Oleh : NN (santri mayak)
Langkah kecil ini menepis harapan tuk lalui likuan hidup, yang terurai lewat lantunan nada kasih. Mengalun selembut lagu syahdu mengalir seindah derai hujan, terpancar sehalus cahaya fajar, keindahan, kesempurnaan, dan keagungan kasih sayang Tuhan, tak kan bisa terungkapkan lisan dan tergambarkan af’al.
Angin senja di bulan Ramadhan mengalun lembut, membelai mesra seluruh isi dunia. Sinar matahari senja ciptakan kilau merah keemasan,bias-bias nya pun menembus celah-celah awan di ufuk barat, burung-burung kecil mulai beterbangan ka rumah nya masing-masing lengkapi keindahan dengan lantunan ayat suci Al quran yang mengalun syahdu teduhkan hati ”Fasubhanalladzi biyadihi malakutu kulli syaiin wa ilaihi turja’un”. Rupanya mas Cahyo membaca surat Yassin. Seperti yang diajarkan Umi, kami selalu belajar untuk tetap istiqomah nderes Yassin tiap pagi dan sore. Sebagai umat Islam, melaksanakan puasa Romadhon adalah kewajiban. Begitu juga dengan kami sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami duduk bersama di surau di depan rumah.
”Bening,ayo bantu Umi nak....!”panggil Umi dari dalam rumah. “Baik Umi ....!”Akupun segera beranjak dari tempat dudukku.”Bening, Mas minta dibuatkan jahe hangat ya..!”teriak Mas Cahyo iringi langkah cepatku.”Iya Mas...beres..!!!”jawabanku sambil berlari .
Sementara aku dan uma masih menyiapkan makanan untuk buka, Mas Cahyo masih dzikiran didalam surau. Sambil menata meja makan akupun asyik bercakap-cakap dengan Umi. ”Umi, boleh nggak Bening tanya sesuatu?” tanyaku denga nada ragu-ragu. “Apa itu nak?” respon Umi penasaran. Umipun mengerutkan keningnya. “Umi, apakah Umi yakin kalau Abi akan pulang untuk kita?” dengan pelan kuucapkan kalimat itu. Umi terdiam sejenak, Umi memandangku, kemudian Umi mengangguk seraya tersenyum kepadaku. ”Ya nak, Umi yakin Abi akan pulang. Meskipun Umi tak pernah tau kapan hari itu.” ucap Umi kemudian menghela nafas panjang. ”Umi masih sayang sama Abi?” sungguh sebuah pertanyaan yang polos dari gadis berumur 12 tahun sepertiku. Tiba-tiba Umi mendekatiku, diraihnya pundak kecilku, kemudian Umi mendekatkan kepalanya ke kepalaku, aku dipeluk erat olehnya. ”Iya anakku, Umi sayang sekali sama Abi, Umi akan tetap setia menunggu beliau pulang, bahkan sampai ajal menjemput Umi.” Mata Umi berbinar-binar, tetes-tetes bening hampir taerjatuh dari matanya, namun jari telunjk Umi segera mengusapnya. Akupun terbawa dalam suasana haru dan tak kuasa menahan air mata.
”Umi..... sudah adzan!” teriak Mas Cahyo sambil berlari ke dalam rumah. Umipun segera melepaskan pelukannya. Mas Cahyo keheranan melihat kami yang masih terisak. ”Ada apa ini?” tanya Mas Cahyo penasaran. ”Nggak... nggak ada apa-apa kok!” Eh, ayo-ayo segera dibatalkan puasanya.” ucap Umi seraya menyeka air mata. Kamipun segera berbuka, meskipun dengan lauk yang sederhana. Kemudian kami tunaikan sholat maghrib berjama’ah, Mas Cahyo sebagai imamnya. Usai sholat maghrib kamipun nderes Qur,an bersama-sama, sambil menunggu adzan sholat Isya’ aku membuka-buka kembali buku pelajaranku.
* * *
Andainya ada kata bahagia, mungkin hanya mereka yang membuka mata yang bisa merasakannya, bagi mereka yang masih saja buta, kiranya takkan pernah bisa menikmati indahnya karunia, ujian kasih sayang-Nya. Dengan kehidupan kecil ini, kami merambah, menapaki dan melewati jalan hidup yang berliku. Hanya keyakinan yang mampu kuatkan hati kami.
