Oleh : NN (santri mayak)
Panas matahari membakar bumi, angin sepoi menggoyangkan pohon-pohon di sepanjang jalan raya yang ramai oleh kendaraan yang lalu lalang.Seorang gadis berkerudung putih dengan masih mengenakan seragam SMA berjalan di tepi jalan dalam keadaan menangis
“Ya…Alloh kuatkanlah hati hamba untuk menerima semua kenyataan ini ,bahwa hamba bukan bagian dari keluarga hamba. Hamba tidak tahu apa yang harusa hamba lakukan ya Alloh…”
Gadis itu terus menyelusuri jalan tanpa arah dan tujuan, setelah merasa hatinya tenang dia memutuskan untuk pulang, ia tidak ingin membuat kedua orang tua yang telah membesarkannya khawatir memikirkannya.
“Assalamu’alaikum…”Gadis itu mengucapkan salam dengan sedikit ragu.
“Wa’alaikumsalam…ya Alloh Nina,kamu dari mana nak? Umi sangat khawatir sama kamu, maafkan kami nak,”Seorang wanita setengah baya yang juga memakai kerudung seperti gadis itu memeluknya.Ia memeluk gadis yang bernama Nina dengan penuh kasih sayang.Seperti ia tidak mau terjadi apa-apa dengan gadis itu.
“Maafkan Nina umi, karena Nina telah membuat umi dan abi khawatir dengan Nina.” Nina berlutut di kaki uminya dia menyesal atas perbuatan yang dilakukan.
“Sudahlah Nina berdirilah! Kamu tidak salah sayang, umi tahu kamu pasti kecewa dengan umi dan abi.”Membantu Nina untuk berdiri.
“Iya Nak, Abi merasa bersalah sama kamu, karena kami tidak jujur sama kamu sebelumnya.” Meneluk Nina dengan rasa penyesalan.
“Abi dan umi tidak salah dalam hal ini, Nina tidak tahu kalau Abi dan Umi sangat menyayangi Nina”dengan tegas dan penuh keyakinan Nina.
“Kamu memang anak yang baik, Abi bangga bisa membesarkan kamu hingga menjadi gadis sholihah seperti sekarang.”mengelus kepala Nina dengan rasa bangga.
“Terimakasih Abi, ini semua berkat didikan Abi dan Umi sehingga Nina bisa seperti sekarang ini.”Mereka pun berpelukan dengan diiringi tangisan. Nina merasa bahagia sekali dibesarkan oleh orang yang sangat sayang kepadanya,tetapi ia sedih karena sebentar lagi dia tidak bisa merasakan kebahagiaan itu bersama mereka karena bukan anak kandung umi dan abinya.Hari ini orang tua kandungnya datang untuk menjemputnya. Mereka ingin mengajak Nina tinggal bersama mareka. Tapi karena Nina belum siap pergi,mereka akan menjemput Nina besok pagi.
Malam semakin larut,tetapi mata nina enggan di pejamkan .ia masih memikirkan kejadian yang dialaminya tadi siang.ia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya setelah ia tinggal bersama orang tua kandungnya.
“ya ,Allah hamba bingung apa yang harus hamba lakukan .hamba sangat sayang sama umi dan abi .hamba tidak ingin berpisah dengan mereka Ya Allah .Nina berdoa di tengah malam yang sunyi .Walau sudah lewat tengah malam tetapi nina tetap tidak bisa memejamkan matanya .
Keesokan harinya, tiba waktunya nina untuk Nina ikut kedua orang tua kandungnya Walau berat meninggalkan Abi dan Uminya tetapi Nina harus merelakannya.Dia harus menjalani hidup barunya bersama orang tua kandungnya.
“Umi ,Abi Nina pamit dulu ,jaga kesehatan kalian kalau ada waktu Nina pasti akan kesini lagi,Nina sayang sama Abi dan Umi .Terima kasih atas semua yang kalian berikan pada Nina.
Nina pamitan dengan abi dan uminya dengan perasaan sedih dan berat untuk meninggalkan keluarga yang telah merawatnya dari kecil.
“Nina jaga diri baik-baik ya ,Hormatilah kedua orang tuamu ,jangan kecewakan mereka,karena mereka lebih berhak atas kamu nak..,”umi memeluknya Nina diiringi tangi keduanya.
“Ia nak,do’a umi dan abi menyertaimu ,pesan abi tetaprajinlah sholat dan do’akan kami dan kedua orang tuamu,karena itu adalah kewajibanmu sebagai seorang anak “abi berpesan .
