Oleh : NN (santri mayak)
SIRGEMIDL… serapan Bahasa Arab dengan bebagai gubahan dan campuran logat Jawa yang berarti MISTERI. Memang bukan hal yang aneh, tapi akan terdengar memilukan jika orang tahu itu adalah nama pemberian Mbahku yang telah tertulis di akte kelahiranku sejak 20 tahun yang lalu.
Aku tak pernah menyalahkan orang tuaku yang telah melahirkan aku sebagai keturunan dukun santet. Ya… semua penduduk Desa Kayu Lambung ini kenal betul Mbah Projo, dukun santet paling ampuh dan dituakan yang kebetulan aku adalah cucu semata wayangnya.
Emi, begitulah kebanyakan orang memanggilku, dan tentu saja aku adalah cucu kesayangan dan kepercayaan Mbah Projo. Aku ingat betul, 13 Februari 1996, tepat hari ulang tahunku yang ketujuh. Di ruangan yang aromanya sangat akrab di hidungku, bau menyan dan asap dupa menyelusup di setiap sudut ruangan. Tubuh kecilku bersila tepat di depan sebuah meja sajen, berhadapan dengan Mbahku yang saat itu sangat aku cintai. Tak jelas kalimat apa yang berkali-kali diucapkannya tanpa henti, seirama dengan kedua tangan dan jemarinya yang digerak-gerakkan seakan mengikuti asap dupa.
Aku hanya memperhatikan setiap gerakan Mbah dengan polosku. Setelah sabar aku menunggu Mbahku selesai membaca mantra, dia memberiku semangkuk kecil air kembang.
“Minumlah Nduk… ini adalah kado ulang taun dari Mbah… dan setelah ini kamu tidak seperti teman-temanmu yang lain, tapi kamu adalah cucu Mbah Projo!!!”
Walaupun tak kumengerti maksud kata-kata berbelit-belit itu, kuikuti saja perintah Mbahku untuk meminum air pemberiannya. Seketika itu tubuhku menggigil kedinginan, jiwaku terasa melayang, samar kulihat Mbahku memeluk tubuhku yang limbung.
Keesokan harinya kudengar percakapan Mbah dan Ibuku.
“Kelak, Emi akan menggantikan aku… jika aku telah tiada!”
“ Tapi Bopo, Emi itu kan anak perempuan… apa tidak sebaiknya Bopo hentikan saja ilmu hitam ini? Saya takut akan terjadi apa-apa…” sanggah Ibu.
“Hussh!!! Ngomong apa kamu ini?! Bopo tidak akan membuang ilmu yang sudah lama Bopo tekuni!! Tidak ada salahnya perempuan menjadi dukun santet. Lagi pula Bopo lihat jiwa Emi itu sangat kuat. Sudah… kamu tidak perlu khawatir!!!”
Tak kudengar lagi sahutan Ibu, dan akupun hanya terdiam tak banyak mengerti.
Menjadi cucu seorang dukun santet membuat hidupku sangat tertekan. Sejak kecil tak ada seorangpun yang mau berteman denganku, mungkin mereka takut, risih, atau bahkan jijik padaku. Jangankan untuk bermain atau belajar bersama, keberadaanku di antara mereka saja sangat tidak diinginkan. Setiap kali aku ingin bergabung bersama mereka, selalu saja mereka menjauhiku. Bahkan tak jarang mereka menyerapahiku.
“ Hei… Emi keturunan hitam!! Kamu itu pantasnya bermain dengan arwah-arwah di kali Dohong sana !!”
Bahkan yang lebih menyakitkan, “ Jangan sekali-kali kamu dekati kami! Karena kami tidak mau jadi tumbal sia-sia gara-gara ilmu hitam kamu!”.
Tak pernah kukeluhkan semua itu kepada Ibu maupun Mbah, dan tentu saja aku tak bisa merasakan indahnya masa kecilku, tak pernah aku mencicipi indahnya bermain gatheng, betengan, dakon, dan banyak lagi yang aku tak tau namanya. Acap kali aku hanya bisa menahan keinginanku untuk ikut bermain dengan melihat teman-teman dari kejauhan, tentunya dengan bersembunyi, atau mereka akan melempariku dengan bebatuan dan sumpah serapah yang menyakitkan.
Kesedihanku semakin memuncak ketika aku menginjak kelas dua SMP, 20 September 2002 Mbah meninggal. Apa yang aku takutkan selama inipun terjadi, aku mulai bisa menafsirkan perkataan Mbah kepadaku dan kepada Ibu yang Mbah anggap sebagai kado ulang tahunku yang ke-tujuh dulu.
