Pages

SELAKSA CINTA KASIH DI PESANTREN

Oleh : NN (santri mayak)

Cinta…
Jika memang kau dicipta untuk kehidupan
Maka izinkan aku merengkuhmu
Biarka aku memilikimu
Namun jika tidak…
Maka luruhlah aku bersamamu
Agar aku menjadi sepertimu
Cinta…

                Darul Huda heboh…..! Bukan karena gebyar Peti Ceri yang baru-baru ini diselenggarakan, juga bukan sebab akan adanya alat canggih yang sebentar lagi akan didatangkan dari Surabaya… pasalnya, Pon Pes Darul Huda kedatangan Ustadz baru, Ustadz Jamal namanya, ustadz baru itu masih muda, lajang pula. Apalagi kharismatik kesempurnaan yang ia bawa. Pintar, berwibawa, gaul cool abiz, trus… ini dia elemen utama kehebohan itu. Parasnya adalah kolaborasi sempurna Roger Danuarta, David Beckham, serta Hrithik Roshan. Bayangin aja, gimana nggak “brekele” santri putrid yang ngeliatnya.
                Tapi kehebohan itulah yang akhirnya membawa masalah bagi Maya, salah satu santri putrid yang nge-fans banget sama Ustadz Jamal. Sore ini, sebelum berangkat Diniyah, dia harus berhadapan dengan teman-temannya yang mengira bahwa Maya telah berubah sejak kedatangan Ustadz Jamal.
                “Jadi intinya, kalian nggak suka aku pedekate sama tuch ustadz???” Tanya Maya garang pada ketiga sahabat karibnya, Rara, Salsa, dan Zahra.
                “Pedekate? Jadi sudah sejauh itu?? Masya Allah May, seharusnya kamu sadar apa yang sudah kamu perbuat itu salah!” desah Rara.
                “Salah??!! Kata siapa??!!” berang Maya.
                “Bukan… bukan begitu maksud kami.” Potong Salsa cepat.
                “Kesalahanmu hanya terletak pada waktu. Kau tak sadar itu.”
                “Sehabis Diniyah, kamu biasanya yang paling tak sabar menunggu kami untuk belajar bareng. Kamu juga yang paling nggak suka jika saat pelajaran kami membicarakan hal lain selain pelajaran. Tapi akhir-akhir ini, tipa kali kita  belajar bersama, kamu pasti nyeleneh dengan membicarakan setiap detail tentang Ustadz Jamal. Bahkan sekarang, kamu sudah mulai jarang kumpul dengan kami, kemana???” suara Salsa meninggi. Maya mengepalkan tinjunya.
                “Aku paling nggak suka ada orang menyelidiki urusanku!!!” geram Maya.
                “Bukan menyelidiki May, tapi menjaga. Ustadz itu masih muda, sendirian lagi. Jika kamu terlalu dekat dengan beliau, bisa timbul fitnah dari  orang lain. Salah-salah kamu nanti dikira punya hubungan khusus dengan beliau. Seharusnya kan, bias ghodul bashor, apalagi beliau ustadz kita sendiri.” Sela Zahra.
                “Alah… nggak usah sok dech… aku kayak nggak tau aja kalau kalian sebenarnya juga suka sama ustadz itu. Ceritanya iri nich… karena keduluan? Jangan gitu lah… tapi barangkali memang kalian harus hati-hati agar tidak dibilang kurang sopan. Apalagi kamu Zahra, kamu kan sudah punya tunangan…” cibir Maya.
                Rara, Zahra, dan Salsa hanya bias diam, mereka piker, susah ngomong sama orang keras kepala seperti Maya. Beberapa menit kemudian Maya dengan santai melenggang pergi meninggalkan ketiga sahabatnya. Maya tak menyadari tatapan sendu Zahra.
                “Akh Maya…. Kau tak tau yang sebenarnya,….”  Desis Zahra lirih hamper tak terdengar.
                Dan Maya memendam amarah pada ketiga sahabatnya, bagi Maya mereka terlalu sentiment hingga menganggap apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Meskipun begitu, iapun mengakui kalau sekarang mereka renggang, jarang diskusi kayak dulu lagi, atau belajar bersama, atau yang lainnya yang sering meraka lakukan bersama. Dan itu berawal sejak kedekatannya dengan Ustadz Jamal.
                Pandangan Maya tentang kehidupan yang tak pernah adil padanya atau mengenai cinta yang tak sekalipun ia kenal, berubah semenjak ia selalu mengahabiskan waktunya untuk berdiskusi dengan Ustadz Jamal sehabis mengaji Diniyah. Namun Maya ragu sekarang, ragu pada hatinya sendiri, benarkah ia dekat dengan Ustadz Jamal karena ingin merubah pendiriannya? Apakah kedekatannya itu bukanlah hanya sebagai kedok belaka? Bahwa sedikit demi sedikit dan mau tak mau ia harus mengakui jika ia memang menyimpan perasaan khusus pada Ustadz Jamal. Dan perasaan itu hanya dia yang tau.
                “Maya…” panggil seseorang saat Maya tengah duduk melamun di sudut mushola saasehabis jam belajar di pondok. Maya menoleh, wajahnya berubah keruh ketika melihat siapa yang memanggilnya tadi.
                “Aku mencarimu kemana-mana, rupanya kamu ada di sini.” Kata Zahra seraya duduk di samping Maya.
                “Buat apa? Menceramahiku lagi?” cibir Maya. Zahra terdiam sesaat, suasana menjadi kaku sejenak.
                “Kamu kenapa May?” Zahra berusaha mencairkan suasana.
                “Eh… denger ya… aku kan udah pernah bilang ke kalian, aku paling nggak suka urusanku dicampuri. Jadi lebih baik kamu pergi saja.” Maya berkata sinis. Dia merasakan amarah seakan akan meledak.
                “May… kami sahabatmu. Kami siap membantumu kapanpun kamu mau. Tapi bukan dalam kemarahan seperti ini.” Suara Zahra labil.
                “Sekarang kalian malah menyalahkanku. Itu yang kamu bilang sahabat???!!!” Maya berkata tak sabar , emosinya memuncak. Zahra menghela napas panjang.
                “Kamu menyukai Ustadz Jamal?” Tanya Zahra tiba-tiba. Giliran Maya terdiam.