“ya abi Nina mengerti ,Nina akan selalu ingat pesan abi “kemudian Nina mencium tangan umi dan abinya dan berpamitan dengan mereka.perpisahan itu dipenuhi dengan tangis ,Nina sangat dekat dengan uminya walau berat untuk berpisah tapi Nina berusaha tabah.Ketika diperjalanan mrnuju rumah keluarga kandungnya Nina hanya diam ,Dia bingung apa yang harus ia lakukan.
“Nina …..Ayah dan ibu sangat bahagia karna bisa bersamamu lagi dan kamu bahagiakan bertemu dengan kami ..?”.ayahnya mengawali pembicaraan ,karna sejak tadi mereka hanya diam sememtara Nina hanya mengangghukkan kepalanya ,Dia masih belum terbiasa dengan keluarga barunya.
Sampai di rumah keluarganya ,Dia disambut anak yang lebuh muda “Ayah ,Ibu ..Ini Kak Nina Ya..?”tanya anak itu.”Iya Sayang ,Ayo ajak kakak kamu masuk..!”suruh ibunya .”Selamat Datang kak Nina krnalkan namaku Andreas.”Anak itu mengenalkan dan tersenyum ramah pada Nina,Ninapun membalasnya .
Kamu sekarang kelas berapa ?”tanya Nina mulai akrab.
“Aku sekarang sudah kelas 4 kak, dan kakak tahu nggak pelajarannya sulit-sulit sekali, aku jadi malas belajar” keluh Andreas.
“Kamu nggak boleh gitu, kasihankan ayah sama ibu sudah membiayai kamu sekolah tapi kamu malas-malasan” nasehat Nina pada adiknya yang ramah padanya walaupun baru kenal.
Sementara itu di ruang tengah ayah dan ibu Nina sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting. Mereka terlihat serius sekali.
“Bagaimana yah, ibu bingung apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan masalah ini, karena hal ini menyangkut kepercayaan” kata ayahnya sedikit meninggi.
“Kita bisa membicarakan dulu dengan Nina yah”
Tanpa sngaja Nina mendengar percakapan itu, Nina kaget ternyata kepercayaannya dan keluarganya berbeda, ayahnya adalah penganut Kristen yang taat dan disegani oleh orang-orang. Nina bingung apa yang harus dilakukannya, tidak mungkin dia akan mengikuti keyakinan keluarganya karena dia sangat mencintai islam. Menyadari Nina mendengar percakapan mereka, ayahnya memanggilnya.
“Nina, sejak kapan kamu berada di situ?” tanya ayahnya.
“Maaf, tadi saya mau ke belakang, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian,” kata Nina sedikit bergetar.
“Nina, ada yang ayah ingin bicarakan denganmu.” Merekapun membicarakan masalah itu dengan Nina, Nina hanya bisa diam, masalah yang dihadapinya saat ini lebih berat. Nina tidak bisa memutuskannya segera, dia butuh waktu untuk berfikir. Setelah kedatangan Nina di keluarganya, tetangga-tetangga membicarakan keluarga mereka. Mereka mayoritas adalah orang Kristen, mereka tidak suka dengan kehadiran Nina. Keluarga mendengar hal itu shock, mereka takut tetangga-tetangga akan mengucilkan mereka. Ayahnya sudah tidak tahan lagi. Ia meminta Nina untuk mengikuti keyakinan mereka.
“Tapi Ayah, Nina tidak bisa karena islam itu agama yang benar dan Nina takut dengan siksaan Alloh.” Nina memberi penjelasan pada Ayahnya,. Tapi, ayhnya tidak mau tahu, sepertinya hatinya sudah tertutup.
“Kalau kamu masih kukuh dengan pendirian kamu lebih baik kamu tidak usah panggil saya ayah lagi, saya tidak mau punya anak pembangkang seperti kamu. Saya menyesal membawamu ke sini,” Ayahnya murka dan berubah membencinya.
“Maafkan Nina ayah, jangan usir Nina, Nina tidak mau membantah ayah, Nina ingin jadi anak yang berbakti,tapi kalau harus mengikuti keyakinan ayah, Nina tidak bisa yah.” Nina menangis sambil memeluk kaki ayahnya.
“Lepaskan kaki saya! Baiklah saya beri waktu kamu berfikir, saya harap kamu memberikan jawaban yang kami harapkan jika kamu tidak ingin melihat keluarga ni dicemooh oleh orang-orang.” Ayahnya meninggalkannya menangis melihat perdebatan itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Suaminya adalah orang yang keras kepala. Dia memeluk Nina dan menghiburnya.
“Ibu, apakah ibu juga akan membenci Nina? Nina sayang dengan keluarga ini, tapi Nina tidak bisa mengikuti kemauan ayah.” Nina menangis di pelukab ibunya, dia merasa damai di pelukan ibunya, dia merasa damai di pelukannya.
