Pages

JALAN TITIAN ZAIN


Oleh: Erviana Rosyidatul Laela
(FInalis Lomba Cerpen Pon.Pes Darul Huda mayak 09/10)

Zain berjalan tergesa-gesa meraih helm lalu tancap gas motornya. Dia adalah putra ketiga Kyai Ahmad, namun dia berbeda dengan kedua kakaknya, kedua kakaknya yang pasti menjadi putra mahkota Kyai Ahmad, dan menjadi putra kebanggaan Kyai Ahmad.
                Zain memang selalu berbuat beda dari kedua saudaranya. Oleh kareba itu, Kyai Ahmad sering kecewa karena ulahnya. Kedua kakaknya yang menikmati bahkan bangga dipanggil “Guz”. Sedangkan Zain tidak mau mendapat julukan seperti itu, padahal panggilan itu menjadi idaman kebanyakan orang, disebut  “Guz” saja orang sudah tertarik. Tapi dasar Zain anak yang aneh.
                Aliyah Zain memang berada di pondok Lirboyo, Kediri, tapi hanya bertahan 3 tahun, berbeda dengan kakaknya yang bertahan hingga hamper 7 tahun.  Zain meminta kepada ayahnya agar diizinkan kuliah, alasannya agar dia juga mengerti ilmu dunia, ilmu-ilmu umum terutama ilmu kedokteran seperti cita-citanya.  Awalnya Kyai Ahmad yang memang berhati keras terhadap masa depan anaknya menolak dengan mentah-mentah. Tapi Zain tak patah arah, dia memohon dan berjanjin tidak akan berbuat seperti yang dilakukan teman0teman sekampusnya nanti. Dia rela dijodohkan dengan Neng Syifa, putrid Kyai Rohman yang kebetulan Zain juga mencintainya.
                “Aku berjanji Bah, di kampus aku hanya belajar saja, aku akan menjaga nama Abah… sebagai orang terhormat.”
                “Abah butuh bukti Zain… aku tidak segan-segan mencorengmu dari keluarga ini kalau kamu berbuat ulah di depan orang-orang yang minim agamanya,” kata Abahnya keras, Zain tersenyum ketika Abahnya berkata itu.
“Insya Allah Bah…,” kata Zain kemudian.
“Jangan bilang Insya Allah, bilang demi Allah !”
“Tapi Bah… kalau aku tak bisa tepati,” kata Zain ragu. Abahnya melotot.
“Kamu harus tepati, wajib ‘ain ngerti!!!” Bentak Abah keras membuat Zain kaget, tapi ini sudah biasa Zain alami.
                Zain berjalan melalui koridor-koridor Kampus Fakultas Kedokteran, baik sekilas maupun diperhatikan, Zain telah meninggalkan dirinya sebagai seorang Gus, lewat dandanannya, Zain memakai kaos panjang warna biru muda memakai celana jins dan kopyah yang selalu dia kenakan di rumah ia lepas. Kadang diganti topi, kadang juga dia biarkan rambut lurus dibelah tengah menghias wajah tampannya. Meski begitu, Zain tak melepas ilmu keagamaannya ia tetap taat beribadah, memang dia selalu menyesuaikan diri di lingkungan umum. Jadi, dia tak menunjukkan sedikitpun, bahwa dirinya tamatan Podok Lirboyo.
                Memang susah menjaga diri bagi Zain, tak bisa dipungkiri dirinya memang tampan memikat hati wanita, banyak wanita menyapanya entah sekedar menyapa ataupun dengan maksud tertentu.
                “Pagi Zain…!!”sapa seorang gadis cantik, berambut panjang memakai baju modis selera remaja sekarang. Kalau sudah begini Zain berada dalam kebingungan, haruskah dia balas sapaan itu atau harus diam bersikap dingin. Zain hanya terdiam, sesaat lalu tanpa senyum ia menjawab “Ya…,”simpelnya jawaban membuat penasaran gadis bernama Tasya itu dari sosok Zain. Tampan dan dingin, jarang bergaul dan tak mempunyai banyak teman. Tasya mengejar Zain “ Zain… tunggu !!!” Zain memukul keningnya sendiri, bingung harus berbuat apa, Zain menoleh dengan senyum kecut “Ada apa lagi?”…Dasar Tasya gadis cantik yang centil. Dia merajut lengan Zain, tentu Zain kaget. “Zain temani aku jalan ya?”
                “Apa…? Nggak !!! Afwan nggak bisa !!!” Zain melepas tangannya dengan paksa.
                “Aa…a…” Tasya terpleset dan menjerit. Spontan Zain menangkapnya tak ada maksud lain hanya tolong menolong sesame manusia. Dan entah mengapa adegan itu seperti di sinetron-sinetron. Zain shock sesaat ia terbelalak melihat Tasya menikmati adegan itu. Beberapa detik kemudian, Zain sadar apa yang sedang dilakukannya.
                “Astaghfirullah…” tanpa sadar apa yang bakal terjadi, Zain melepas pegangannya dan itu membuat Tasya jatuh. “Aww…” Zain tak mau tahu dan juga tak peduli lagi. Dan meninggalkan Tasya yang gelimpungan di lantai, Tasya menjadi tontonan banyak orang dan mereka semua tertawa gelimembuat Tasya malu dan geram.
                Zain ngos-ngosan, ia kesal dan menyesal mengingat adegan yang belum lama dia lakukan. Dia berpikir kalau sampai abahnya tahu Zain bisa dicoreng dari keluarganya dan diusir dari rumah.
                Makin hari Zain makin benci dengan Tasya, itu disebabkan Tasya yang selalu centil mengganggunya,  menyapa dengan sok manis dan ada saja yang dilakukan agar Zain menanggapi. Tapi justru Zain sangat membencinya, karena sangat jengkelnya sampai-sampai Zain berkata :
