Oleh : NN (santri mayak)
Crek… crek… crek…
Ibu-ibu, bapak-bapak…
Siapa yang punya anak
Bilang aku, aku yang tengah malu…
Sama teman-temanku
Karena diriku
Yang tak laku-laku…
…….
Pengumuman-pengumuman
Siapa yang mau bantu, tolong aku
Tolong carikan diriku
Kekasih hatiku, siapa yang mau…
Oh…. Oh….
Nada sumbang itu sungguh ringan sekali keluar dari mulut anak kecil berbaju lusuh yang memegang kecrek bekas tutup botol sprite. Sementara di sini, sebisa mungkin kusumbat telingaku yang mulai terasa panas dan berdenyut-denyut, aku benar-benar tak tahan mendegar lirik lagu yang dipopulerkan oleh salah satu grup band ternama asal tanah air itu. Lagu yang semula diniatkan tuk menghiburku bukan membuatku bahagia tapi malah terasaseperti tikaman-tikaman dahsyat yang menusuk-nusuk ulu hatiku hingga menyumbat aliran darahku dan mengganggu proses pertukaran O2 dan CO2 dalam system respirasiku. Karena syair itu begitu pas dengan keadaanku sekarang. Ya…. Si gadis lajang yang tak laku-laku. Sebab di usiaku yang lebih dari ¼ abad ini belum juga kutemukan seseorang yang pas di hati, seperti sahabat-sahabatku yang satu persatu telah dipersunting pangeran mereka masing-masing. Oh… kapan dating masa itu padaku…???
Lajun Sumber Kencono yang biasa meninabobokkanku kea lam nirwana, tidak berlaku untuk saat ini karena suasana hatiku ang kacau telah mempengaruhi semua organ dalam tubuhku. Kaca bus berkelambu biru yang biasa kusandari dagu untuk menikmati indahnya panorama di alam lepas kini ikut membisu seakan toleran pada gundah gulanaku. Telah berkali-kali kucoba pejamkan mata namun semua tetaplah sia-sia meski kelopak mata telah mampu sembunyikan bola mata, isi batok kepala tetap berontakdan bersikeras tuk muntahkan segala isi yang dikandungnya. Pikiranku melayang jauh tak karuan hingga terbang melasat kembali ke masa dimana roda waktu belum sampai yang kualami saat ini, tepatnya entah 3 jam atau 4 jam lalu sewaktu kuterima telepon dari bapakku.
“Kring…kring….kring…”
Secepat kilat kusambet gagang pesawat hasil temuan ilmuan ternama “Graham Bel” beberapa waktu silam.
“Hallo…. Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam… nduk, ini bapak, hari ini bias apa ndak diusahakan pulang?” suara bapak dengan penuh harap.
“Injih, Insya Allah… Lha wonten nopo to pak?” jawabku dengan nada sedikit cemas.
“ Kamu masih ingat Pak Kyai Syamsul? Kemarin beliau menanyakan awakmudan ingin menemuimu. Pulang saja, nanti Bapak jelaskan di rumah, wis yo… Assalam’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam…”
Dengan tubuh lunglai kuletakkan gagang telepon. Akupun segera menuju kasur berseprei spiderman kesayanganku. Kurebahkan tubuh yang tersa penat. Sambil kuseka butiran-butiran hangat yang jatuh di kedua pipi tembemku.
Aku bisa dengan mudah menangkap maksud bapak, pasti tak lain dan tak bukan ingin menjodohkanku. Tapia pa hubungannya dengan Kyai Syamsul? Apakah beliau ingin meminangku? Jika tidak, kenapa beliau menanyakanku? Jika seandainya bukan untuk dirinya sendiri, lalu untuk siapa? Bukankah beliau tidak punya putra laki-laki, dan beliau dikenal sebagai orang yang suka kawin. Jika iya, oh……… Kuatkan hambaMu ini ya Allah…..haruskah hamba jadi istri ketiga seorang Kyai…. Ya Allah apakah ini akhir dari penulusuran mencari pemilik tulang rusuk ini? Inikah jawabannya? Adilkah ini! Hamba hanya wanita biasa, ingin seperti yang lainnya. Jodoh….jodoh…..Kenapa begitu berliku jalan yang harus ku tapaki? Kenapa begitu suliy engkau dating padaku? Apa salahku? Apa karena keputusanku dulu, tuk mengambil magister setelah kegagala-kegagalan dalam ta’aruf-ta’arufku dulu? Bukankah aku juga sudah ikhtiar, kenapa ta’aruf yang ku jalani selalu gagal dan selalu menorehkan luka?
Aku masih ingat dulu ketikaku masih 23 tahun, ku jalani ta’aruf berkali-kali tapi hasilnya selalu gagal.
Ta’aruf pertama dengan seorang ikhwan bermula dengan surat kaleng di keranjang sepedaku, awalnya tak ku hiraukan, ku pikkir cuma iseng, namun setelah beberapa bulan ia pun mengirim surat lagi yang di alamatkan pak satpam di kampusku. Aku jadi penasaran, akhirnya ku telusuru dia. Walhasil setelah semua data tentang dia ku peroleh, aku putuskan tuk mengakhiri hal konyol ini karena usiaku terpaut 2 tahun di atasnya. Oh….. akankah aku berumah tangga dengan pemuda seleting dengan adikku? Oh tidak!!! Masak dapat brownies???
Ta’aruf kedua dengan guru kursusku berakhir sama dengan yang pertama, hanya saja bedanya bukan usia namun jarak yang teramat jauh dan perbedaan suku bangsa yang tak bias ditolerir kedua orangtua.
Ta’aruf ketiga dengan seorang sarjana dari universitas ternama, kaya, berpendidikan, namun perbedaan idealis yang membuat kami harus mengakhirnya.