Kini semua orang meyakini bahwa aku mewarisi ilmu santet Mbahku. Aku dianggap membahayakan sehingga aku di keluarkan dari sekolah denga iringan sorak sorai murid-murid dan lemparan beberapa bundelan kertas beserta barang-barang keras lainnya.
Tuhan…. Apa salahku? Air mataku tak kusembunyikan dari mereka, tapi tak pula satupun dari mereka yang merasa iba.
Ibu hanya terdiam melihat kepulanganku dengan wajah sembab, mungkin sudah tau apa yang terjadi.
“Emi… mulai sekarang kamu harus belajar menerima kenyataan.” Kata Ibu kemudian, menahan langkahku untuk masuk ke dalam kamar, kutatap Ibu lekat.
“Ibu tidak perlu mengatakannya! Apa Ibu pikir selama ini Emi menyalahkan kenyataan? Emi juga tidak pernah menyalahkan Ibu, tapi Emi benci menjadi bagian dari keluarga Ibu! Emi benci menjadi keturunan dukun santet”
“Emi! Jaga mulut kamu! Kamu tau Mbahmu sangat menyayangimu, begitu juga kamu Nak…”
“Aku menyayanginya? Ibu bilang aku menyayangi seorang dukun santet? Ya… itu dulu boleh Ibu ucapkan. Tapi sekarang jangan pernah lagi Bu! Dulu aku memang sangat menyayanginya karena kepolosanku, dan Ibu tau…? Sekarang aku sangat menyesal!!” suaraku meninggi.
“Emi!!” Ibu membentakku.
“Sudah cukup aku memendam semuanya Bu! Sekarang Ibu harus tau, aku muak dengan semuanya Bu! Aku muak dengan rasa sakit. Muak… muak… muak… dan asal Ibu tau! Aku tidak akan pernah menjalankan titah Mbah Projo! Jangan pernah sekalipun Ibu mengharapkan itu!!!” suaraku semakin meninggi dan air mataku semakin mengarus.
Kugedor tembok rumahku yang terbuat dari triplek. Ibu terisak memegangi dadanya yang mungkin terasa sesak. Rasa bersalah sedikit merasukiku, kuhirup nafasku dalam, berharap kutemukan sebuah rasa lega, tapi gagal.
“Akh… “ teriakku, aku berlari meninggalkan Ibu yang masih terus menangis.
“Emi….” Tak kuhiraukan panggilan Ibu yang tersendat.
Setelah perdebatan itu, dua hari aku tidak kembali ke rumah, aku muak dengan semua kenyataan hidup yang begitu pahit dan menyakitkan, seakan tak pernah kurasakan manisnya madu barang sedikit saja.
Di dalam gubug di tepi sungai ini aku sendiri, leluasa melepas penat yang tak kunjung hilang. Ternyata dua hari meninggalkan Ibu membuatku semakin merasa tidak nyaman, kuputuskan untuk kembali ke rumah dengan ragu.
Betapa terkejutnya aku ketika kudapati beberapa orang berkerumun di depan rumahku, tentu saja ini adalah hal yang sangat langka karena penduduk desa ini mengucilkan keluarga kami. Ku beranikan diri bertanya kepada Bu Asri apa yang sedang terjadi, tapi tak ada jawaban darinya, dia menyuruhku langsung masuk ke dalam rumah.
Kurasakan degupan jantungku semakin mengencang, nafasku sesak, mataku terasa panas dan akhirnya meneteskan air hangat. Kubuka kain jarik yang menutupi sesosok tubuh kaku di atas dipan.
Wajah yang sangat aku kenal… Ibu…. Tidak… kini aku sebatangkara, ibu telah menyusul ayahku yang lebih dulu meninggalkan kami sejak sebelum aku terlahir…
Kukemas semua baju dan bukuku ke dalam koper, akan kutinggalkan semua perjalanan pahitku di rumah ini. Aku berhaparap menemukan kehidupan yang lebih layak setelah ini.
Kubaca berulang kali kertas pesan yang ditinggalkan Ibu, di dalamnya tertera alamat sebuah pesantren di pelosok kota Jogjakarta milik seorang Kyai bernama Abdul Hannan. Ibu juga berdoa agar aku berhasil menemukan jalan hidupku. Air mataku meleleh untuk kesekian kalinya. Ibu…
Aku baru ingat, di dalam kartu keluargaku tertera bahwa aku beragama Islam, tapi aku tak begitu mengenalnya. Aku tau, Ibu menyuruhku pergi ke pesantren ini agar aku bisa mengenal agamaku, islam….