                “Tasya…aku mohon sekali lagi jangan pernah kamu menggangguku dengan gayamu yang memuakkan itu. Ingat ya!!! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau menerima ajakanmu. Makin hari kau makin memuakkan membuatku semakin benci. Jaga dong imagemu sebagai wanita, laki-laki mana yang mau dengan gadis sepertimu ha…? Mulai sekarang jangan ganggu aku lagi. Kalau perlu jangan panggil namaku lagi, karena akan membuatku murka”. Umpat Zain langsung di depan mata Tasya.
“Ttt….tapi Zain “ Tasya gugup tak percaya.
“Diam…..!!!ingat kata-kataku cermati, hayati dan lakukan” kata Zain keras dan tegas. Tasya sakit hati dengan kata-kata”Laki-laki mana yang mau dengan gadis sepertimu!!”.
“Awas Zain…akan ku balas keangkuhan hatimu”kata Tasya dalam hati.
“Apapun akan aku lakukan agar dirimu sengsara.”
                Zain memang hanya belajar, seperti janjinya kepada Abahnya. Dia menekuni dunia kedokteran sesuai dengan cita-citanya. Cita-cita yang ditentang habis-habisan oleh Abahnya. Tapi Zain diberi waktu setahun oleh Abahnya, kalau Zain mampu mendapat nilai tertinggi dikampusnya. Kyai Ahmad akan mengizinkan Zain meraih cita-citanya, toh Kyai Ahmad masih mempunyai Gus Zaki dan Gus Zawa putra mahkota yang dibanggakan.
                Zain melihat barisan-barisan nama dan nilai ujian naik semester.
“Yes…dapat A, Abah pasti bangga”. Gumam Zain. Maklumlah Zain masih ujian semester pertama yang akan naik ke semester. Dan lebih senangnya lagi, Zain sekarang tenang karena Tasya sudah tidak mengejar-ngejarnya lagi dan gadis lain pun jarang yang sok manis mnyapa, mungkin karena takut kena umpatnya Zain seperti Tasya.
                Zain menaiki motornya dengan kecepatan sedang sambil menikmti indah perjalanannya. Melewati beberapa gerombolan pemuda yang hura-hura.
                “Tak bisa ku bayangkan seandainya kelakuanku seperti mereka, mungkin aku dibunuh oleh Abah”. Gumam Zain sambil senyum-senyum sendiri.
                Sesampainya di rumah, Zain semangat masuk rumah karena ingin segera menunjukkan prestasinya kepada Abahnya. Dia buka pintu tanpa salam sangking senangnya.
                “Abah….Ada kabar gembira!!!” teriaknya,
Tapi seketika Ia berhenti tersenyum, tercengang memandang Abahnya yang sudah didepan matanya menatap tajam dengan wajah murka. “Plaaaa…k” dengan seluruh tenaga yang dikeluarkan Kyai Ahmad menampar wajah Zain. Gubraaaaak…!!! Tubuh Zain menjatuhi kursi-kursi hingga kursi-kursi tersebut ambruk berserakan. Ada darah yang mengalir dari bibir Zain. Zain meringis kesakitan, belum kuat Zain bangun Kyai Ahmad menarik rambut Zain lalu dia dihadapkan wajah Zain ke wajahnya dan Dia tampar sekali lagi dengan kekuatan yang sama. Dan kini hidung Zain yang mengeluarkan darah.
                “A….bah…Apa salah Zain?” ucap Zain tersendat menahan sakit.
                “Tidak usah pura-pura bodoh kamu Zain!!! Mana janji yang kamu ucapkan kepada Abah dasar anak durhaka!!!”
Zain masih belum mengerti arah pembicaraan Abahnya, ia masih duduk memegang pipinya yang merah kebiru-biruan.
                “Abah…Zain benar-benar tidak tahu!!!”
Zain mencoba meyakinkan Abahnya, lalu Kyai Ahmad jongkok menatap tajam dengan muka yang masih murka, ia tarik rambut Zain sekali lagi.
                “Jangan panggil aku Abah lagi, kamu telah mencoreng nama baik Abah. Abah benar-benar kecewa Zain “Kyai Ahmad memelankan suaranya.
Tapi penuh penekanan dengan nada amarah yang mengental lalu ia lepaskan rambut Zain dengan kasar, dan beliau meninggalkan Zain begitu saja. Zain yang masih penasaran marangkak mengejarnya.
                “Abah…tunggu…Bah” Zain meraih bersujud pada kaki Kyai Ahmad.
                “Zain benar-benar tidak tau Bah” Zain menangis dalam sujud di kaki Ayahnya.
Kyai Ahmad menendangnya hingga Zain jatuh bergelimpangan. Zain menahan sakit tiada terkira.
                “Pergi dari rumah ini Zain!!!. Kamu harus bertanggung jawab pada gadis yang kamu hamili. Kata Kyai Ahmad sambil menunjuk ke ara pintu.
Zain seperti mendengar menyambar, Zain benar-benar tidak tahu apa yang di maksud Abahnya. Kyai Ahmad pergi meninggalkan Zain, sedangkan Zain masih terbengong dalam kebingungan. Hampir lima menit dia dalam kebingungan, hingga sang Umi menghampiri, memeluknya tapi Zain masih seperti orang ling-lung. Dia meneteskan air mata tak percaya, ia tak menanggapi tangisan Umi yang memeluknya.
                “Zain sabar ya nak…” Bu Nyai Ahmad mengelus dada Zain.
                “Umi…Siapa gadis yang memfitnah saya?”
                “Gadis itu bernama Tasya…”
Deeaaaaaaa….rrrrr Zain seperti mendengar petir pas di atas kepalanya. Rasa benci tiada terkira pada gadis yang bernama Tasya kini bertmabah kuat.

