Oleh : NN (santri mayak)
Malam yang semakin dingin, langit hitam telah mengguyurkan derasnya hujan dengan kilatan petir seperti potretan alam. Gemuruh guntur bersahutan memecah keheningan malam. Terlihat rumah sederhana tak jauh dari jalan tak beraspal, dua pohon mangga dan berbagai bunga yang menghiasi rumah sederhana itu, terlihat asri dan menyejukkan. Hujan semakin reda, malam yang dingin menyelimuti kesedihan keluarga Pak Habib untuk melepas kepergian putrinya tholabul ‘ilmi di pesantren.
Gadis berusia 18 tahun anak bungsu dari dua bersaudara sedang membereskan keperluan yang akan dibawa ke pesantren.
“Nduk… kalau nyampek di pondok hati-hati, jaga diri baik-baik. Kan sudah jauh dari keluarga. Ibu dan Abah Cuma bisa ngantar kamu denagn doa”, ucap Ibu (terlihat sudutmata ibuku berair).
“Iya bu… Abah dan Ibu juga hati-hati ya….Jadi BESOK Maria diantar Mas Yusuf dong Bu!”
“Sekalipun Yusuf juga berangkat ke Malaysia , katanya banyak sekali tugas yang harus dikerjakan menjelang semester akhir.” Ibu membantuku menjinjing tasku ke samping almariku.
“Maria…” panggil Abah ikut berbicara.
“Nggih Bah…”
“Berarti kamu masuk pesantren di akhir tahun? Bener kamu nggak ingin seperti mas kamu yang kuliah? ”
“Mboten Bah… kalau Maria kuliah ntar Mas Yusuf kerepotan, Abah kan tahu sendiri kalau Maria itu pengen banget nyantri dari kecil, Alhamdul;illah Allah mendengar do’a Maria, Bah…kalau Maria kuliah mau jadiapa lho? Maria kan nggak bisa kalau langsung terjun bersama mahasiswa.”
“Yo wis nek tekadmu nyantri tenanan, ntar kalau dah di pondok jo nglirik putrane yai ne lo…, nggak pareng…”canda Abah diiringi senyuman ibu menggodaku.
“Nopo to Bah…Maria niku sinten? Pinter nggih dereng, ayu nggih mboten!”
Memang Maria selalu merendahkan diri. Sifat pemalunya memperlihatkan kelembutan dan kelemahan hatinya. Gadis jelita yang berhidung mbangir dan selalu rapat oleh busana muslimnya membuat para tetangga dan teman-temannya ingin sellu mendekatinya untuk menjadikan kekasih hidupnya.
Tapi inilah Maria, dia gadis yang bijaksana, ingin selalu mencari kesempurnaan ilmunya. Dari kecil abah dan ibunya selalu mendidiknya dengan agama yang benar. Rumah sederhana ini terpenuhi dengan cahaya dari kitab suci Al-Quran yang menghiasi hati pemiliknya.
Pagi yang berembun…..
Ibu dan abah mengantarkanku sampai depan pagar bambu rumah. Tak lupa kucium tanan krdua orangb tuaku penuh kasih sayang. Mas Yusuf juga melakukan hal yang sama, dialah anak lelaki yang bertanggung jawab, menjadi teladan untuk adiknya.
Di perjalanan menuju pesanyren, mas Yusuf selalu memberi motivasi semangat untukku. Ilmu adalah segalanya.
“Kua gadis cantik adikku, cantikkanlah juga ilmumu dan sempurnakan hidupmu dengan seorang yang di cintai Allah. Mengabdilah pada pangeran berhati emas untuk meraih surganya”. Mas Yusuf tersenyum memendangku, dia memang sayang padaku apapun permintaanku akan di wujudkannya bila ia mampu. Dia selalu menghormati kaum hawa, karena perempuan penyempurna hidupnya. “ Adikku do`akan mas berhasil meniti kehidupan ini “. Ucapnya tersenyum.
“ mas Yusuf…..do`aku selalu menyertaimu Allah selalu bersama orang yang mulia “.