Aku masih terlalu ingat kali pertama kedatanganku di pesantren, 18 Nopember 2002, setelah susah payah kucari alamat pesantren yang seperti tertera di pesan Ibu, akhirnya aku berhasil menemukannya. Sebuah pesantren di desa Segoro Kabupaten Jogjakarta yang ternyata bernama “Mambaun Najaa”.
Aku yang lemas tak berdaya oleh permainan kehidupan, tak banyak berharap dengan apa yang harus terjadi kemudian setelah kutinggalkan kampung halamanku.
Saat itu kukenakan jaket jeans panjang dan celana jeans sewarna tiga perempatan, kubiarkan rambut panjangku terurai ditiup angin. Kutarik koperku memasuki gerbang pesantren, kulangkahkan kakiku pasti, tak kuhiraukan tatapan asing setiap orang yang melihatku, yang kebanyakan mereka adalah laki-laki. Kuhentikan langkahku tepat di depan sebuah bangunan cukup besar yang kukenal bangunan itu adalah masjid, di tembok depannya terukir sebuah tulisan “Masjid Mambaul Hikmah”.
Suasana ini sangat asing bagiku, dari dalam masjid menggema alunan merdu, walaupun aku tak begitu mengerti, tapi aku yakin itu adalah alunan ayat Al-Qur’an, kitab suciku.
Aku bingung harus menuju ke mana. Di samping kiri masjid terdapat sebuah bangunan besar, banyak laki-laki bersarung hilir mudik di depannya. Dan di samping kanan
masjid terdapat tanah yang lumayan lapang, banyak kulit kambing dijemur di sana , sebagian banyak berupa bulatan putih yang kini kukenal benda itu bernama kompang atau rebana, di samping kanan tanah lapang itu ada sebuah rumah sederhana bercat hijau,
Belum puas aku mengamati tempat ini, seseorang menepuk bahuku dari belakang, sedikit kaget, ternyata seorang perempuan manis berjilbab abu-abu.
“Assalamu’alaikum….” Sapanya.
“Eh… iya… saya mencari rumah Kyai Abdul Hannan, bisa Bantu saya?” Perempuan yang kini akrab kupanggil Neng Sarah itu tersenyum arif padaku.
“Oh… mari saya antar. kebetulan beliau adalah Abah saya.”
Neng Sarah memegang tanganku menuju rumah Kyai. Tiba-tiba jiwaku merasa nyaman, ini adalah pertama kalinya tanganku digenggam seseorang sejak aku mengenal dunia, ini pula kali pertamaku bersanding dengan seseorang yang begitu ikhlas tersenyum padaku.
Di ruang tamu yang sangat sederhana, aku duduk di samping Neng Sarah, Kyai Hannan yang akrab dipanggil Abah duduk di depanku, dan di sampingnya Umi Hasanah, istri beliau. Panjang lebar kuutarakan maksud kedatanganku dan kuceritakan semua yang terjadi padaku, masa laluku, pesan Ibuku, dan tentu saja Mbahku.
Rasa nyaman semakin merasuk kalbuku, keluarga Abah yang hanya ada tiga orang menyambutku dengan hangat. Abah mendengar penuturanku dengan bijaksananya, bahkan Umi Hasanah dan Neng Sarah tak kuasa menahan air matanya, Neng Sarah memelukku dan berkata,
“Emi… tak ada suatu hal apapun yang membuatku menolak untuk menjadi saudaramu.”
“Walaupun Neng tau… Neng adalah orang pertama yang mengatakan itu…”. Aku tidak tau perkataanku merupakan pertanyaan ataukah pernyataan, yang jelas Neng Sarah mengangguk pasti. Air mataku meleleh, tak tau karena bahagia atau apa. Kulihat Abah dan Umi Hasanah tersenyum iba.
Waktu terasa sangat cepat berlalu, bagai ilalang terbang bebas di langit lepas. Tetes demi tetes ilmu agama kuserap, mulai makna Syahadat, tata cara sholat, keutamaan puasa Senin Kamis, dan dari Abahlah aku tau makna nama pemberian Mbahku.
Sirgemidl, berasal dari Bahasa Arab “Sirrun Ghoomidlun” yang bisa diartikan “suatu perkara yang samar” atau singkatnya “misteri”.
Aku tak pernah berfikir sekalipun selalu berharap jalan hidupku berubah secerah itu. Harapan selalu sirna tatkala bayangan hitam seringkali menghampiriku, aku tau bayangan itu adalah sosok Mbah yang memaksaku menjalankan titahnya atau kutukan akan ditimpakan padaku, dengan sedikit ilmu agama yang aku miliki aku sadar bahwa aku tidak boleh mempercayai kutukan, tapi walau begitu tetap saja rasa takut selalu menghantuiku.