Ta’aruf keempat dengan pemuda tampan, solih, pilihan pamanku, namun berakhir tragis karena ia meninggal dalam kecelakaan sewaktu menuju ke rumahku untuk meminangku.
Huh… harus ku jalani ta’aruf berapa kali agar ku dapatkan penjaga hati ini???
Pasrah…itulah yang ku lakukan sekarang,entah ini pasrah/putus asa, tapim aku telah bertekad dengan siapapun asal bapak ibu ridho aku mau….
Cieeet…!!!
Rem mendadak secara spontan mengembalikan kesadaranku dari lamunan panjang yang tak berujung itu, tak terasa hamper 2 jam aku terbuai mimpi di alam lamunan. Ketika kusibak kelambu biru, terminal kotakupun telah mulai terlihat, tanda hamper sampai tujuan.
“Terminal… terminal… terminal ndak masuk… terminal ndak masuk…!!!” teriak kenek bis Sumber meminta para penumpang untuk segera turun.
Rumahku lumayan jauh dari terminal, namun hanya bias ditempuh dengan berjalan kaki, sebab gang-gang tempat ini tak bias dilewati kendaraan.
Siang ini pukul 12.00 tepat, Sang surya bertahta dengan angkuh dan sombongnya di atas sana.
“Ugh… dasar tak mampu toleran sedikitpun padaku yang berjalan gontai berlimpah peluh!!!” gerutuku dalam hati.
Dengan sedikit nggrundel kulewati gang sempit setapak demi setapak hingga akhirnya 15 menitpu berlalu dan sampailah aku di depan pelatara rumahku. Bunga mawar diujung got bermekaran dengaqn begitu empurna tampak elok dipandang mata sebagai obat kepenatan kalbukun siang ini.
Segera kuketuk pintu, bapak ibupun menyambut dengan gembira dan rasa lega karennna aku memenuhi permintaan beliau untuk pulang.
Malam ini bapak dan ibu serta kedua saudaraku telah berkumpul di ruang tengah, ,mereka semua seakan segan tuk menyampaikan berita ini. Ayah cukup hawatir dengan keputusan yang akan kuberikan nanti. Takut tak sesuai dengan harapan mereka. Bapakpun memulai pembicaraan menembus kebekuan malam ini.
“Nduk… bapak yakin kamu paham maksud bapak di telepon kemarin, menurutmu bagaimana, apakah kamu sudah siap untuk berumahtangga?”
“Deg!!!” dadaku berdetak kencang, dengan wajah yang semakin terlihat tidak terkontrol dan tertunduk, akupun mengangguk.
“Iya bapak… asal bapak dan ibu ridlo, sayapun demikian…”
“Yang akan menjalani bukan bapak dan ibu nduk, tapi kamu sendiri, jadi keputusan ini ada di tanganmu, jangan karena terpaksa.”
Tak terasa air mata berlinang membasahi kedua pipiku, ku semakin tertunduk dan kujatuhkan kepalaku di pangkuan ibuku.
Ya allah… inikah akhir semua ini? Aku tak mungkin mengecewakan kedua orang tuaku untuk kesekian kali. Aku tahu mereka pasti tak tahan dengan ejekan para tetangga mengenai statusku selama ini, “perawan tua”. Mulai hari ini ingin kuakhiri penderitaan mereka.
“Iya… saya mantab.” Kucoba angkat kepala dan berusaha tegar.
“Alhamdulillah…”
Hari itupun tiba…
Setelah beberapa hari kusiapkan dan kumantabkan hati ini, menerima pinangan seorang Kyai untuk menjadi istri ketiga. Tapi demi orang tua, korban nyawapun tak masalah, itulah yang ada dalam pikiranku saat ini.
Dengan wajah tertunduk ku duduk di samping kedua orang tuaku. Di depan kami ada Pak Kyai bersama dengan seorang pemuda yang hanya dibatasi oleh meja kaca. Entah seperti apa wajah kedua tamu itu, aku sudah tak sempat melihatnya karena pikiranku yang sangat tak menentu saat itu, hanya pasrah, pasrah, dan pasrah yang kulakukan.
Pak Kyaipun mulai mengutarakan maksudnya.
“Maaf dek Syifa Nur Anggraini, tentunya adek sudah faham dengan maksud kedatangan kami ke sini, karena bapak adek sudah menyampaikannya, saya hanya ingin mendengar langsung jawaban dari adek.” Suara itu begitu berwibawa, namun semakin menambah kekalutan dalam hatiku.
“sekali lagi, sudikah kiranya adek saya persunting … jadi menantu, untuk keponakan saya, Muhammad Ramadlan?”
“Deg!!!” menantu??? Spontan kuangkat wajahku yang sedari tadi tertunduktak berdaya. Jadi selama ini aku salah sangka?? Tanpa sengaja ku beradu pandang dengan pemuda di samping Pak Kyai.
“Rama???!!!” spontan nama itu keluar dari mulutku. Setelah hamper tujuh tahun tak tersebut lagi semenjak lulus dari SMA dulu. Dia adalah cinta pertamaku, dia yang membuat aku berubah, dia orang yang mengenalkanku pada agama, jilbab, bahkan yang mendorongku untuk belajar kepesantren setelah lulus sekolah dulu.
Aku tak menyangka mendapatkan orang yang sangat aku cintai, meski dulu mimpi tuk memilikinyapun aku tak berani, namun kini dia berada di depan mataku dan malah memintaku untuk menjadi bidadarinya.
Ya Allah…. Misterimu begitu indah……..

0 komentar:
Posting Komentar
silahkan beri komentar postingan ini,oke?