Hidup baru….. kulangkahkan kakiku menuju masa depan yang membahagiakan. Pesantren yang terletak di tengah desa ini membuat ketenangan hidupku. Santrinya banyak , sehingga ada pembatas antara putra dan putri.
Untuk kelas VI tempat belajarnya di aula samping gedung putri, dengan santri putra putri terhalang kelambu hijau. Dengan ketekatanku, kecerdasanku serta do`a yang tak lalai ku panjatkan, usahaku mmbuahkan hasil maksimal. Aku……. Maria masuk ke kelas IV . Dan Cuma dua santri yang di terima masuk k kelas IV. Yaitu aku dan Syifa. Walaupun baru prtama kali belajar kitab gundul (kitab kuning) nggak sesulit yang ku bayangkan, untung teman sekamarkupun sekelas mau membantu kesulitan yang aku alami. Akhirnya aku dan Syifa bersahabat.
“Maria” panggil ukhti Sila. Dia memdekatiku.
“ya ukhti? Ada apa? “. Tanyaku pada kakak kelasku Sila.
“ kamu ngga` pulang liburan ini? Jarang –jarang banget lho pondok libur, mungkin setahun Cuma 3 kali!” Dia mengajakku duduk di bangku teras asrama. “ah……….mba` Sila syukur-syukur ada liburannya dari pada ga` ada sama sekali ha….ha…..”. tawaku pelan memecah kecanggungan. Ukhti Sila adalah senior yang membibimbingku pertama kali kulangkahkan kaki di pesantren ini.
“ya dah dech kamu temenin mba` di pesantren ya…!, so`alnya kelas VI disuruh jagain pondok, ntar kamu tidur aja di kamr mba`!. Eh………Syifa pulang ya? Tanya mba` Sila.
“iya... katanya dia sudah kangen sama keluarganya, mungkin keluarganya pada ngumpul, so`alnya kakak dari Jakarta dan Sulawesi datang”.
“ Kamu sendiri ngga` kangen?’’
“ Mba Sila ada-ada aja!, ya kangen lah……. Tapi mba` tau ndiri kan Maria disini baru setengah bulan?, rumah Maria juga ngga` dekat< mMas Maria mungkai juga ngga` pulang, mungkin Ibu dan Abah yang menjenguk Maria”. ceritaku,mba` Sila mendengarkan denga saksama.
“Maria punya Mas? Dimana sekolahnya?”
“ dia kakak kelas mba` Sila, sekarang kuliah sambil bekerja di Malaysia namanya Mas Yusif”.
“wah……. Pasti tampan seperti namanya?”
“ mba` Sila ngada dech!”.
Liburan akhir tahu ini kunikmati hidup di pondok untuk pertama kali, dan kegiatanu mulai berbeda, setiap habis dhuha, asar dan isya`, aku belajar tajwid dan mulai melancarkan bacaan Al-Qur`anku pada Bu Nyai istri pendiri pesantren ini. Aku ingn seperti mereka!. Ulama` yang selalu mengabarkan islam yang damai. Mmeraka yang hafal kitab suci dengan lantunan yang merdu dan indah.
Sepulang dari ndalem Bu Nyai, aku brpapasan dengan seorang lelaki. Cepat-cepat kutundukkan kepalaku utuk menghindari tatapan itu,aku takut!!. Dosakah itu?, YaAllah jangan beri aku cobaan dari tatapan itu. Tatapan yang teduh tenang dan damai. Kenapa perasaanku tiba-tiba memikirkannya? Memikirkan postur tinggi, berkulit manis, berkemeja coklat muda. Tatapan itu……. akh…… membuat konsentrasiku goyah. Tuhan…..jagalah hatiku ini…… biar tak masuk nerakamu.
“Maria ayo makan!” ajak mba` Sila.
“ngga` mba`!” jawabku takut mba` Sila curiga.
“Maria jangan bohomg sama mba` lho… Maria dah tahu ndir,” .
“iya mba`!, mba` makan aja Maria mau tidur.
“lho…lho…lho… nga` biasanya kamu habis dhuha tidur?, ada apa sicsh…?
