alif sering mengajak Zahra jalan-jalan sekedar melihat desa yang damai. Lama kelamaan Alif makin terbawa dengan suasana tenang desa itu.
            ”Alif,  bagaimana? Apa kamu masih merasa kesepian? Apa kamu masih ingin kembali ke Jakarta?” Suatu malam nyonya Mukti menanyakan perasaan Alif saat ini.
            ””Nggak ma, Alif sudah punya temen baru disini, namanya Zahra. Anaknya cantik, sopan, lemah lembut dan berjilbab. Alif mau kenalin dia sama Papa Mama. Nyonya Mukti tersenyum mendengar pengakuan Alif, beliau senang melihat senyum Alif kembali.
            “Iya sayang, asal kamu seneng, mama juga seneng, sekarang kamu tidur yah! Sudah malam, have a nice dream honey!” Nyonya Mukti meninggalkan Alif setelah Alif mengecup kening Alif tanda sayang.
            Suasana subuh masih menyelimuti awan , ayam jantan berkokok membangunkan pemilinya yang masih terlelap. Adzan subuh berkumandang di udara segar sebentar lagi akan hilang, tak biasanya Alif bangun sepagi ini. Ia ingin cepat-cepat pergi ke rumah Zahra. Ia ingin mengajak Zahra ke rumahnya untuk dikenalkan pada mama papanya. Hari ini hari minggu Papa Alif libur. Untuk menyambutkedatangan tamunya nyonya Mukti masak spesial.
            ”Pagi ma! Masak apa nich? Ehm....baunya enak ma...” Alif menghampiri mamanya yang sedang masak di dapur.
            “Masak yang paling spesial untuk menyambut tamu kamu nanti sayang....”
            “Terima kasih ma....  ya udah ma... Alif pergi dulu.......!” Alif  beringsut sembari mengecup pipi nyonya Mukti.
            Setengah jam kemudian Alif datang bersama Zahra.
            “Mama..... Alif pulang......!” Nyonya Mukti menyambut kedatangan putrinya.
            “Assalamu’alaikum bu...”
            “Wa’alaikumsalam, silahkan duduk nak!” Nyonya Mukti tersanjung dengan Zahra yang santun.
            “Terimakasih bu.........”
            “Ternyata benar yang dikatakan Alif, kamu anaknya manis, sopan dan baik.” Zahra malu disanjung seperti itu oleh nyonya Mukti.
            ”Mari nak kita makan dulu,anggap saja rumah sendiri.”
            ”Terimakasih bu.....”
            Sekitar dua jam Zahra di rumah Alif , setelah pamit, Zahra pulang. Alif mengantarnya sampai depan pintu. Zahra tampak senang bisa mengenal keluarga sahabat barunya. Sesampainya di rumah, Zahra menceritakan keluarga Alif kepada kakaknya, Rahman. Zahra selalu menceritakan apa yang dialaminya kepada Rahman. Namun, jika Rahman tidak ada di rumah, Zahra bercerita kepada abahnya, ibu Zahra sudah berpulang ke rahmatulloh 3 tahun yang lalu. Saat itu Zahra masih kelas 3 Tsanawiyah, dan Rahmansudah kelas 3 Aliyah dan sudah berdomisilidi sebuah pondok pesantren di Kediri. Beliau meninggal karena penyakit yang sudah dideritanya selama 2 tahun. Abah Zahra sangat mencintai istrinya hingga kini beliau tidak mau menduakan istrinya. Biarlah hari-harinya beliau diolalui bersama kedu anaknya, karena menurut beliau itu lebih baik.
            Setelah bercerita panjamg lebar kepada Rahman, Zahra beranjak mengambil air wudlu hendak melaksanakan sholat dzuhur. Selesai sholat dzuhur, Zahra menelfon Alif.
            “Assalamu’alaikum........”
            “Wa’alaikumsalam.....ada apa Ra....?”