“Sayang kamu sabar ya, Ayahmu memang keras tapi dia sayang dengan keluarganya, nanti ibu coba bicara dengan ayahmu.” Mengelus kepala Nina denagn penuh kasih sayang. Setelah tenang, Nina beranjak dan mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat. Jika dia sedang ada masalah dia akan merasa tenang setelah dia sholat. Setelah sholat dia melantunkan ayat al-qur’an dengan sangat khidmat dengan suara merdu dan indah.Membuat adiknya berhenti bermain karena mendangar suara indahnya. Adiknya duduk di dekatnya dan menikmati indahnya lantunan ayat Al Qur‘an yangb dilafadkan Nina dengan fasih dan menggetarkan jiwa. Sampai Nina selesai. Adiknya sangat tertarik dengan ayat Al Qur’an yang dibaca Nina. Dalam hatinya dia ingin sekali mempelajarinya “Kak, suara kakak bagus sekali dan bacaan kakak sangat menyenangkan hati, aku saja merinding mendengarnya.” Kata Andreas kagum. “Terima kasih Ndre, tapi masih kok orang yang lebih bagus dari kakak, kamu tahu gak kakak tuh merasa tentram setelah membaca ayat-ayat sucia Al-Qur’an dan masalah kakak serasa hilang dan kakak seperti merasa mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa.”Tapi kak, aku gak pernah diajari uang seperti itu, kakak belajar sama siapa, aku juga pengen seperti kakak.” Ucap adiknya polos,sementara Nina tersenyum mendengarnya, tiba-tiba dia teringat ayahnya, dia takut jika Andreas belajar mengaji ayahnya nanti marah dan pasti mengusirnya dan mungkin juga akan memarahi Andreas. Walaupun hatinya sangat senang karena adiknya menyukai Al- Qur’an tapi Nina tidak bisa mengajarinya , Nina tidak mau membuat ayahnya murka.
“Dik, maaf ya kakak tidak bisa mengajari kamu karena agama kita berbeda.”Ucap Nina dengan terpaksa.
“Emang kalau beda agama gak boleh belajar Al-Qur’an ?Apa salah orang yang beragama Kristen membaca Al-Qur’an.” Tanya Andreas penasaran. Tiba-tiba ayahnya muncul dan terlihat sangat marah.
“Itu semua salah, orang Kristen tidak boleh membaca Al-Qur’an karena Kitab kita adalah Injil dan kita harus mengamalkannya.” Ayahnya berbicara dengan nada tinggi dan sangat marah.
“Tapi ayah, Al-Qur’an itu beda . Aku merasa tenang jika kak Nina membacanya, aku ingin mempelajarinya.” Kata Andreas menentang kata-kata ayahnya. Membuat ayahnya semakin marah. “Jadi kamu yang membujuk Andreas untuk mengikuti ajaran islam sehingga dia berpaling dari agama Kristen, ayah sangat kecewa sama kamu.” Ayahnya sangat marah pada Nina.
“Andreas kamu sekarang belajar dan ayah minta kamu tidak bergaul dengan kakak kamu yang pembangkang ini.” Kata ayahnya dengan nada sengit. Andreas tidak bisa apa-apa, dia sangat takut jika melihat ayahnya marah. Sementara Nina hanya bisa menangis, begitu sulitnya masalah yang dihadapinya. Hanya ibu yang mengerti perasaannya, dia selalu menyemangati Nina. Dengan segala cara akhirnya ibunya bisa meluluhkan hati ayahnya. Ayahnya masih mau menerima Nina tetapi dengan syarat Nina tidak bilang sama tetangga bahwa dia bagian keluarganya.. Nina terpaksa menerima syarat itu walaupun tidak sesuai dengan harapannya, Nina menerima dengan senang hati, dia yakin ini adalah jalan yang ditunjukkan Alloh untuk menyelesaikan masalahnya dan dia berharap suatu saat Alloh membukakan hati ayahnya bahwa Islam adalah agama yang benar. Untuk menutupi identitasnya, Nina mengaku sebagai pembantu agar orang-orang tidak membenci keluarganya. Ibunya sangat sedih melihat penderitaan Nina, hati kecilnya sangat bangga memiliki putri sebaik Nina.
“Nina maafkan ibu nak, ibu tidak bisa menolongmu.” Ibunya merasa bersalah pada Nina.