12 tahun sudah Umi betahan menghadapi badai kehidupan tanpa kehadiran Abi. Tragedi kebakaran rumah 12 tahun yang lalu itu, menyisakkan luka yang tak bisa diungkapkan oleh kata. Cahyo Agung Prawiro, kala itu umurnya masih 5 tahun, seorang anak yang masih polos, tak memahami arti kehidupan. Sampai saat ini kami tak mengetahui apa penyebab kebakaran rumah 12 tahun silam itu. Namun yang jelas, Abi meninggalkan kami setelah tragedi menyakitkan itu menimpa kami. Betapa tidak, dikala keadaan tak memungkinkan untuk tetap bertahan, Abi malah meninggalkan kami begitu saja.
Tetapi betapa mulia hati Umi beliau tak pernah menyimpan dendam kepada Abi, malah beliau selalu mengajari kamiuntuk tetap sayang kepada Abi, untuk tetap mendo’akan Abi dan untuk tetap ta’dhim kepada Abi. Beda dengan Mas Cahyo yang masih saja bersikeras dengan pendiriannya, Mas Cahyo tak pernah merasa punya Abi, ia begitu dendan kepada Abi, hingga saat ini Mas Cahyo tak pernah mengakui bahwa “Prayoga” adalah Abinya.
* * *
Siang ini begitu panas, rasa dahaga begitu mencekik tenggorokan. Udara sangat panas, rasanya aku ingin membatalkan puasaku saja, “Eh, ini namanya bisikan setan!” gumamku dalam hati. Dari kejauhan kulihat Umi berjalan pelan, beliau nampak kelelahan, segera kuhampiri beliau dan kusapa,” Umi, sini..... Bening bantu”, ucapku seraya mengulurkan tangan. ”Terimakasih nak...” Umipun tersenyum seraya menyodorkan bakul kepadaku. Setelah itupun kami duduk bersama di teras rumah.
”Ning... alhamdulillah hari ini jualannya lancar, sayurannya bisa terjual semua.” ucap Umi begitu lega. ”Benar Umi? Wah Bening senang mendengarnya. Coba setiap hari begini, pasti uang Umi tambah banyak, kalau uang Umi tambah banyakkan bisa nyekolahin Bening di pesantren.” dengan lugunya aku mengucapkan kata-kata itu. Umi terdiam, beliau memandangiku dengan mata berkaca-kaca. ”Mas Yoga... aku rindu sama kamu. Mungkinkah kau rindu padaku?” ucap Umi lirih. Tetes-tetes bening mulai mencair dari mata Umi. Baru kali ini ku mendengar Umi merintih seperti ini, Umi nampak resah, bimbang dan lelah. “Umi... kenapa Umi bicara seperti itu?” tanyaku sambil menyeka air mata yang menganak sungai di mata Umi. “Mas, tidakkah kau ingin melihat putrimu yang cantik ini. Lihatlah ia begitu cerdas.” Ucap Umi seraya mengelus pipi kecilku. Aku tak kuasa menahan tangis, rupanya Umi benar-benar rindu pada Abi. 12 tahun sudah Umi bertahan tanpa kehadiran Abi. Dengan seribu kekuatan kecil Umi menjalaninya tanpa mengeluh dan mengaduh. Kamipun terhanyut dalam suasana haru, derai air mata ini sebagai saksi, bahwasanya kami benar-benar rindu pada abi.12 tahun sudah sudah Umi bertahan tanpa kehadiran Abi.Dengan seribu kekuatan kecil Umi menjalanya tanpa mengeluh dan mengaduh.kamipun terhanyut dalam suasana haru,derai air mata ini sebagai saksi ,bahwasanya kami benar-benar merindukan abi .selang beberapa menit kemudian mas Cahyo pulang ,suara dencitan rem sepedanya sangat hafali.
”Asssalamu’alaikum .!”teriak mas Cahyo dari depan rumahnya .”Wa’alaikumsalam”jawab Umi lirih seraya menyeka air mata.”Ada apa lagi ini?”tanya mas Cahyo ketus.”Enggak ...Enggak ada apa-apa kok Nak..!”jawab umi coba menutupi.
”Ah ....Umi bohong ,Pasti abi lagi! Kenapaorang itu tak penah bisa lenyap dari hati umi,laki-laki tak bertanggungjawab seperti itu tak pantas untuk dita’dhimi !”Ucap mas cahyo dengan nada meninggi.”Cahyo .....! kamu tidak boleh bicara seperti itu!”bela umi.”Prayoga ...laki-laki tak punya hati.bisa-bisanya ia menelantarkan kita seperti ini.” Kembali mas cahyo mencaci Abi,tangis umi semakin menjadi.tingginya suhu matahari menambahkan panasnya suasana,mas cahyo sedang kekelahan ,kiranya ia tidak bisa mengendalikan emosi.sedang Umi,aku tak tahu mengapa Umi begitu menunjukan rasa rindunya pada Abi.aku tak tahu sampai kapan rasa dendam mas cahyo akan terus mengakar dihatinya.Meskipun aku tahu Abi memang salah ,karena beliau telah meninggalkan kami.namun aku tetap merasa sayang pada Abi,Seperti Umi yang selalu setia menyanyangi Abi.
