Pages

DOA HENING DALAM KILAU BENING

Oleh : NN (santri Mayak)

Cuaca renyai senja, matahari begitu sepi, langit begitu renta, mega merah mulai memperlihatkan keelokannya, tapi tak disangka mendung mendadak petang, petir mulai menyambar kemana-mana, hembusan angin begitu kuat hingga bias menumbagkan sebagian pohon di belakang rumahku. Aku takut sekali, ayah dan ibuku masih bekerja mencari nafkah, aku di rumah sendiri. Di dunia ini tak ada yang saying padaku kecuali kedua orangtuaku, bibi Tina yang selalu memanjakan aku, dan temanku yang rumahnya lumayan jauh dari tempat tinggalku.
            Namaku Lia, usiaku 17 tahun, pekerjaan orang tuaku adalah pedagang asongan, aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Semasa kecilku aku sering diajak bibi ke salon. Mall, dan tempat-tempat yang begitu asing di desaku. Bahkan aku pernah diajak ke tempat yang begitu sepi, di sana bibiku ditemani oleh orang yang tak kukenal, bahkan aku tak pernah melihatnya, badannya begitu besar, aku sangat takut. Waktu itu dia mendekatiku dan menyapaku, akupun membalasnya dengan senyuman dan anggukan.
            “Hai adik manis… mamanya mana?” tanyanya dengan manis.
            “Aku diajak bibiku ke sini.” Jawabkudengan rasa takut.
            “O…. bibi Tina yang baru masuk tadi?”
            “Iya…” jawabku lembut
“Ya sudah, adik tunggu di sini, Om sama Bibimu nggak lama kok di dalam.”
“Iya Om…”
Entah apa yang bibi dan om tadi bicarakan , yang jelas aku disuruh menunggu di luar rumah, kata bibi rumah itu berbahaya bagi anak kecil sepertiku.
Rasanya sudah lama sekali aku menunggu bibiku, aku ingin pulang tapi aku takut dimarahi bibiku, jadi aku putuskan untuk tetap menemani bibi sambil bermain ayun-ayunan di depan rumah. Sesekali aku mengejar kupu-kupuyang sangat indah. Rasanya aku mulai tenggelam dalam kegembiraan ini, di tengah asyiknya ermain dengan kupu-kupu, tiba-tiba da suara yang memanggil dan memecah kegembiraanku. Suara itu adalah suara bibiku yang keluar dari rumah mungil itu.
            “Bibi sudah selesai?” tanyaku
            “O…. sudah Lia, ayo kita pulang.”
            “Lho… om yang tadi mana Bi?” tanyaku penasaran.
            “Om nggak mau pulang, katanya mau di sini saja. Sudah, kita pulang saja… nanti kita ke mall beli boneka baru dan baju baru untuk Lia, Lia mau nggak??”
            “Ya mau dong Bi, soalknya Lia kan ingin sekali boneka yang lucu.” Sahut Lia dengan wajah yang menggemaskan. Lia sudah lama tidak dibelikan baju dan boneka oleh orang tuanya, padahal cicilan orang tua Lia masih cukup untuk membelikan Lia baju baru, entah apa dibalik semua ini. Kenapa justru Bibi Tina yang  memanjakan Lia. Setiap kali Bibi Tina mendapatkan rezeki pasti Lia akan dibelikan sesuatu, bahkan kadang-kadang apapun yang Lia minta pasti Bibi Tina memberinya.
            Siang, di sebuah mall terkemuka….
            Siang itu Lia dan Bibi Tina langsung beranjak ke mall, Lia sangat senang. Setelah sampai di mall Lia langsung menarik tangan bibinya untuk cepat sampai ke tempat yang Lia sukai, Lia memilih tempat boneka lucu.
            “Lia pilih yang mana bonekanya?”
            “Aduh Bi…. Lia bingung nih…. Abis bonekanya bagus semua, inginnya sih mallnya dibawa sekalian ke rumah Lia.”
            “Ah ngaco kamu Lia… ntar yang punya mall marah lho……”
            Di tengah kesibukan Lia dan Bibi Tina memilih boneka, tak disangka ada seorang lelaki agak tua mendekatinya. Laki-laki itu kaget karena siapa yang dilihatnya saat ini adalah anaknya sendiri tengah bersama bibinya. Entah kisah apa yang terselip dalam keluarga ini, Ayah Lia sangat benci jika melihat Lia bersama dengan bibinya. Dia sangat benci sekali pada Bibi Tina. Di tengah keramaian mall, Ayah Lia dan Bibi Tina bertengkar, mereka tidak menghiraukan semua pengunjung mall yang memperhatikan mereka.