            “Mbak nanti malem ada perayan maulid nabi di masjid depan rumah, mungkin kalau ada waktu mbak bisa datang...”
            “Iya nanti pasti aku datang”
            ”Terima kasih...... sudah dulu ya mbak.. Wassalamu’alaikum”
            ”Wa’alaikumsalam” Telpon terputus.
            Pada saat acara.
            ”Kadang saya dibuat terheran-heran menyaksikan fenomena yang terjadi pada kalangan anak muda zaman sekarang, mengapa tidak? Fakta yang ada banyak generasi muda yang merusak diri mereka dengan hal-hal yang seharusnya tidak mereka lakukan.” Para hadirin menyimak dengan seksama apa-apa yang disampaikan oleh Pak Sahid, Abah Zahra. Kemudian beliau melanjutkan keterangannya.
            ”Padahal masih banyak pihak yang membutuhkan uluran tangan mereka, dan sebaiknya manakala kita melakukan suatu kebaikan itu harus diniati karena Alloh jangan sampai ada niat karena ingin dilihat dan disanjung orang. Karena Rosululoh juga pernah bersabda:
            Man dalla ’ala khoirin falahu mitslu ajri fa’ilihi. ”Barang siapa menunjukkan hal yang baik, maka ia mendapat pahala sebesar orang yang mengerjakannya. (HR. Muslim).
            ”Sekian yang bisa saya sampaikan, saya yakin masih banyak kekurangan, saya mohon maaf. Akhiron billahi taufik wal hidayah, wa ridlo wal inayah wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh..” Para hadirin pun bubar dengan tenang.
            Alif yang turut serta dalam acara tersebut belum beranjak dari tempat duduknya. Ia merenungi  perbuatan-perbuatan yang ia lakukan selama ini, tidak menguntungkan bagi siapapun,  yang ada malah merugikan semua pihak dan dirinya sendiri, tersirat di hatinya ingin bertaubat. Setelah masjid sepi ia bermunajat kepada Alloh.
            “Ya Alloh ampuni kelalaian hamba selama ini, bimbinglah hamba agar senantiasa berada di jalan-Mu, jalan lurus yang Engkau ridhoi, jalan terang yang Engkau rahmati, Ya Alloh terimakasih Kau masih memberiku kesempatan untuk bertaubat, jangan Kau biarkan aku terjerumus ke dalam lingkaran setan, Amin!”
            Selesai bermunajat Alif  beranjak pulang, suasana sepi. Waktu telah menunjukkan pukul 21.30 suatu hal yang tidak baik jika seorang perempuan jika berada di jalan sendirian. Ketika itu Zahra dan Rahman masih berada di teras rumah.
            ”Kak, itukan mbak Alif? Kok baru pulang ya?” Rahman tidak begitu menggubris perkataan Zahra.
            ”Kak tolong anterin mbak Alif, nggak baik kan perempuan malam-malam di jalan sendirian, nanti kalau terjadi apa-apa gimana?” Zahra meminta Rahman untuk mengantar Alif.
            ”Nggak mau.” Rahman menolak .
            ”Ayolah Kak, please.........” Rahman menggeleng.
            “Ya udah kalau begitu Zahra yang nganterin mbak Alif.” Zahra tidak rela jika sahabat barunya berjalan sendirian malam-malam takut terjadi apa-apa karena Alif bukanlah asli orang desa Ronosari. Melihat Zahra nekat, Rahman mencegah.
            “Eh, jangan! Kamu itu perempuan dik nanti kalau terjadi apa-apa gimana?”
            ”Mbak Alif kan juga perempuan, kalau kakak khawatirin aku kakak juga harus khawatirin mbak Alif juga dong!”
            ”Ya udah biar kakak anterin,” karena terpaksa akhirnya Rahman memenuhi permintaan adiknya.
            ”Maaf, atas permintaan Zahra, saya harus mengantarkan anda.” Ucap Rahman sambil memberhentikan motornya di samping Alif. Alif terkejut dengan suara yang tidak asing di telinganya, ia menengok ke asal suara itu.