( mba` Sila tolong aku! Tolong mba` pergi dulu jangan membuat Maria semakin bingung!... ) batinku menjerit.
Kulangkahkan kaki menuju lorong kamar mandi putri. Kuambil air dan kubasuh ke muka berkali-kali berharap Allah menghilangkan perasaan aneh di fikiran yang menghantuiku.
Kuambil air wudhu untuk mensucikan hati dan fikiranku. Pesantren saat siang hari terasa sepi, kakak senior lebih memilih tidur untuk memanjakan dirinya. Kubuka pintu kamarku. Sepi, masih bersih dan rapi. Siang ini aku akan menghabiskan waktu di kamarku sendiri, dan pasti mba` Sila bingung mencaruku. Yach… biarlah , Maafkan Maria ukhti…
Aku duduk di atas sajadah dengan mukenaku untuk menanti adzan dzuhur. Akupun mulai nderes Al-Qur`an yang sudah kusetorkan. Kata mba` Sila suaraku sat mengaji indah dengan tartil yang fasih. Sampai di surat Mariam juz 12 akhir, tiba-tiba sosok itu di depanku. Tatapan yang tak sengaja , tak ada 7 detik, tapi semua itu bisa menggangu konsentrasiku. Tiba-tiba hati ini ikut berargumen…..
“ Subhanallah…Allah telah melukis wajahnya yang teduh dengan luar biasa, siapakah gerangan itu? Dapatkah aku mengenalnya?, hatiku menjerit.
“ Astaghfirullah hal `adzim…..” Ku hentikan nderes Al-Qur`an ku “ YaAllah hilangkan cobaan ini dariku”.
Selesai bermunajat, tak kulepaskan mukenau, tapi kuraih Al-Qur`an di atas meja, kulanjutkan hafalanku. Kukeraskan lantunan bacaanku, dengan tartil, aku tak ingin tatapan itu muncul menghantuiku, sampai di surat Al-Furqon juz 18, kurasakan sentuhan di lenganku, dan kuakhiri hafalanku.
“ shdaqollohul`dzim….Al Fatikhah”. Kudapati mba` Sila duduk di depanku dengan mata berair.
“ sungguh indah bacaanmu Maria! Apa penyebab kau menyendiri di kamar? Kau marah padaku?, katakanlah!” ucapnya sedih.
“Mba` Sila Maria ngga` marah, Maria menyendiri karena Maria ingin tenang, percayalah!.
“benarkah?” mba` Sila memelukku.
Sehabis makan siang di kamarku, mba` Sila bercerita tentang pelajarannya, katanya kelas VI itu asyik apa lagi seatap dengan santri putra. Hanya di satir kelambu hijau tua. Mba` Sila bercerita tentang seseorang yang mengagumi dirinya.
“dia anak semester VI jurusan Ushuluddin, dia pendiamdan cuek!. Mba` pernah bertemu dia tanpa sengaja saat aku dan teman-teman mba` keluar membeli kebutuhan kopeasi. Saat itu dia tersenyum ke mba`. Dan mulai sekarang kata temen deket mb`, dia mencari mba`. Tapi itu semua mba` simpan di hati. Dan mba` baru pertama kali cerita ke kamu Maria,”. Ceritanya.
“Waah… tapi mba` tidak ….”
Nggg, mba` tahu Maria, jika dia sungguh-sungguh, dia akakn langsung izin ke orang tuaku, oya,!. Dia juga punya adik baru aja dia lulus dari sini, kata kakaknya dia itu mau ngelanjutin ke AL-AZHAR , mungkin dia sowan ke Yai”.
Aku diam terpaku entah dari mana tib-tiba tatapan itu masuk menghantuuku. YaAllah …… kasih kesempatan untuk bertaubat kepadamu.
“hei… Maria, kok nglamun,? Mba` Sila menyikutku.
“oh…. Iya mba`, dari tadi mba` menyebutmya dia aja! Ngga` punya nama ya mba` he…”
“o… kamu pengen tahu? Namanya Wafa, cukup panggilan aja ya! Mba` mohon Maia diem tentang apa yang mba` ceritakan. Pintanya.