* * *
Ada hati yang dirundung duka,ada rasa yang tak bisa di ungkapkan kata ,Sejuta makna bahagia ,akan tersimpul dalam satu bahasa.Bahasa hati yang hanya dimiliki oleh mereka yang mau membuka mata.tanpa terasa ramadhan tinggal 4 hari lagi.Hiruk pikuk persiapan hari raya Mulai kurasakan mereka yang bekerja diluar kota,mulai beramai-ramai mudik kekampung tercinta. Sedangkan mereka yang di desa sibuk membersihkan rumah dan lingkungan mereka masing-masing.
Bulan sabit tersenyum tipis disebelah timur ,angin malam begitu dingin menusuk tulang belulang.Suara jangkrik begitu ramai memeriahkan malam .Gesekan dedaunan terdengar gemersik di telinga .Aku masih duduk menghadap kiblat,sajadah terkembang ,mukena putih masih melekat di tubuhku.Malam itu begitu tenang,aku benar-benar menikmati Qiyamul lail kali ini.malam 27 ramadhan yang dinanti.tak jauh beda dengan Umi dan mas Cahyo,merekapun tampak menikmati indahm\nya bersua dengan Illahi Robbi,kami terus berdo’a,memohon dan meminta,agar kami diberikan pertolongan,petunjuk dan ampunan oleh-Nya.
Usai tunaikan qiyamul Lail,tiba-tiba Umi mennghampiriku.”Ning .........empat hari lagi,bening nngak pengen seperti teman-teman yang lain ?”pertanyaan Umi sangat membingungkan.”maksud Umi apa?” tanyaku penasaran.”bening Nggak pengen baju baruatau mukena baru,atau mungkin sandal baru ?”ucap umi membuatku tersenyum simpul.”Umi,bening tidak menginginkan semua itu,Bening Cuma pengen satu hal dan itu yang menjadi do’a bening setiap hari...........”jawabku membuat umi semakin heran.”Bolehkah umi tahu hal itu ?”kembali Umi bertanya.”Umi,sekarang dengarkan Do’a Bening ya......nanti umi yang mengamini.”akupun menengadahkan kedua tangan ,Umi mengangguk sambil tersenyum.
“Ya Robbi.......malam ini Bening memohon sesuatu.Disaat lebaran nanti bening mohon kumpulkanlah kami berempat dirumah ini.Bening,mas cahyo,Umi dan .........Abi.Bening ingin merasakan indahnya kebersamaan Ya Allah ....”ucapku begitu polos.seketika itu Umi langsung memelukku,dengan mantap umi mengucapkan “Amien Ya Allah .......!”
* * *
Hari demi hyari terlewati,tanpa terasa 30 hari berlalu begitu saja .hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.inilah hari kemenangan,hari kemuliaan,dan hari penuh kebahagiaan.suara takbir menggema di setiap sudut mata,menyeruak diseluruh penjuru dunia.inilah puncak kebahagiaan dan kemenangan umat islam.tiada yang bisa gantikan kemegahan malam kemenagan.
“Yo.........Cahyo......Cahyo..!!”teriak pak sardi dari depan surau.mas cahyopun segera keluar dari surau dan menghampiri pak sardi.”Ada apa pak ,sepertinya ada sesuatu yang penting ?”tanya mas Cahyo Keheranan”Yo.......aku tadi melihat bapak mu di warung pinggir jalan,dia bawa tas,tapi rambut sudah berubah.”ucap pak sardi tergopoh-gopoh.”Ah ..Tidak,aku sudah tidak punya bapak.dia sudah mati.dia bukan abiku pak !”.jawab mas chyo sambil marah marah “Yo.....bapak nngak bercanda,aku sangat yakin kalau dia benar-benar prayoga.”tukas pak sardi meyakinkan.”Enggak,aku nngak percaya abi sudah mati 12 tahun yang lalu.aku nggak pernah punya abi....!”jawab mas cahyo ketus.
“Yo.......bapak Cuma kasih tahu,kalau kamu nggak percaya ya sudah tapi pesan bapak,jangan lupa kasih tahu ratih,umi mu pasti menunggu kabar ini.”tambar pak sardi sambil berjalan meninggalkan mas cahyo.mas Cahyopun segera kembali kedalam surau.