            “Kenapa kamu ajak Lia ke sini??!!!” Tanya  Ayah Lia kasar.
            “Emangnya kenapa?!dia merasa senang kok sama saya, dari pada sama kamu! Apa kamu pernah membuat Lia senang?! Malah kamu hanya membuat Lia susah saja!” balas Bibi Tina dengan wajah kesal..
            “Itukan lebih baik, dari pada semasa kecil dimanjakan seperti ini!!”
            “Tapi Lia tidak pernah merasakan menjadi seperti anak-anak lain, bermain dengan sesuka hatinya. Kamu malah menyuruh membersihkan ini, membersihkan itu… iya kan Lia???”
            “Sudah Ayah…Bibi… Lia saying sama kalian semua.” Jawaban Lia begitu mapu menentramkan hati ayahnya. Lia anak yang lugu, dia berhati mulia.
            “Hampa hidupku tanpamu Lia, Kamu anak yang baik, hidup ini akan semakin indah dengan kehadiranmu, dan akan terasa lebih hidup olehmu.” Lamun ayahnya.
            “Lia, sekarang ayo kita pulang! Biarkan Bibimu di sini!!!” ajak ayahnya kemudian.
            “Tapi ayah…” belum selesai Lia berbicara, tangannya sudah ditarik oleh ayahnya.
            Sesampainya di rumah, Lia dimarahi oleh Ayahnya.
            “Maafkan Ayah,  Lia…. Ayah harus memarahimu seperti ini, ini demi kebaikanmu.” Gumam ayah Lia dalam hati.
            “Lia!! Kenapa tadi kamu mau diajak sama bibimu??!! Jangan sekali-kali kamu mau diajak bibimu lagi!!”
            “Ayah… Bibi Tina adalah orang yang baik sekali, apapun yang Bibi Tina punya, pasti Lia dikasih.”
            “Tapi ini demi kebaikanmu Lia!!”  geram Ayahnya.
            “Tapi Yah…. Sudahlah Yah… ayah jahat,” Lia pergi sambil menangis, dia masuk ke kamarnya. Hari ini Lia begitu sangat kecewa dengan ayahnya, kenapa ayah begitu benci dengan bibi, ada apa ini ya Allah……..!
            Mentari terus menyapa pagi dengan cerahnya, bintang gemerlap dengan malamnya, senja dengan keelokan meganya, belaian kasih angin begitu mesra tak terasa kini Lia tumbuh dewasa, parasnya sangat cantik sekali banyak laki-laki yang mengidolakannya. Ayah dan ibu Lia begitu mendambakannya.
            Suatau ketika Lia pamit untuk berkunjung ke rumah temannya yang lama tak pernah ia kunjungi.
            “Ayah… Ibu … Lia boleh nggak ke rumah teman, Lia kan sudah lama nggak ke sana?” Tanya Lia dengan nada memelas.
            “ Boleh tapi jangan lama-lama, cepetan pulang ya?”
            “ Beres… Bu” sambil berlalu pergi.
            Dengan sepedanya, dia mengayuh sepedanya dengan cepat, dia rindu dengan temannya, tak di sangka Lia bertemu dengan Bibi Tina. Bibi Tina sangat kaget melihatnya, dia ingin memiliki seutuhnya gadis itu, tapi anehnya Bibi tak menyapa Lia sama sekali. Bibi Tina langsung pergi entah ke mana.
“ Mungkin bibi sedang sibuk, jadi dia tidak sempat menyapaku,” gumamku dalam hati. Lia meneruskan perjalanannya, sementara Bibi Tina pergi ke rumah ayahnya Lia.
Peristiwa di rumah itu ………………
            Aku sangat terkejut ketika ku dapati motor milik Bibi Tina sedang parker di depan rumahku. Tumben Bibi mau singgah ke rumahku, biasanya kalau akau ajak amampir dia selalu menolaknya, tak sengaja aku mendengar perdebatan bibi dan ayah.
“Nggak usah basa-basi, sekarang mana Lia, akau ingin mengambilnya dari kamu,” bentak BibiTina kepada ayah Lia dengan nada yang marah.
“Enak saja kamu! Setelah Lia besar, dewasa kamu ingin memilikinya kembali? Mau jadi apa Lia nanti, jangan-jangan kau jual, terus kau jadikan pelacur seperti kamu.”