“Inu, dengan menjadi pembantu di rumah ini Nina sudah senang sekali karena Nina bisa dekat dengan keluarga ini, sudahlah bu, ibu jangan sedih, ibu sudah melakukan hal yang terbaik buat Nina.” Nina mencoba menenangkan ibunya. “Kamu anak yang baik Nina, ibu bangga sama kamu.” Tiba-tiba terdengar suara ayahnya mengerang kesakitan, merekapun segera lari menghampirinya. Ayahnya terpeleset di kamar mandi dan mengalami pendarahan yang cukup banyak. Nina dan ibunya panik kemudian mereka membawa ayahnya ke rumah sakit. Ayahnya harus dirawat di rumah sakit karena lukanya cukup parah. Nina dan keluarganya sangat sedih. Nina selalu menunggu ayahnya di rumah sakit. Dia selalu mendo’akan kesembuhan ayahnya setiap selesai sholat. Dia rajin membaca al-qur’an ketika menunggu ayahnya. Ayahnya merasakan hal yang luar biasa saat mendengarkan Nina mengaji, sehingga dia meneteskan air mata. Sekarang dia mulai sadar akan keistimewaan ayat al-Qur’an yang dibaca Nina. “Nina maafkan ayah nak…” Kata ayahnya dengan suara lemah. “Ayah! Ayah sudah bangun? Nina ambilkan minum ya?”, “Tidak usah Nina, kamu memang berhati baik, kamu memang malaikat yang diutus Tuhan untuk ayah, maafkan ayah nak.” Ayahnya menangis dan meminta maaf pada Nina. “Ayah tidak salah, Nina mengerti keadaan ayah, lebih baik ayah sekarang istirahat ya?” Nina membantu ayahnya istirahat.
Dia senang akhirnya ayahnya sudah boleh pulang. Nina dengan sabar mengurus ayahnya sehingga sembuh total.
“Nina kamu istirahatlah, biar ibu yang merawat ayahmu. Sejak di rumah sakit kamu terus yang mengurus ayah, sekarang biar ibu saja.” Ibunya meminta Nina untuk beristiahat.
“Nggak papa bu, Nina ikhlas kok…, Nina tidak bisa diam saja melihat keadaan ayah seperti ini.” Nina tersenyum pada ibunya. “Iya Nina istirahatlah biar ibu yang menjaga ayah. Ayahnya ikut menasehatinya agar dia istirahat. Akhirnya Nina menaati perintah ayah dan ibunya. Saat Nina hendak tidur dia mendengar suara ayahnya berteriak dan menangis ketakutan, diapun pergi ke kamar ayahnya. Ternyata ayahnya sedang mengigau.
“Ayah! Bangun Yah! Ayah kenapa?” Nina membangunkan ayahnya. “Nina ayah takut, tadi ayah mimpidi kejar ular yang sangat besar, ular itu akan memakan ayah. Tapi ada orang yang memakai pakaian serba putih menolong ayah, dia menunjukkan ayah pada sebuah cahaya putih dan ketika ayah mengikutinya, ayah berada pada tempat yang damai dan ayah merasa tentram di sana ”. Ucap ayahnya kemudian menangis.
“Ayah tenanglah mungkin itu petunjuk Allah”, Nina menenangkan ayahnya. “Mungkin kamu benar Nina, sekarang ayah sadar bahwa ayah telah memaksa kamu untuk masuk agama kristen. Kamu adalah orang yang dikirim Allah untuk menunjukkan ayah pada kebenaran, maafkan ayah nak,” ayahnya memeluk Nina.
“Alhamdulillah, Nina senang sekali ayah, karena sekarang ayah sudah mau menerima Nina lagi di keluarga ini”. Nina tersenyum pada ayahnya. “Bukan Cuma itu Nina, ayah juga memutuskan untuk masuk islam. Ayah tidak peduli apa kata orang tentang ayah”. Ayahnya memberikan kabar gembira bagi Nina.
“Ayah, Nina sayang sama ayah, Nina senang mendengar hal itu ayah’, Nina memeluk ayahnya. Ibu dan adik Nina juga Nina juga gembira mendengnar pernyataan ayahnya. Ibu dan adik Nina juga gembira mendengar pernyataan ayahnya, mereka juga masuk islam. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat yang disakasikan oleh Pak Kyai dan warga lain mereka mengadakan syukuran. Acara itu juga dihadiri oleh kedua orang tua angkat Nina. Mereka ikut bahagia. Nina dan keluarganya memulai hidup baru, mereka menjadi muslim yang taat dan membangun keluarga yang sangat bahagia. Itu semua bisa terwujud karena kebaikan dan ketulusan hati Nina yang mampu menghidupkan bunga-bunga surga.

0 komentar:
Posting Komentar
silahkan beri komentar postingan ini,oke?