Musim semi ini membuat malam emakin dingin. Gadis berjilbab wrna biru itu berjalan menunduk dari ndalem Bu Nyai. Bertaberan bintang dilangit dengan cahaya bulan sabit, memperindh lukisan langit malam. Pesantre sepi… terlihat tiga santri putri berjaga di depan gerbang deoan sambil mendengarkan kerasnya volume radio di sampingny, denan setumpuk makanan ringan dan sebotol besar minuman , membuat posisi asyik banget untuk bercerita bertema bebas.
“Maria…” panggil mba` Sila berjaga di pos. kuamati orang yang berada di samping mba` Sila. Wajah yang tak asing di pelupuk mataku. Aku ngga` percaya masih berfungsikah pelupuk mataku?, wajah yang selama ini u rindu, yang hadir dalam hatiku. Aku yakin semua organ tubuhku masih berfungsi. Semakin dekat, semakin cepat kaki ini untuk melangkah.
“ibu… Abah… kupeluk tubuh mereka. Kedua orang tuaku menjengukku di pesantren. Tubuhhu kak terlihat karena aku dalam dekapan mereka. Mba` Sila menitihkan air mata melihat kebahagiaanku malam ini.
Abah langsung ke ndalem Yai, Ibu dan mba` Sila kuajak ke kamarku. Malam ini orang tuaku menginap. Takterasa jam dinding kamarku menunjukkan angka 24.30 akupun bergegas berdiri meninggalkan meraka, kuambil air wudlu. Kembali kakamar tak kudapati Ibu dan mba` Sila. Ku pakai mukena dan ku mulai dengan niat sholat sepertiga malam.
Setelah salam tatapan itu….. ya Allah….. Mulai saat itu setiap aku mengingatnya ku hadiah Fatikhah untuk menghapus cobaan itu.
Kutatap wajah Ibu yang teduh oleh basuhan air wudlu dibalut mukena putihhnya.
Haridemi hari telah terlewati bulan telah berganti, tahunpun telah berlalu. Bumi dan langit bertasbih padaMu, ribuan Malaikat berdo`a padaMu ya Allah.
Maha suci engkau ya Allah yang selalu menepati janji. Cukuplah ku percaya dengan satu janjiMu. Maka kehidupan di dunia ini akan terasa jauh lebih indah. …. Semua akan terasa jauh lebih indah. Sungguh kami tidak pernah memiliki. Kami tidak pernah mempunyai. Engkaulah yang maha memiliki dan mempunyai. YaAllah… bahkan diri kami sendiri bukan kami yang mempunyai.
Hatiini berdesie hebat saat kaki ini melangkah ke ndalem, karena di panggil pengasuuh yacch… terasa cepat memang tak terasa 4 tahun, hati ini menimba ilmu di pesantren, kedatnganku di sambut hangat oleh istri yai ku. Ku duduk menunduk di depan beliau, Yai mulai bertanya.
“Maria…” Yai menggantung prtanyaan membuat hati ini terasa bergetar
“Maria… ini adalah pesan yang mengejutkan mungkin, semua tinggal persetujuanmu.kemarin malam datang seorang alumni sini yang melanjtkan bea siswanya di CAIRO dia bercerita banyak opadaku ternyata hatinya menaruh rasa kagum darimu muai tatapan itu yang tak sengaja, Allah telah mearuh seberkas cahaya di hatinya. Cahaya iti kamu Maria, Alhamdulillah hafalanmu telah tersetorkan 6 bul;an yang lalu”.
Aku diam samakin tunduk gemetar hati ini bercampur aduk aku mengingat kejadin waktu lalu tatapan itu aku nyaris lupa seetika.
“nduk…” panggil bu nyai.
“maria… sejak kejadian itu dai sulit melupakannmu seorang itu menyayangimu karena Alah mahluk ciptaan Allah dia melamarmu, menyutingmu, tadi malam Abahmu sudah dihubungi, dan sekarang senmua hanya tinggal kamu yang menentukan.” Yai diam.