Rasa percayaku pada kutukan semakin kuat ketika sebuah peristiwa tragis terjadi di depan mataku, sekitar satu setengah tahun setelah keberadaanku di pesantren. Tepatnya 3 April 2004, sejak tiga hari sebelum tanggal itu bayangan Mbah tak hentu-hentinya menghantui setiap mimpiku. Dan yang membuatku tak mengerti, dengan keras dan sadisnya Mbah nenabrak tubuh satu-satunya orang yang sangat dekat denganku, tak salah lagi, pemilik tubuh itu adalah Neng Sarah. Aku tak bisa menafsirkan mimpi-mimpi menakutkan itu.
Hingga peristiwa itupun terjadi, pagi hari saat kuhidangkan sepiring gorengan dan secangkir teh di meja Abah, tiba-tiba bayangan dalam mimpiku terulang kembali, bahkan tampak semakin nyata, jiwaku terasa berpindah ke dunia lain, melayang dan sangat memusingkan, aku kenal betul tempat di mana jiwaku berpindah, ya… di depan rumah Abah… Neng Sarah… dan tumpukan benda putih….
Aku tersentak seakan jiwaku telah kembali, denga degupan jantung yang sangat tidak setabil aku berlari ke depan rumah Abah, tapi nihil… tak seorangpun kudapati disana. Kuedarkan pandanganku, tapi yang ada hanyalah jejeran rebana yang tertata rapi.
“Ada apa Emi?” Tanya Abah tiba-tiba sedikit mengagetkanku, aku hanya menunduk takut.
“Tidak Abah.” Jawabku pelan, kulangkahkan kembali kakiku ke dalam rumah dengan lesu. dan tiba-tiba….
“AKH….!!” Suara jeritan seorang wanita bersamaan dengan gubrakan keras barang-barang yang tampaknya berat mengagetkan kami. Aku kembali berlari keluar rumah mengikuti Abah… dan… betapa hancurnya hati kami…
Sesosok tubuh telah tergeletak tak berdaya berlumuran darah di tengah-tengah bulatan kompang yang berserakan.
“Astaghfirulloh…!” jerit Abah sambil menghampiri sosok tak berdaya itu. Entah bagaimana kejadian itu bisa terjadi, tumpukan kompang yang tersusun meninggi di depan rumah Abah menimpa tubuh Neng Sarah. Dan bisa ditebak apa yang terjadi setelah itu.
“Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un…” derai air mata tak bisa terbendung dari setiap mata. Hatiku terasa kian sakit dan hancur, berulang kali kuucap istighfar tetap tak bisa membuatku berhenti mengutuk diri, ini semua salahku… aku membunuh orang yang begitu
baik padaku… aku membunuh saudaraku… Tidak!!! Bukan aku yang membunuhnya, tapi… kutukan itu…
Setelah peristiwa itu, kuputuskan untuk meninggalkan pesantren, alasannya cukup kuat bagiku, walaupun memang tidak logis bagi kebanyakan orang. Aku tidak mau lagi membuat orang lain terkena imbas yang tetap aku anggap sebagai kutukan ini. Dan aku tidak mau lagi melihat perkara yang membuatku semakin merasa sakit.
Akhirnya aku kembali lagi ke kampung halamanku di Banyu Wangi, tentu saja tanpa sepengetahuan warga dan tidak pula ke rumah peninggalan Ibu. Tapi di sini, di gubuk kecil kesayanganku di tepi sungai.
Alhamdulillah… walaupun tak banyak yang kudapat dari pesantren, setidaknya aku tetap bisa istiqomah puasa Senin Kamis dan tidak pernah bolong sholat lima waktu, seperti yang diamanatkan oleh Abah dan… Neng Sarah.
Hingga hari ini, 13 Februari 2009 usiaku genap 20 tahun, bayangan hitam Mbah masih selalu tak henti-hentinya menghantuiku, dan tak pernah pula kutemukan cara untuk menepisnya dari hidupku. Air sungai di hadapanku mengalir dengan derasnya, sederas air mata yang kesekian kalinya mengalir dari mataku.
Allah… setidaknya aku bisa bersyukur telah mengenal-Mu, dan bisa tetap bertahan untuk tidak mengikuti jejak Mbahku.
Aku lelah dengan semua ini, aku ingin segera berakhir, kupejamkan mataku perlahan.
“BYUR….!” Sesaat kemudian kurasakan arus deras sungai yang dingin menghantamkan tubuhku ke bebatuan. Perlahan semakin aku merasa redup… kemudian gelap….
Dan aku tidak bisa menarik kesimpulan, ini awal ataukah akhir perjalananku………

0 komentar:
Posting Komentar
silahkan beri komentar postingan ini,oke?