                “Katakan sejujurnya padaku May, aku tak akan menyalahkanmu.” Ujar Zahra, Maya tetap bungkam. Dia hanya mempermainkan ujung slayernya pelan.
                “May….” Ujar Zahra lagi.
                “Aku… aku… ah!!! Entahlah aku juga tak mengerti. Yang jelas, sejak dekat dengan Ustadz Jamal aku merasa terlindungi, damai, dan….. semua berubah.” Lirih suara Maya.
                “Kamu menyukai beliau?” Tanya Zahra lagi.
                “Zahra, sudah kubilang aku nggak tau. Jangan paksa aku!!” elak Maya.
                “Jangan bohongi perasaanmu sendiri. Cinta itu milik siapa saja. Tanpa adanya syarat ataupun perjanjian siapapun boleh memilikinya. Kamu berhak memiliki cinta itu untuk Ustadz Jamal. Karena kamu punya hak. Tuhan menganugrahkannya untukmu. Benar kamu menyukai beliau?” Tanya Zahra memandangi wajah Maya yang tertunduk. Maya diam lama sekali, dan Zahra tetap menunggu di sampingnya. Kemudian Maya mengangguk pelan, Zahra tersenyum.
                “Sebab apa? Karena beliau tampan, begitu? Atau karena masih sendiri?” Tanya Zahra. Maya menggeleng cepat, pandangannya menerawang.
                “Tidak karena apapun. Aku bahkan tak menyukai wajah beliau, namun Ustadz Jamal benar-benar berarti buatku. Benar-benar bias membuatku membuka mata bahwa ada kehidupan lainyang telah aku lupakan selama ini. Kamu tau kan? Jalan hidupku kelam, sejak kedua orang tuaku bercerai, aku bahkan tak merasakan hidup lagi. Aku menganggap bahwa Tuhan tidak adil, dan sejak saat itu aku tak mau lagi mempercayai cinta. Cinta yang menurutku hanya permainan belaka. Namun Ustadz Jamal bias merubah semuanya, aku berubah sejak dekat dengan beliau.” Mata Maya berkaca-kaca.
                “Mengapa kamu memilih Ustadz Jamal, menurutku beliau biasa-biasa saja.” Ujar Zahra.
                “Kau masih ingat ketika beliau menerangkan tentang hakekat hidup? Juga tentang cinta atas nama Allah? Waktu iti kan kamu menanyakan itu. Nah, sejak saat itulah aku sadar bahwa Ustadz Jamal memiliki aura berbeda di mataku. Karenanya kusempatkan waktu untuk berdiskusi dengan beliau setiap habis Diniyah.” Jawab Maya.
                “Dimana kalian biasanya berdiskusi?” Tanya Zahra.
                “Di… Madrasah lantai tiga.” Jawab Maya.
                “Kamu tau May? Kamu telah melupakan kami. Bahkan kamu tak sadar bahwa apa yang kamu lakukan itu mengundang fitnah. Berdua di tempat sepi denga lawan jenis, apa kamu tidak takut itu?” Tanya Zahra denga suara ditekan.
                “Ustadz Jamal tidak pernah mempermasalahkannya kok.” Sangkal Maya.
                “Itu karena beliau tidak mau mengecewakan kamu. Apa kamu pernah kerumahnya?”
                “Belum”
                “kenapa?”
                “Beliau tidak pernah mau memberitahukannya setiap kali aku bertanya.” Jawab Maya. Zahra terdiam, lalu bertanya pada Maya.
                “May…. Seandainya kamu disuruh memilih, kamu lebih memilih siapa, kami sahabatmu, atau…….. Ustadz Jamal?”
                Maya menunduk lalu dengan segera dia menggeleng.
                “Aku memilih keduanya, kalian semua memiliki arti tersendiri untukku.” Jawabnya.
                “jika Ustadz Jamal sudah memiliki… emm… tunangan misalnya, bagaimana?” Zahra bertanya hati-hati. Wajah Maya tiba-tiba sendu.
                “entah… namun yang pasti, Ustadz Jamal selalu menjadi harapanku. Aku akan selalu menenti harapan itu nyata.”
                Zahra menghela nafas panjang, dipandanginya wajah Maya.
“Apakah kamu mau berjanji padaku?” Tanya Zahra.
Maya memandang Zahra tak mengerti. Seakan mengerti hal itu, Zahra segera melanjutkan kalimatnya.
“Seandainya nanti harapanmu itu nyata, kamu akan melandasi cintamu itu karena Allah.” Ujar Zahra.
“Kenapa…kenapa kamu berkata seperti itu?”
“jawab pertanyaanku, jangan berbalik menanyaiku!” Maya bungkam.
“tentu saja, yah… tentu saja, sebab aku ingin semua yang ku lakukan ini hanya karena Allah, bukan siapapun,” jawab Maya akhirnya. Zahra bangkit hendak berlalu.
“Zahra…” panggil Maya, Zahrapun menoleh.
“Mengapa kamu bertanya seperti itu?” Tanya Maya padanya. Zahra tersenyum.
“Sebab aku menyayangimu. Kami semua menyayangimu. Dan aku ingin melihatmu bahagia dengan cinta yang pertama kali kamu terima.” Jawab Zahra.
Maya memandangi kepergian Zahra dengan tatapan penuh heran. Namun detik berikutnya dia segera kembali ke kamarnya. Mereka berempat memeng sahabat karib, tapi tidak tinggal satu kamar. Dan persahabatan mereka dimulai di mushola itu. Karenanya Maya bertekat akan meminta maaf kepada Rara, Salsa, dan Zahra besok. Kini dia menyadari bahwa mereka memang menyayanginya dan merekalah sahabat-sahabat terbaik yang dia miliki.
“Zahra pulang??!! Kapan?? Kok aku nggak tau??” Maya terkejut mendengar laporan Rara dan Salsa barusan, sementara keduanya hanya memandanginya tajam. Maya merasa nggak enak sendiri dipandang seperti itu. Ia yang bermaksud meminta maaf urung melakukannya.
“Kamu tau kenapa dia pulang?” Tanya Salsa sinis. Maya menggeleng.
“Nich… baca suratnya! Dan kamu berhak tertawa senang sekarang!” Setelah menyerahkan surat itu ke tangan Maya, Salsa berlalu diiringi Rara, tinggalkan Maya sendiri memandangi lipatan surat itu. Perlahan-lahan Maya membukanya dan membacanya.