               
Zain memasukkan baju-bajunya dalam koper, ia berpikir mungkin lebih baik kalau dia hidup meraih cita-cita tanpa bergantung pada abahnya.
                “Zain….Kamu mau pergi kemana nak?” Tanya Uminya.
                “Entah Umi…Tapi percayalah Zain pasti bisa hidup, sampaikan maafku pada Abah, kakak-kakak dan Syifa. Bilang sama Syifa kalau aku tak pernah menyukai gadis lain kecuali dia”.
Memang Zain tertarik pada Syifa saat mendengar Syifa Qira’ah dengan suara merdunya dan Zain juga mendapat cinta Syifa dan lebih kebetulan lagi, ternyata mereka di jatuhkan dari dulu, tapi kini Syifa masih dalam penjara suci tebuireng.
                “Zain meskipun Abah berkata begitu, tetaplah menganggap bahwa Kyai Ahmad Abahmu” kata Uminya sambil menitikkan air mata.
Zain jongkok menghadap Uminya yang duduk di atas ranjang. Dan dia cium tangan sang Umi lalu dia peluk kakinya sambil menangis. Bu Nyai Ahmad membelai rambut Zain.
                “Jaga dirimu baik-baik nak, maafkan Umi jika Umi tidak bisa membelamu di depan Abah”.
                “Umi tetap menganggap Zain anak Umi kan?”
                “Tentu nak”Bu Nyai Ahmad membelai pipi Zain yang merah kebiru-biruan bekas tamparan.
***