            ”Loh kamu kan?!” teringat kejadian 6 bulan lalu, ia bertemu pemudaini dalam keadaan tidak bersahabat, pemuda yang menurutnya menyebalkan itu ternyata kakak Zahra.  
            ”Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri.” Kata Alif ketu kemudian meninggalkan Rahman sendirian, agak merinding juga sih, sudah separuh perjalanan Alif berjalan dalam pekatnya malam. Tiba-tiba..........
            “Neng, kok sendirian aja?!” seorang berperawakan hitam besar bak preman mengganggunya, Alif langsung mengeluarkan tampang judesnya berharap preman itu segera pergi dari hadapannya.
            “Duh galak bener.....”
            “Please, Don’t disturb me!” Alif berlalu segesit mungkin, namun ia kalah telak, preman itu lebih cepat memegang tangan Alif.
            “Lepasin nggak, kalau nggak.......”
            “Kalau nggak apa sayang.....” Alif merasa jijik dengan perkataan orang itu, kemudian ia melayangkan pukulan ke perut preman itu dan menghantam kepala preman itu dengan tas yang dibawanya, preman itu meraung kesakitan. Alif memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil langkah seribu.
            “Gila! Ni cewek kuat banget” menyadari Alif kabur, preman itu tak mau menyerah ia mengejar Alif dan akhirnya Alif kalah cepat, preman itu menghadang dan langsung membungkam mulut Alif.
            Tiba-tiba ada seseorang datang dengan mengendarai motor, ia menarik preman itu dan menghujamnya bertubi-tubi, lama-lama preman itu sudah tidak bisa bertahan dan memilih untuk kabur.
            “Dasar sombong!”
            “Heh ngomong apa loe?!”
            “Bisa pulang sendiri kan?” Rahman meninggalkan Alif.
            ”Dasar cowok arogan!” Alif tak kalah ketus, setelah kepergian Rahman, Alif segera meninggalkan tempat itu, namun matanya tertuju pada sebuah benda yang sepertinya terjatuh dari pemiliknya. Sebuah dompet berwarna coklat.
            Sesampai di rumah
            ”Sayang tampang kamu kok kucel gitu, ada apa?” sambut mama Alif.
            Sesampainya di kamar, Alif hanya tiduran, matanya sulit untuk dipejamkan, pandangannya menerawang ke langit-langit kamar. Tiba-tiba handphonnya berdering, sebuah sms masuk.
            ”Sudah sampai rumah?” sender +6281234148963
            Alif kemudian membalas nomor yang tiak ia kenal itu.
            ”Maaf ini cp. Q udah nyampe rumah dengan selamat.”
Lama Alif menunggu balasan, namun tak kunjung datang, karena kelelahan ia tertidur. Tidak biasanya Alif bangun saat adzan subuh berkumandang. Ia ingin memulai hidup barunya. Mulai hari ini ia akan melaksanakan ibadah yang selama ini ia tiggalkan, yakni sholat. Meski banyak bacaan yang terlupakan Alif akan tetap berusaha semampunya, bukankah Alloh selalu memberikan keringanan kepada umatnya dan Islam bukanlah ajaran yang memberatkan pengikutnya.
           Hari ini Alif berencana akan pergi ke rumah Zahra, mengembalikan dompet Rahman yang semalam tertinggal. Alif mengetahui pemiliknya Rahman manakala ia melihat kartu identitas yang ada di dalamnya.
            ”Assalamu’alaikum.........”
            ”Wa’alaikumsalam.... eh mba’ Alif, silahkan masuk mbak.......”
            ”Aku ke sini cuma mau balikin dompet kakakmu, semalam jatuh waktu dia nolongin aku.” Ucap Alif sambil menyodorkan sebuah dompet pada Zahra. Alif yang sekarang bukanlah Alif anak metroplitan, dia sudah merubah bahasanya dan perilakunya, bahkan Alif yang sekarang sudah mulai memakai jilbab.