Assalamu’alaikum, May….
Maaf aku tak member tahumu kalau aku pulang, soalnya aku buru-buru. May… sejak kamu mengatakan kejujuranmudi hadapanku tadi malam, baru aku tahu bahwa kamu memang berhak atas cinta itu… dan aku kalah darimu.
Aku menganggap bahwa semuanya adalah perjalanan kehidupan yang aku terima Dari Tuhan, hingga aku melupakan sesuatu yang sebenarnya adalah bagian utama kehidupan itu. Cinta… yah…  dan aku belajar darimu untuk memilikinya.
May, maafkan aku karena tak memberitahumu sebelumnya, bahkan Rara dan Salsapun baru mengetahuinya tadi malam, bahwa sebenarnya aku adalah tunangan Ustadz Jamal. Aku tahu, ini memang sulit dipercaya. Pertalian itu sudah dimulai sejak sebelum beliau memutuskan mengajar di pondok Darul Huda ini, setahun yang lalu. Tapi kamu tak perlu hawatir, aku akan berusaha menjadikan harapanmu itu nyata. Hari ini aku pulang bersama Ustadz Jamal untuk menjelaskan semuanya pada orang tua kami.
May, aku ingin kamu tetap menjaga janjimu seperti yang kamu ucapkan tadi malam. Dan aku yakin Insya Allah Ustadz Jamal akan mengerti.
Percayalah May… kami semua menyayangimu….
Wassalamu’alaikum…
Zahra

                Maya menangis mengutuki dirinya, dia merasa menjadi orang paling bodoh dan paling egois sekarang. Dia telah melupakan sesuatu yang sebenarnya sangat berarti untuknya, betapa kebaikan dan persahabatan mereka memang lebih indah dari apapun.
“dan Zahra… janji itu pasti akan selalu ku jaga, karena kalian adalah sahabat terbaikku, dan aku juga sangat menyayangi kalian…” ikrar Maya pelan.

Air mata adalah syair yang terindah
Dan cinta yang paling hangat
Cinta terasa berarti jika kita memahaminya
Cinta semakin terasa berarti manakala dia
Telah pergi meninggalkanmu seorang diri

    0 komentar:

    Posting Komentar

    silahkan beri komentar postingan ini,oke?