                Langit mulai gelap, sayup-sayup dinginnya angin menusuk tulang, gerimis nan indah bak salju, daun-daun basah perlahan suara petir menyambar samar-samar. Di sebuah masjid berdinding kaca dengan gerbang yang roboh sebagian seorang pemuda duduk bersimpuh menghadap sang kuasa dan dia menangis dalam do’anya.
                “Ya Allah aku bersujud kepadaMu ampuni atas segala dosaku. Aku siap Ya Allah menjalani cobaanMu, akan ku hadapi betapa perihnya  masalahku sekarang. Aku tahu itu kujalani kehidupanku tanpa menyimpang dari syari’atMu. Ya Allah apabila jalan titianku salah, tolong peringatkan hamba. Hamba hanya ingin mencari sesuatu yang hamba inginkan, meraih sesuatu yang hamba cita-citakan. Mungkin kesalahan hamba, hamba merambat melalui jalan yang tidak di Ridhoi oleh Abah. Hamba tahu betapa penting dan manfa’atnya Riho Abah dan Umi. Tapi hamba sepelekan. Ya Allah tolong buka hati Abah untuk menerima segala yang ada pada diri hamba”.Zain menutup do’anya dalam gerimis malam itu.
                Layaknya gerimis yang membasahi dedaunan, air mata Zin membasahi jiwanya meratap hingga menembus relung hati.
                “Assalamu’alaikum…..” sapa seseorang, Zain menoleh ada seorang kakek berjenggot tebal, berbaju kumuh.
                “Wa’alaikumsalam” jawab Zain gugup.
                “Kamu pucat anak muda, apa kamu sakit?”
                “A…..aku …ku tidak sakit kek, aku baik-baik saja” jawab Zain berbalik dari kenyataan, dirinya memang sakit…sakit hati maupun badannya.
                “Kau seorang musafir?”
                “Bu….bukan kek…saya hanya…mmmm…” Zain bingung mengatakan siapakah dirinya, kakek tersebut tersenyum.
“Kalau kamu butuh tempat tinggal, kamu bisa tinggal bersama kakek” tawar kakek tersebut serius. Zain diam sesaat tak percaya.
                “Aku serius anak muda, marilah ….rumah kakek dekat sini” Zain tersenyum dan perlahan dia ciun tangan si kakek.
                “ Terima kasih, kek”
                Hari-hari dia lalui bersama sang kakek yang tinggal di pinggir kota, kakek bekerja sebagai tukang becak. Zain pun menceritakan semua yng menimpa dirinya, terutama masalah Tasya   yang membuat Zain sengsara dan juga cita-cita yang ditentang Abahnya.
                “Aku hanya ingin mengimbangkan kehidupan dunia dan akhirat kek, ketika di pondok aku telah belajar kitab, nahwu, shorof, saya juga mengetahui hukum, hadist dan memahami makna Al-Qur’an tapi saya juga ingin menekuni dunia yang aku sukai kek. Aku ingin belajar ilmu kedokteran dimana dari dulu saya sangat menyukai pelajaran Biologi dan Kimia” terang Zain. Si kakek mendengarkan dengan senyum prihatin.
                Jalan titian Zain mulai menemukan titik terang, apalagi setelah dimuat di Koran foto Tasya dan kekasihnya dengan judul MAHASISWA HAMIL DIBUNUH SANG PELAKU. Zain lega dengan semua itu, meski begitu Zain tak punya niatan untuk kembali ke rumahnya dan menunjukkan kebenaran di depan Abahnya. Dia masih ingin meraih cita-citanya dengan usahanya sendiri. Dan diapun kuliah lagi dengan beasiswa atas prestasinya, dan untuk kehidupan sehari-hari dia bekerja sebagai pelayan toko. Meskipun itu berbalik arah dengan kehidupannya yang dulu tapi Zain sangat menikmati hidupnya. Diapun tak pernah melupakan pesan Abahnya.
                “Hanya belajar saja dan menjaga diri dari maksiyat”
Meskipun Abahnya sangat membencinya, tap Zain tak pernah menaruh dendam atau sakit hati sedikitpun terhadap sang Abah. Justru dia ingin sekali menunjukkan kepada Abahnya kalau cita-citanya bukanlah sesuatu yang buruk.

    0 komentar:

    Posting Komentar

    silahkan beri komentar postingan ini,oke?