            ”Aku panggilkan kakak ya mbak!”
            ”Eh nggak usah, aku udah mau pulang kok.”
            ”Kok buru-buru sih mbak.”
            ”Iya aku masih ada sedikit urusan, aku pamit dulu wassalamu’alaikum.........”
            ”Wa’alaikumsalam” Zahra mengantar Alif sampai pintu.
            Semenjak perkenalannya pada Zahra, Alif selalu menyakan perihal ibadah yang benar menurut syari’atkepada Zahra dan Zahrapun selalu melemparkan pertanyaan itu pada Rahman dan seketika itu Rahman menelfon Alif untuk menjelaskannya secara mendetail. Alif selalu menyimaknya dengan seksama, sesekali Alif membuat catatan-catatan kecil, namun jika Alif membutuhkan penjelasan yang tidak sedikit, maka ia sendiri yang akan datang ke rumah Zahra. Alif senang bisa belajar banyak dari Rahman dan Zahra. Alif yang sekarang benar-benar menjadi perempuan yang santun yang taat beribadah. Sebagai orang tua, mama papa Alif tergerak hatinya untuk mengikuti jejak anaknya yakni berusaha untuk lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta.
            “Alif, mama bangga sama kamu, kamu benar-benar telah membuat hati mama dan papa senang, kalau boleh tau semua itu, siapa yang sudah membuatmu seperti ini,apa Zahra teman kamu itu ?” Alif mengangguk, Alif berniat ingin menceritakan perihal Rahman kepada mamanya.
            “Bukan cuma Zahra ma, Alif seperti ini juga karena Alif mendapat pelajaran dari seseorang. Dan yang lebih mengagumkan lagi, dia hafal al-qur’an ma.......”
            “Beneran sayang? Wah hebat dong!” Alif mengangguk senag dengan tanggapan mamanya.
            “Hm……….. sepertinya anak mama lagi jatuh cinta nih?” Pandangan mama penuh selidik.
           ”Apaan sih ma?” Raut muka Alif langsung memerah, ia tidak ingin mamanya tau, Alif langsung lari ke kamar.
            Sesampai di kamar, Alif langsungkirim sms ke Rahman.
            “Rahman, aku ingin menghafal al-qur’an seperti kamu, apa bisa?”
            Tak lama kemudian ada telfon masuk dari Rahman.
            ”Assalamu’alaikum.........”
            ”Wa’alaikumsalam, Rahman aku matiin ya biar aku yang telfon.”
            ”Tut.....tut...tut...” kemudian Alif balik menelfon Rahman.
”Hallo, sorry menurut kamu gimana?”
”Asal kita ada kemauan dan tekad, Insya Alloh bisa....”
”Beneran..?”
”Insya Alloh.”
”Maaf ya, aku sudah ganggu kamu.”
”Nggak kok”
”Terimakasih, sudah dulu ya...... Wassalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumsalam”
Setiap habis menelfon Rahman, Alif selalu merasa senang. Hatinya seperti tersiram air embun yang sejuk, Alif akhirnya tertidur.
Alif terbangun ketika mendengar handphonnya bedering. Ia melirik jam mungil yang bertengger di tangannya,. Masih jam 02.00 dinihari, sebuah sms masuk.
“Setiap dini hari menjelang, tengadahkaan kedua telapak tangan, julurkan lengan penuh harap dan arahkan terus tatapan matamu kearah-Nya untuk memohon pertolongan.”
Sender :Rahman
+6281234148963
            Dengan semangat Alif mengambil air wudlu untuk melaksanakan qiyamu lail. Alif bermunajat kepada Alloh dan membaca Al-Qur’an hingga menjelang subuh.
            “Allohu akbar... Allohu akbar......”suara adzan berkumandang menandakan sudah masuk subuh.