Aku diam seribu bahasa ingatanku kembal sempurna. Ya tatapan itu, pemuda berkemeja coklat muda Ya Tuhan…. Apa ini yang dinamakan anugerah dariMu… ? aku diam dan semakin menundud itu tandanya aku menerima lamaran ini.
Ya Allah… anugerahmu sungguh diluar dugaan. Lelaki yang menatapku tak leih dari 7 detik ini tak sengaja pula dia akakn menjadi teman hidupka. Ya Tuhan… sisa hidupku telah ku badikan padanya untk merimtis kehidupan menuju ridho Mu.
Kemeriahan ini…… terdengar sholawat nabi yang di dendangkan oleh hadroh apesnren yang membahana keseluruh desaku.
Ya Allah tak henti-hentinya hati ini memujamu. YaAllah lantunan surat Arrohaman yang menggetarkag jwa merobohakan tulangku melemahkan hatiku.
Hanya Engkau yang memberi anugerah di luar dogaan kami. Ya Allah sungguh kami tak pernah memiliki tak prerna mempunyai dan Engkaulah yang maha memiliki dan
mepunyai eisi langit dan bumi. Malam ini penduduk langit mencatat ama,l yang bersejarah ini.
Kak Faris telah mengisi seluruh ruang hatihu wajahnya yang teduh, tenang, semakin membuat katampanannya membuncah beretar di gelora jiwaku. Dia seorang yang sabar menerima apa adanya dan apa kekuranganku.
Malam ini aku talah di bawa ke rumah baru untuk merintis cemerlangnya masa depan, Ibu dan abah tak henti-henti memberi do`a brokah untuk kami. Dia imam yang adil dan bijaksana, bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan
“ Dinda Maria sungguh cantik namamu secantik perilaku dan ahlakmu, sungguh bahagianya hati ini memiliki peri jewlit selembu hatimu “ ucapnya aku tersipu malu . angin malam dan pepohonan berdzikir padamu Ya Allah. Sinar bulan malu mengintip indahnya malam. Penduduk langit berdo`a pada Mu untuk hamba-hanmba yang patuh pada Mu.
Sore hari…..
Aku berjalan bergandengan dengan pujaan hatiku, tak beralas kaki , ujung jilbabku menari nari tertiup angin pantai di sore hari. Duduk dengan kaki terbenam pasir menghadap matahari, ombak berdeburan memeah kesejukan sore itu.
Matahari bergerak menghujam bumi semakin rendah. Jingga memenuhi langit, indah. Angi bertiup lebih lembut. Menatap bentang cakrawala yang elok nian. Burung camar ber kekikan kembali ke sarang. Ombak semakin kencang, pantai terlihat menyejukkan.
“ya Allah sungguh menakjubkan kuasamu ku memiliki yang tulus mancintaiku. Berlayar menuju RidhoMu. Perasaan ini datang karena Mu “. Batin ini berteriak.
Kak Faris menggenggam jemariu dengan hangt dan lembut ketenangan itu sungguh terasa.melangkah pelan melewati lembutnya pasir.
“dinda… jangan kau sakiti hati ini dengan kepergian tanpaku. Kaulah
peri yang mewarnai hidupku, jika kau tau semenjak tak sengajaanku menatapmu, mulailah ku mengadu pada Robb tentang parasanku. Aku mencintaimu dinda, dinda Maria yang sholikhah, yang berhati mulia. Mentapku dan tersenyum memperlihatkan lesung pipnya. Janan kau lepas genggaman ni dinda… ku mohon! “ . pintanya tulus.
“ tak pernah ku lepas genggaman tulas ini dariku, karena sentuhan lembutmu menjaga jiwa ragaku kanda! Andalah yang menguasai ruang hatiku”. Ku sandarkan bahuku di pundak suamiku, dengan melangkah bergandengan beriringan.
Segerombolan burung camar melayang di atas kepala dengan riangnya menari-nari dengan sayapnya.
“kaulah penyejuk hatiku penenang jiwaku, pengantar tidurku, sentuhan yang tak menyakiti asmamu telah terukir di langit hatiku”.

0 komentar:
Posting Komentar
silahkan beri komentar postingan ini,oke?