“ Jaga ya mulut kamu, ini hak saya kok, Lia kan anak saya, kalau ibu menginginkan anak kandungnya kembali ya wajar dong.”
            Ya Allah, serasa ada beban berat jatuh di kepalaku, tubuh ini bagaikan kehilangan cairan darah, hidup ini sudah tidak ada artinya lagi bagiku, kelabunya langit mendung, sore ini menutup lorong hati yang tersakiti, hembusan angin mengiris pesona kedamaian, mengapa aku harus mendengar itu semua dan mengapa bukan orang tua kandungku yang membesarkan aku, dan mengapa justru Bibi Tina yang menjadi ibuku yang tak lain hanyalah seorang pelacur? Tak terasa butiran-butiran air mata membsahi pipiku, aku pergi meningggalkan mereka, aku ingin sendiri, tai bibi mendengan jejk kakiku.
“ Lia… Lia sayang jangan pergi, pasti Lia sangat kecewa dengan sikap Bibi.” Lia tak menghiraukan celotehan bibinya, yang jelas saat inim Lia belum bias memanggil bibinya dengan panggilan “ MAMA “. Ungkapan itu tak bias cair dan terus membeku dan membeku.
            Senja mulai menyapa, Lia berniat singgah ke rumah tetangganya. Adzan maghrib telah berkumandang. Lia segera mengambil air wudhu dan bermunajat kepadaNya.
Ya Allah, jika aku boleh membenci
Biarkanlah aku menghidupkan api tu terangi nurani
 LiaYang terpenjara dalam kisi
Ya Allah …
Jika boleh ku tuangkan
Ingin ku buat separagraf karangan
Kisah sepenggal pahitnya kehidupan
            Sementara bibi terus mencari Lia, bibi paling tahu kalau saat-saat begini Lia perginya kemana. Bibi terus mengejarnya sampai ke rumah itu.
Setelah sampai di rumah itu……
“Permisi…..” terdengar suara bibi dari luar. Aku berpesan kepada temanku untuk merahasiakan aku tengahberada di mana.
“ Maaf… Tante mau cari siapa?”
Saya tahu pasti sekarang Lia ada di sini, Tante mohon agar Liam au menemuiku, Tante sangat butuh Lia,” tangis Bibi Tina, sungguh dia sangat mengharapkan kehadiran Lia di sampingnya.
“Tapi tante, sekarang Lia tidak ada di sini, saya juga nggak tahu dia ada di mana.”
“Tolonglah saya nak, saya cuma Lia kembali”.
  Kasihan sekali tante ini, hingga bias membuat hatiku luluh, maafkan aku Lia, aku tidak bisa memegang janjimu.
“Ehm… Lia ada di sini kok Tante, silahkan masuk”.
“Terima kasih”.
“Lia maafkan aku, aku mempersilahkan bibimu masuk, sungguh kasihan sekali bibimu, dia benar-benar mengharapkanmu”.
“Tapi…”.
“Sudahlah ayo temui”.
            Berat sekali kaki ini untuk melangkah, sekarang aku akan bertemu dengan ibu kandungku, yang melahirkanku. Ya Allah… bukakanlah pintu hatiku untuk menerima ibuku sepenuhnya, bagaimanapun dia dalah ibuku. Kuatkanlah pintu hatiku Ya Robbb…. Semoga di sisa hidupku ini akan bahagia bersamanya, dan aku berharap ibuku bisa menjadiwanita yang sholihah. Berilah aku kemampuan untuk mengajaknya menuju ke jalanMu yang lurus.
“Ibu…,” panggil Lia dengan linangan air mata.
“Lia, maafkan ibu ya? Ini semua bukan kemauan Ibu”.
“ Kita mulai lagi hidup yang baru. Mengawali suatu langkah baru dengan yang lebih pasti. Menghapus masa-masa yang penuh kesuraman. Sekarang ibu maukan berhenti dari semua ini? Ada pekerjaan yang lebih baik dari itu, masih banyak pekerjaan lain yang mau menerima ibu”.
“ Lia sayang, Ibu mau kok berhenti, Ibu mau hidup tenang bersama kamu sayang”.
            Di bawah gemerlapnya malam dan kilaunya bintang, aku bersimpuh kembali di hadapanMu Ya Allah…..
            Ya Allah terima kasih Engkau telah menunjukkan siapa ibuku yang hakiki dan terima kasih Engkau telah mengetuk hati ibu untuk menuju ke jalanMu, sungguh Engkau Maha Pendengar lagi Maha Penyayang, semoga di kemudian hari akan menjadi lebih baik.

    0 komentar:

    Posting Komentar

    silahkan beri komentar postingan ini,oke?