            “Alhamdulillah ….”Alif kemudian menunaikan sholat subuh, setelah sholat subuh Alif keluar rumah ingin menghirup udara segar desa yang sudah mulai dicintainya. Sudah menjadi kegiatan rutin bagi Alif, setiap pagi jalan-jalan sekedar ingin mendapatkan udara yang masih alami. Tiba-tiba handphonenya Alif berdering sebuah sms masuk …
            “Assalamu’alaikum, Alif sebenarnya aku berat melakukan ini, tapi ini demi cita-citaku ,aku harus pergi menuntaskan apa yang menjadi tujuan utamaku, maafkan segala kesalahanku padamu selama ini”
Sender : Rahman
            +6281234148963
            “Rahman jangan pergi dulu aku mau bicara penting sama kamu “balas Alif .Alif menunggu balasan dari Rahman tapi tak kunjung datang , akhirnya Alif pulang ia berencana akan ke rumah Zahra ,sesampainya di rumah, Alif langsung mandi dan mempersiapkan diri hendak ke rumah Zahra dengan membawa mobil ayahnya agar cepat sampai.
Sesampainya di rumah Zahra.
            “Assalamu’alaikum …..”
            Wa’alaikumsalam, mbak Alif?masuk mbak
“Maaf Zahra kakakmu ada?”
“Kakak sudah berangkat 10 menit yang lalu dan dia menitipkan ini untuk mbak.”kata Zahra sambil menyodorkan sebuah buku pada Alif.
“Ini untukku Zahra ?”Alif seakan tak percaya , Zahra mengangguk sambil tersenyum.
“Terima kasih ra .Oh ya Zahra maafkan aku, aku harus segera pulang ,aku tadi kesina dengan membawa mobil papa, takutnya nanti papa keburu ke kantor, sekali lagi terima kasih ya ”
Sesampai di rumah Alif membuka-buka  buku yang berjudul  “Cara Efektif menghafal Al- Qur’an “pemberian Rahman ,tiba-tiba sesuatu yang terselip di dalam buku itu terjatuh , sepucuk surat , Alif kemudian membuka dan membacanya  
             Teruntuk bidadari yang dirahmati Alloh [Alifia Candra Mukti]
            Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
            Padamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga ,
            salam cinta dan kasih yang tak pernah berubah di segala musim dan peristiwa.
            Bidadari yang dirahmati Alloh.....
            Maafkan bila aku lancang menulis ini kepadamu, aku terlalu dho’if untuk menahan             perasaan ini yang aku sendiri tidak begitu mengerti, perasaan yang tiap malam
            selalu membuatku sulit untuk memejamkan mata.
            Bidadari yang dirahmati Alloh......
Aku tak tahu sejak kapan perasaan ini muncul, bahkan aku pun tak yahu siapa dirimu dan siapa diriku, semoga Alloh mengampuniku, mengampuni kelalaianku dalam mencintai-Nya
mungkin dengan kepergianku ini akan membantuku untuk melupakanmu dan kembali kepada-Nya, terima kasih kau telah mengisi satu babak kisah dalam hidupku, maafkan atas kekhilafanku selama ini, semoga apa yang kau cita-citakan terlaksana, jadikanlah buku ini sebagai kenang-kenangan, semoga bermanfaat.
Al-Faqiir ila rohmati robbah        
   ”Noerahman Al Ghofari”
Air mata Alif sudah tak terbendung lagi, ia juga sangat menyayangi Rahman.Ia ingin Rahman selalu ada untuknya, membantunya menghadapi masalah-masalah namun sayang semuanya seakan terlambat, orang yang diharapkan kini telah pergi dalam rangka jihad fisabilillah.Alif menerima kenyataan ini dengan pasrah, namun ia tak ingin sedih berlarut-larut,ia ingin mengikuti jejak Rahman, sekarang Alif berdomisili di sebuah pondok pesantren Tahfidzul Quran di kota Malang berharap apa yang ia cita-citakan akan segala terwujud.

    0 komentar:

    Posting Komentar

    silahkan beri komentar postingan ini,oke?