Sementara aku dan umi,masih sibuk dalam rumah mempersiapakan makanan keciluntuk hari lebaran ,Umi nampak gundah dan gelisah.”Ning ..perasaan umi kok nggak enak ya...?”tanya umi seraya mengelus dada.”Ada apa Umi..?”tanyaku penasaran.”Ning....Umi pengen melihat keluar !”umipun meninggalkan pekerjaannya begitu saja.aku mengekor dibelekang umi,perlahan umi membuka pintu rumah .langkahnya terus maju pelan kedepan surau.tanpa sdengaja kami mendapati mas Cahyo sedang marah –marah pada seorang laki-laki tua.”pergi kau dari sini,aku tak mau melihat wajahmu.berani-beraninya kau menginjakkan kaki disini!” suara mas cahyo begiyu keras dan tinggi.laki-laki itu hanya terdiam,dia seakan tak berdaya di hadapan mas cahyo.Sedangkan Umi demakin mendekat dan mendekat.akupun terus mengikuti umi.”Astaghfirullah.....mas Yoga ! benarkah itu kau ?” ucap Umi terkejut.”Ratih..... ini aku suamimu!” Laki-laki tua itu hendak mendekati Umi, tapi langkahnya dihalangi oleh mas cahyo. “Hai.... masih berani kau bilang suaminya, setelah 12 tahun kau meninggalkan kami... Pergi kau...! Pergi.... Jangan dekati Umi!” Bentak mas Cahyo pada laki-laki itu. ”Yo... bicara apa kamu ini! Pernahkah Umi mengajarimu seperti itu” sahut Umi.
”Abi... benarkah itu Abi..?” rasa hatiku tak bisa kuungkapkan. Rasa sedih, takut, kecewa dan bahagia berkecamuk menjadi satu. ”Mas... ini Bening putri kita, lihatlah mas dia sudah besar, dia selalu menanyakanmu mas...!” Umipun menggandengku sambil terisak. Tangan Umi masih merangkul pundak kecilu, aku terus memandang Abi, rasanya aku segera memeluk Abi. Namun hati kecilku merasa takut. ”Ratih, maafkan aku, aku memang laki-laki yang tak bertanggungjawab. Aku ini pengecut, aku tak berani menghadapi kenyataan hidup. Aku memang pantas mengdapatkan cacian ini. Ratih, Bening, Cahyo..... maafkan Abi, malam ini aku datang hanya untuk memohon maaf pada kalian semua, aku juga ingin mengucapkan selamat Hari Raya. Sekali lagi maafkan aku Ratih!” Abi mulai beranjak pergi, langkah kecil melaju pelan meninggalkan kami. Umi terus berteriak memanggil Abi, namun langkah Abi tak juga terhenti.
”Cahyo... durhaka kamu! Dia itu Abimu....! Istighfar Yo... istighfar. Malam ini malam penuh ampunan. Alloh saja Maha Pemaaf Yo....! Apa kamu tidak malu dengan sikapmu itu? Sekarang kejar dia Yo... mintalah ampun padanya!” gertak Umi pada mas Cahyo. Mas Cahyo masih tertunduk, iapun bersimpuh sambil mengucaapkan istighfar. “Cahyo... kejar dia nak. Bawa Abimu kembali ke sini, ayo... Yo kejar dia. Kamu belum terlambat Yo!” ucap Umi semakin lemah. Umi turut bersimpuh disamping mas Cahyo. Aku dan Umi hanya bisa menangis dan menangis. Kiranya rindu pada Abi tak bisa terobati hanya dengan menatap wajahnya sesingkat ini.
Akhirnya mas Cahyopun berlari mengejar Abi, ia terus berteriak memanggil Abi. Mas Cahyo bersimpuh di depan Abi, ia menangis dan memohon ampunan pada Abi. Mas Cahyo pun menyadari kekhilafan dan kedendamannya selama ini. Akhirnya hati Mas Cahyo terbuka juga. Di malam penuh kemulyaan ini kami hanya bisa mengucapkan syukur yang sebesar-besarnya. Sungguh sebuah kenikmatan yang tiada tandingannya.
“Ya Rabb... terima kasih, Kau telah mengabulkan permintaanku. Dan ini adalah hadiah lebaran terbesar bagiku, sekali lagi terima kasih ya Alloh!”
Puji syukur atas limpahan Rahmat, Hidayah dan kasih sayang hanya pantas tertuju pada Alloh Yng Maha Menguasai alam semesta. Dialah dzat yang memiliki langit dan seisinya. Keagungan, kesempurnaan dan keindahan adalah hak dari Alloh SWT. Tiada dzat yang mampu tandingi kebesaran dan kekuasaan-Nya. Dialah Alloh ’azza wa jalla, yang Maha Melihat dan Mendengar setiap do’a dan permohonan hamba-hamba yang mau meminta kepada-Nya.

0 komentar:
Posting Komentar
silahkan beri komentar postingan ini,oke?